Selalu ada bagian yang ‘alot’, bahkan kadang-kadang sangat alot manakala kita memfasilitasi sesi-sesi gender, karena selalu berhadapan dengan mereka yang masih berkutat dengan pandangan bahwa yang namanya traditional gender roles-nya perempuan dan laki-laki itu adalah sebuah kodrat, haram untuk diotak-atik. Tapi justru itulah tantangan (dengan demikian, semakin alot semakin menantang!). Seperti halnya siang itu, 2 Desember 2008, dengan 11 orang (3 perempuan, 8 laki-laki) yang konon katanya community organizer dari bagian Community Development sebuah perusahaan (wow!). Mereka sedang berada di Jogja selama 14 hari untuk sebuah pelatihan. Dari 14 hari itu, 7 hari akan mereka lewatkan untuk live-in di sebuah komunitas, begitu katanya.
Tak ada waktu panjang untuk persiapan, karena panggilan fasilitasi kali ini adalah ‘emergency call’, menggantikan seorang kawan yang anaknya baru masuk rumah sakit. Dia datang persis 12 jam sebelum ‘manggung’ . Empat sesi. Dan kuiyakan. Aku hanya sempat bongkar file-file lama bawaan dari Oxfam dulu dan mengkonekkanya dengan cara-cara penyampaian informasi yang kumiliki (jelas, Inspirit punya andil sangat besar disini. Terimakasih, dan hidup Inspirit!). Selebihnya adalah improvisasi. Dan...click!
Jalan sudah. Sampailah kebagian yang alot itu... sebuah bagian yang berisi penerimaan dan penolakan sekaligus. Mereka menerima adanya realita dalam komunitas (yang mereka potret sendiri melalui ’gender clock’ di sesi 1) mengenai jam kerja perempuan lebih panjang, pekerjaan perempuan yang lebih beragam dalam periode waktu yang sama, waktu rileks laki-laki yang lebih panjang, pekerjaan-pekerjaan domestik (yang notabene digeluti oleh perempuan) yang tak dianggap sebagai pekerjaan, pekerjaan laki-laki lebih dihargai dsb. Secara eksplisit mereka mengakui ada ketidakadilan disana. Akan tetapi mereka sekaligus melakukan penolakan dengan mengatakan, “Ya... memang seperti itu situasinya di banyak tempat. Sudah menjadi budaya begitu, sudah turun temurun mereka lakukan begitu. Kalau nanti kita kita ubah...wah, jangan-jangan parang bisa menancap di kepala kita...” (Ah, kawan...bukankah itu ‘hanya’ soal cara kita mengajak mereka merasakan ketidakadilan yang ada dan kemudian mengajak mereka untuk mengubah keadaan?).
Begitulah, agak panjang diskusi berlangsung seputar itu. Dan “sudah menjadi budaya” memang selalu menjadi argumentasi, sejak dulu, bahkan dulu sekali.
“Kalau sudah menjadi budaya, sementara kita lihat itu tidak adil, apakah lalu tidak boleh dan tidak bisa kita ubah?”, kuajukan sebuah pertanyaan. Pelan, tapi dalam.
Hening. Tak ada suara. Sepertinya, pertanyaan itu berhasil mengaduk-aduk rasa mereka. Aku merasakan itu...
Dan tiba-tiba aku langsung konek dengan lagu itu...ya, lagu itu: Laskar Pelangi. Aku ajak mereka mendengarkan lagu itu (mendengarkan saja!). Di menit selanjutnya, “Laskar Pelangi” pun mengalun dalam ruangan yang tak besar itu...
Larut dalam lagu itu. Kutatap mereka satu per satu, mencoba menyelami apa yang terjadi. Aku mulai merasakan aliran energi yang luar biasa dahsyat yang tercermin dari sinar mata mereka. Sangat jauh berbeda dengan sorot mata mereka tadi. Sungguh mati, beberapa detik aku merinding menyaksikan aliran perubahan itu...
Lagu berakhir. Kami seperti berada dalam sebuah atmosfir baru nan sangat teduh. Tak perlu kata-kata, 12 pasang mata yang ada dalam ruangan itu sudah bicara.
Masih dalam rangka menjawab soal perubahan itu, aku paparkan sebuah slide berisi penggalan surat Mandela kepada Obama atas kemenangannya, yang kukutip dari Harian Kompas, 6 Novmber 2008: “Sedangkan pemimpin kulit hitam pertama Afrika Selatan, Nelson Mandela, mengatakan dalam suratnya kepada Obama, kemenangan Obama memperlihatkan bahwa tiap orang harus berani bermimpi untuk mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik”.
(O ya, aku sekarang rajin ngumpulin kutipan dari manapun yang kutemukan, yang menyentuh feelingku, yang menurut feelingku juga, suatu saat bisa kupakai sebagai ‘alat bantu’).
Kembali ke pertanyaan tadi. Begitulah, aku tak perlu menjawab apakah kalau “sudah menjadi budaya”, ketidakadilan gender itu tak bisa kita ubah. “Laskar Pelangi” dan surat Mandela itu sudah menjawabnya. Dan 2 sesi yang tersisa selanjutnya menjadi sangat mudah kami jalani....
Siang itu, aku mendapat pengalaman batin yang cukup dalam...
Thursday, 4 December 2008
Wednesday, 26 November 2008
kering di musim hujan...
PERINGATAN:
sungai ini sedang kering kerontang...
jelas, tak ada air
apalagi kehidupan didalamnya
jadi jangan coba-coba mencari ikan disini!!
sungai ini sedang kering kerontang...
jelas, tak ada air
apalagi kehidupan didalamnya
jadi jangan coba-coba mencari ikan disini!!
Wednesday, 29 October 2008
sempurna!
satu
tempat ini menakjubkan. sebuah gua karang lebar sekitar 5 meter, menghadap pantai bersih berpasir putih dengan air laut biru kehijauan. Sempurna!!
*kau begitu sempurna...dimataku kau begitu indah....*
dua
...tetes-tetes air jatuh dari langit-langit gua. rumput laut hijau berserak, layaknya potongan-potongan daun selada. ada secercah sinar matahari masuk di sudut gua... aku berbaring. bebatuan memijit punggungku
tiga
wah, tempat ini mendekapku erat, hangat. aku tak ingin lepas darinya. air laut mulai surut... ah, andai kutemukan satu saja alasan untuk aku tak pergi dari tempat ini...
nusa dua,
5 hari menuju "poelang"
tempat ini menakjubkan. sebuah gua karang lebar sekitar 5 meter, menghadap pantai bersih berpasir putih dengan air laut biru kehijauan. Sempurna!!
*kau begitu sempurna...dimataku kau begitu indah....*
dua
...tetes-tetes air jatuh dari langit-langit gua. rumput laut hijau berserak, layaknya potongan-potongan daun selada. ada secercah sinar matahari masuk di sudut gua... aku berbaring. bebatuan memijit punggungku
tiga
wah, tempat ini mendekapku erat, hangat. aku tak ingin lepas darinya. air laut mulai surut... ah, andai kutemukan satu saja alasan untuk aku tak pergi dari tempat ini...
nusa dua,
5 hari menuju "poelang"
Wednesday, 17 September 2008
Sunday, 7 September 2008
kepiting di hutan bakau
“Mbak, nanti kalau lihat kepiting yang capitnya merah sebelah, itu tandanya dia jantan. Capit merah itu untuk bertarung memperebutkan betina, mbak. Mereka bertarung sampai capit merah salah satunya putus. Capit itu nanti akan tumbuh lagi.” begitu kawanku menjelaskan.
Oh my God, untuk bertarung sampai capit putus?? Duh, mengerikan sekali, pikirku. “Kenapa mesti bertarung? Bukannya mereka bertiga, dua jantan dan satu betina itu, bisa bernegosiasi saja?” Kawanku ketawa ngakak, sambil menyebutku “ada-ada saja!”.
Kutanya lagi, apakah kalau betinanya dua jantannya satu, betina itu kemudian juga bertarung. Jawabnya, “Nggak. Betina itu nggak bertarung.”
Ah, jantan, jantan... Jantan memang...ah!!
Sepotong obrolan itu terjadi pada suatu pagi di sebuah gazebo besar yang menjadi ujung jalur tracking ini, setelah kami berjalan sepanjang 2,5 km di tengah area hutan bakau punya Departemen Kehutanan. Dari gazebo ini, kamu akan lihat Nusa Lembongan di kejauhan. Di arah kanan depan, kamu akan sering lihat pesawat membubung yang barusan lepas landas. Kalau air laut sedang pasang, gazebo ini ada di tengah laut. Wow!
Area hutan bakau ini diklaim seluas 200 hektar! Adalah JICA, yang awalnya dulu menginisiasi pengembangan hutan bakau ini dan membuat jalur tracking dari kayu dan beberapa gazebo di tengahnya. Dua dari gazebo yang ada disana dibuat tinggi, untuk bird watching. Aku ingat, di tengah perjalananku, seekor burung sempat melintas. Tak terlalu besar, berawarna biru, dan cantik sekali. “Nah, itu burung yang dipakai jadi lambangnya organisasi ‘Blue...apa gitu aku lupa namanya,” kawanku menjelaskan. Hhmm asyik juga ya kalau bird watching...
Area ini sebetunya memiliki dua jalur tracking, tapi sekarang tingal satu. Yang satu sudah beberapa lama ditutup karena rusak, dan tak ada yang ‘bertanggung jawab’ untuk memperbaikinya. Biasa, saling lempar bola diantara bagian-bagian dalam departemen ini, pura-pura bego bahwa ini ‘bukan tanggung jawabku’. Perihal kerusakan ini, di depan ketika mau masuk jalur tracking ini sudah ada peringatan tentang beberapa hal yang gak boleh dilakukan sepanjang jalur ini. Salah satunya adalah bersepeda. Eh, tetep aja...ditengah jalur ini, aku berpapasan dengan beberapa orang yang dengan santainya bersepeda. “Lho...kok bersepeda disini...kan udah ada peringatan nggak boleh...??!!”. Kawanku langsung menyambung, “Pak, nggak boleh bersepeda disini karena akan memperpendek umur jalur tracking ini!” Mereka senyam-senyum tanpa rasa bersalah. Mata mereka itu kalau kamu tahu, seperti bilang, “bukankah peraturan dibuat untuk dilanggar??” Ah, Indonesia...
O ya, kalau kamu memasuki kompleks “Mangrove Information Center” dimana hutan bakau ini berada, kamu akan mendapati sebuah papan peringatan: “Kurangi kecepatan. Banyak biawak melintas”. Oh my God, ‘buaya kecil’ itu... terakhir aku melihatnya di Calang, Aceh, sekitar setahun yang lalu. Di pinggir pantai pula, pagi-pagi ketika aku lagi terkagum-kagum dengan indahnya pantai di depan Guest House itu, tiba-tiba tu makhluk merayap dari bebukitan menuju pantai. Bikin ‘jantungku berdebar, berdebar hingga lebih kencang, seperti genderang mau perang’ (tapi bukan karena ingin bercinta sih...hehe).
Anyway, harus diakui, jalan-jalan pagi (banget) ditengah hutan bakau itu sungguh sangat menyegarkan, setelah sekian lama tubuh ini kaku tak digerakkan. Kubiarkan sinar matahari pagi mengekpos tubuhku habis-habisan. Hhmmm, where did my morning sunshine go?
Dan sejak hari itu, aku memutuskan menjadi pengunjung setia hutan bakau itu, yang hanya berjarak sekitar 5 menit bermotor dari kost-ku.
Oh my God, untuk bertarung sampai capit putus?? Duh, mengerikan sekali, pikirku. “Kenapa mesti bertarung? Bukannya mereka bertiga, dua jantan dan satu betina itu, bisa bernegosiasi saja?” Kawanku ketawa ngakak, sambil menyebutku “ada-ada saja!”.
Kutanya lagi, apakah kalau betinanya dua jantannya satu, betina itu kemudian juga bertarung. Jawabnya, “Nggak. Betina itu nggak bertarung.”
Ah, jantan, jantan... Jantan memang...ah!!
Sepotong obrolan itu terjadi pada suatu pagi di sebuah gazebo besar yang menjadi ujung jalur tracking ini, setelah kami berjalan sepanjang 2,5 km di tengah area hutan bakau punya Departemen Kehutanan. Dari gazebo ini, kamu akan lihat Nusa Lembongan di kejauhan. Di arah kanan depan, kamu akan sering lihat pesawat membubung yang barusan lepas landas. Kalau air laut sedang pasang, gazebo ini ada di tengah laut. Wow!
Area hutan bakau ini diklaim seluas 200 hektar! Adalah JICA, yang awalnya dulu menginisiasi pengembangan hutan bakau ini dan membuat jalur tracking dari kayu dan beberapa gazebo di tengahnya. Dua dari gazebo yang ada disana dibuat tinggi, untuk bird watching. Aku ingat, di tengah perjalananku, seekor burung sempat melintas. Tak terlalu besar, berawarna biru, dan cantik sekali. “Nah, itu burung yang dipakai jadi lambangnya organisasi ‘Blue...apa gitu aku lupa namanya,” kawanku menjelaskan. Hhmm asyik juga ya kalau bird watching...
Area ini sebetunya memiliki dua jalur tracking, tapi sekarang tingal satu. Yang satu sudah beberapa lama ditutup karena rusak, dan tak ada yang ‘bertanggung jawab’ untuk memperbaikinya. Biasa, saling lempar bola diantara bagian-bagian dalam departemen ini, pura-pura bego bahwa ini ‘bukan tanggung jawabku’. Perihal kerusakan ini, di depan ketika mau masuk jalur tracking ini sudah ada peringatan tentang beberapa hal yang gak boleh dilakukan sepanjang jalur ini. Salah satunya adalah bersepeda. Eh, tetep aja...ditengah jalur ini, aku berpapasan dengan beberapa orang yang dengan santainya bersepeda. “Lho...kok bersepeda disini...kan udah ada peringatan nggak boleh...??!!”. Kawanku langsung menyambung, “Pak, nggak boleh bersepeda disini karena akan memperpendek umur jalur tracking ini!” Mereka senyam-senyum tanpa rasa bersalah. Mata mereka itu kalau kamu tahu, seperti bilang, “bukankah peraturan dibuat untuk dilanggar??” Ah, Indonesia...
O ya, kalau kamu memasuki kompleks “Mangrove Information Center” dimana hutan bakau ini berada, kamu akan mendapati sebuah papan peringatan: “Kurangi kecepatan. Banyak biawak melintas”. Oh my God, ‘buaya kecil’ itu... terakhir aku melihatnya di Calang, Aceh, sekitar setahun yang lalu. Di pinggir pantai pula, pagi-pagi ketika aku lagi terkagum-kagum dengan indahnya pantai di depan Guest House itu, tiba-tiba tu makhluk merayap dari bebukitan menuju pantai. Bikin ‘jantungku berdebar, berdebar hingga lebih kencang, seperti genderang mau perang’ (tapi bukan karena ingin bercinta sih...hehe).
Anyway, harus diakui, jalan-jalan pagi (banget) ditengah hutan bakau itu sungguh sangat menyegarkan, setelah sekian lama tubuh ini kaku tak digerakkan. Kubiarkan sinar matahari pagi mengekpos tubuhku habis-habisan. Hhmmm, where did my morning sunshine go?
Dan sejak hari itu, aku memutuskan menjadi pengunjung setia hutan bakau itu, yang hanya berjarak sekitar 5 menit bermotor dari kost-ku.
Tuesday, 22 July 2008
selalu ada yang pertama
Oh dear, selalu ada yang pertama....dan hari ini aku menemukan 2 'yang pertama' terjadi pada diriku.
Aku rasa, ibu di warung sebelah kantorku sudah cukup berjasa dalam menyediakan makan siang yang murah n sesuai selera lidahku yang agak-agak rural ini, yang selalu menggilai masakan rumah (tepatnya: masakan rumah nan murah!)...tapi hari ini jasanya padaku lebih besar. Dia memberiku makan dengan sayur daun genjer. Sekali lagi, daun genjer. Mataku langsung berbinar begitu kutanya dan dia jawab "daun genjer"... Inilah pertama kalinya aku mengenal secara fisik daun bernama genjer itu, sekaligus merasakan nikmatnya dia setelah bersenyawa dengan bumbu-bumbu dalam tangan si ibu. Daun genjer, nama yang mengingatkan kita pada sebuah lagu yang membawa stigma dan diskriminasi yang sungguh dahsyat tak terperikan dalam kehidupan bangsa ini. Oh my God, ampunilah dosa bangsa ini...
Pertama yang kedua dalam satu hari ini adalah...hehe, tadi siang ada yang nge-add aku di facebook... No, bukan...ini sih biasa!! Nah, yang ajaibnya tu...aku menjadi teman pertama (dan satu-satunya lagi!, paling tidak sampai sore ini, hehe...) di daftar 'Friend'nya!!
Yuhuuuu...selalu ada yang pertama, dear... dan hari ini aku menemukan 2!!
Aku rasa, ibu di warung sebelah kantorku sudah cukup berjasa dalam menyediakan makan siang yang murah n sesuai selera lidahku yang agak-agak rural ini, yang selalu menggilai masakan rumah (tepatnya: masakan rumah nan murah!)...tapi hari ini jasanya padaku lebih besar. Dia memberiku makan dengan sayur daun genjer. Sekali lagi, daun genjer. Mataku langsung berbinar begitu kutanya dan dia jawab "daun genjer"... Inilah pertama kalinya aku mengenal secara fisik daun bernama genjer itu, sekaligus merasakan nikmatnya dia setelah bersenyawa dengan bumbu-bumbu dalam tangan si ibu. Daun genjer, nama yang mengingatkan kita pada sebuah lagu yang membawa stigma dan diskriminasi yang sungguh dahsyat tak terperikan dalam kehidupan bangsa ini. Oh my God, ampunilah dosa bangsa ini...
Pertama yang kedua dalam satu hari ini adalah...hehe, tadi siang ada yang nge-add aku di facebook... No, bukan...ini sih biasa!! Nah, yang ajaibnya tu...aku menjadi teman pertama (dan satu-satunya lagi!, paling tidak sampai sore ini, hehe...) di daftar 'Friend'nya!!
Yuhuuuu...selalu ada yang pertama, dear... dan hari ini aku menemukan 2!!
Sunday, 29 June 2008
Perempuan itu + Rhythms of Reformation* = ......
(ketika bulan sedang bundar)
Sepi mulai mengintip malam. Matanya tertuju pada setumpuk CD. Dipilihnya satu, untuk menghadapi sepi. Entah kenapa, pilihannya jatuh pada “Rhythms of Reformation”. Dan entah kenapa juga, irama perkusi itu kemudian terasa seperti merayu tubuhnya untuk berbaur. Ia tak tahan. Maka perlahan-lahan tubuhnya pun jatuh dalam rayuan itu. Jadilah malam itu dia menari dalam pelukan irama perkusi. Sendiri. Disaksikan bulan purnama, perasaannya, dan seorang sahabat terdekatnya tentu saja. Dia bebaskan setiap bagian tubuhnya bergerak menyentuh setiap nada yang menghentak. Dan dia biarkan hentakan-hentakan itu membelai setiap bagian tubuhnya. Bergeser, berputar, bergoyang, dan meliuk, begitulah mereka menyatu dalam sebuah moment yang berlangsung selama 48 menit 22 detik berisi Beluk Opening, Premordial Dance, Uhang Jaeuh, Rajah for the Quantum Tribes, The Pine Crescent Rhythm part 1, The Pine Crescent Rhythm part 2, Tambo Cie’, Tareek Pukat, Doger Manusia, Rhythms of Reformation.
(dan aku merasa, sepertinya bukan dia yang mengikuti irama perkusi itu, tapi irama perkusi itulah yang mengikuti seluruh geraknya. Atau…ah, mereka saling mengikuti).
Keringat membasahi tubuhnya, bersenyawa dengan malam. Dan dia seperti menemukan orgasmenya. Sesungguhnya ia heran, bagaimana mungkin dia bisa menari begitu apa adanya dalam kepasrahan yang indah seperti itu. Belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dan tak pernah juga sebelumnya dia menari. Apalagi menari untuk melepaskan rasa yang begitu menyesakkan dada (hhhmmm). Rasa yang maha dahsyat yang berasal dari dari dasar hatinya dalam sebuah rentang waktu yang tak bisa dibilang pendek. Terasa sentimentil dan picisan, barangkali. Tapi begitulah yang terjadi.
Sungguh tak enak menyimpan rasa yang begitu tumpah ruah, begitu dia pernah bilang. Tapi dia juga tak tahu kemana lagi mesti menumpahkan rasa itu… Berkali-kali sudah ia coba untuk menuangkan rasa itu ke dalam gelas, cangkir, mangkok, dan piring, tapi rasa itu masih terus saja mengalir deras tanpa pernah bisa ia bendung….
*Percussion pieces by Krakatau
Sepi mulai mengintip malam. Matanya tertuju pada setumpuk CD. Dipilihnya satu, untuk menghadapi sepi. Entah kenapa, pilihannya jatuh pada “Rhythms of Reformation”. Dan entah kenapa juga, irama perkusi itu kemudian terasa seperti merayu tubuhnya untuk berbaur. Ia tak tahan. Maka perlahan-lahan tubuhnya pun jatuh dalam rayuan itu. Jadilah malam itu dia menari dalam pelukan irama perkusi. Sendiri. Disaksikan bulan purnama, perasaannya, dan seorang sahabat terdekatnya tentu saja. Dia bebaskan setiap bagian tubuhnya bergerak menyentuh setiap nada yang menghentak. Dan dia biarkan hentakan-hentakan itu membelai setiap bagian tubuhnya. Bergeser, berputar, bergoyang, dan meliuk, begitulah mereka menyatu dalam sebuah moment yang berlangsung selama 48 menit 22 detik berisi Beluk Opening, Premordial Dance, Uhang Jaeuh, Rajah for the Quantum Tribes, The Pine Crescent Rhythm part 1, The Pine Crescent Rhythm part 2, Tambo Cie’, Tareek Pukat, Doger Manusia, Rhythms of Reformation.
(dan aku merasa, sepertinya bukan dia yang mengikuti irama perkusi itu, tapi irama perkusi itulah yang mengikuti seluruh geraknya. Atau…ah, mereka saling mengikuti).
Keringat membasahi tubuhnya, bersenyawa dengan malam. Dan dia seperti menemukan orgasmenya. Sesungguhnya ia heran, bagaimana mungkin dia bisa menari begitu apa adanya dalam kepasrahan yang indah seperti itu. Belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dan tak pernah juga sebelumnya dia menari. Apalagi menari untuk melepaskan rasa yang begitu menyesakkan dada (hhhmmm). Rasa yang maha dahsyat yang berasal dari dari dasar hatinya dalam sebuah rentang waktu yang tak bisa dibilang pendek. Terasa sentimentil dan picisan, barangkali. Tapi begitulah yang terjadi.
Sungguh tak enak menyimpan rasa yang begitu tumpah ruah, begitu dia pernah bilang. Tapi dia juga tak tahu kemana lagi mesti menumpahkan rasa itu… Berkali-kali sudah ia coba untuk menuangkan rasa itu ke dalam gelas, cangkir, mangkok, dan piring, tapi rasa itu masih terus saja mengalir deras tanpa pernah bisa ia bendung….
*Percussion pieces by Krakatau
Sunday, 15 June 2008
beyond loneliness
Seperti dituturkan oleh perempuan itu* pada suatu hari…
“hanya tubuh yang tertinggal
kosong, dingin, beku.…
(feeling lonely?)
(no! It’s beyond loneliness)
ada yang diambilnya dalam berisik
dan ada yang kugenggam dalam diam
malam itu aku berharap pagi tak akan pernah datang”
*suatu saat aku akan bercerita tentang perempuan itu
“hanya tubuh yang tertinggal
kosong, dingin, beku.…
(feeling lonely?)
(no! It’s beyond loneliness)
ada yang diambilnya dalam berisik
dan ada yang kugenggam dalam diam
malam itu aku berharap pagi tak akan pernah datang”
*suatu saat aku akan bercerita tentang perempuan itu
Thursday, 12 June 2008
Saturday, 31 May 2008
Bu Ayu
Kami memanggilnya bu Ayu. Dialah yang tiap pagi dan siang dengan setia menyediakan kopi dan/atau teh buat kami seisi kantor ini, menyapu dan mengepel lantai, membersihkan kaca, dll (terimakasih banyak bu Ayu!). Dan aku pikir dialah yang paling sehat diantara semua penghuni kantor yang hanya 12 ekor ini (6 perempuan dan 6 laki-laki! Gender balance, kan? Dengan top decision maker seorang perempuan. See...). Bayangin, dalam waktu sehari dia bisa naik turun tangga dari lantai 1 ke lantai 3 sebanyak 10-15 kali mungkin. Dan tak sedikitpun dia terlihat ngos-ngosan. Coba aku yang disuruh begitu, kujamin 2 kali aja aku sudah tepar. Selain itu rasanya dia juga yang paling jarang mengambil cuti. Dia hanya serius ambil cuti kalau ada upacara agama saja. Selebihnya, dia nggak cinta cuti. Katanya, cutinya tahun lalu saja masih sisa sekian hari hangus, sementara yang lain pada kekurangan hari cuti, termasuk saya. Oh bu Ayu, andai saja sisa hari cuti ibu bisa disumbangin ke saya….
“Ngapain saya di rumah kalau saya cuti?” Pertanyaan yang aku nggak bisa jawab tentu saja.
Suatu hari, aku mendapati bu Ayu dengan suara yang lain dari biasanya: suara serak mau flu. Dan ini sebetulnya bukan yang pertama kali aku mendapati bu Ayu dalam keadaan begitu. Dan bukan pertama kalinya pula aku bilang ke bu Ayu supaya istirahat aja di rumah. Sepertinya hanya ketika bu Ayu sakit yang nggak kuat dia tahan saja dia baru mau ambil cuti sakit (ah, coba aku yang diminta untuk istirahat di rumah saja, langsung kuiyakan dengan senang hati tanpa tunggu ‘perintah’ kedua). “Siapa nanti yang bikinin kopi mbak?”. Waduh ibu, jangan kuatir. Pertama, akan ada volunteer yang melakukan itu (mmmm… mungkin Ery atau Tono, karena yang lain kayaknya nggak bisa diharapkan dalam hal ini…). Kedua, bikin sendiri-sendiri dong…Atau ketiga, nggak usah minum kopi dulu selama ibu istirahat di rumah. Tertawa dia. Dan dari situ aku tahu, ketiga alternatifku itu nggak dia terima, meski dia nggak jawab gitu. Bu Ayu tetep aja bekerja….
“Saya di rumah juga nggak bisa istirahat nanti, mbak. Malah lebih capek, kerjaan lebih banyak…” Oh my God! Jawaban spontan itu mengingatkan aku pada jutaan perempuan lain. Dan dalam kadar tertentu, akupun sebagai perempuanpun sesungguhnya juga mengalami apa yang dikatakan bu Ayu. Kalau ada di rumah, mana sempat perempuan bisa duduk? Tapi bu, kalau ibu kerja di kantor ini, nanti habis dari kantor bukannya ibu masih harus ngerjain semua kerjaan rumah yang siangnya nggak bisa dikerjakan karena ibu kerja di kantor ini?
Aku sangat berharap bu Ayu (dan berjuta-juta ‘bu Ayu lain’) menjawab gini, “Tentu saja tidak. Saya dan suami saya yang juga kerja di kantor lain, akan bareng-bareng ngerjain semua kerjaan rumah yang kami tinggal selama kami kerja di luar rumah”. Tentu saja harapanku itu masih jauh dari kenyataan. Oh wonderful world…when are you coming?
“Ngapain saya di rumah kalau saya cuti?” Pertanyaan yang aku nggak bisa jawab tentu saja.
Suatu hari, aku mendapati bu Ayu dengan suara yang lain dari biasanya: suara serak mau flu. Dan ini sebetulnya bukan yang pertama kali aku mendapati bu Ayu dalam keadaan begitu. Dan bukan pertama kalinya pula aku bilang ke bu Ayu supaya istirahat aja di rumah. Sepertinya hanya ketika bu Ayu sakit yang nggak kuat dia tahan saja dia baru mau ambil cuti sakit (ah, coba aku yang diminta untuk istirahat di rumah saja, langsung kuiyakan dengan senang hati tanpa tunggu ‘perintah’ kedua). “Siapa nanti yang bikinin kopi mbak?”. Waduh ibu, jangan kuatir. Pertama, akan ada volunteer yang melakukan itu (mmmm… mungkin Ery atau Tono, karena yang lain kayaknya nggak bisa diharapkan dalam hal ini…). Kedua, bikin sendiri-sendiri dong…Atau ketiga, nggak usah minum kopi dulu selama ibu istirahat di rumah. Tertawa dia. Dan dari situ aku tahu, ketiga alternatifku itu nggak dia terima, meski dia nggak jawab gitu. Bu Ayu tetep aja bekerja….
“Saya di rumah juga nggak bisa istirahat nanti, mbak. Malah lebih capek, kerjaan lebih banyak…” Oh my God! Jawaban spontan itu mengingatkan aku pada jutaan perempuan lain. Dan dalam kadar tertentu, akupun sebagai perempuanpun sesungguhnya juga mengalami apa yang dikatakan bu Ayu. Kalau ada di rumah, mana sempat perempuan bisa duduk? Tapi bu, kalau ibu kerja di kantor ini, nanti habis dari kantor bukannya ibu masih harus ngerjain semua kerjaan rumah yang siangnya nggak bisa dikerjakan karena ibu kerja di kantor ini?
Aku sangat berharap bu Ayu (dan berjuta-juta ‘bu Ayu lain’) menjawab gini, “Tentu saja tidak. Saya dan suami saya yang juga kerja di kantor lain, akan bareng-bareng ngerjain semua kerjaan rumah yang kami tinggal selama kami kerja di luar rumah”. Tentu saja harapanku itu masih jauh dari kenyataan. Oh wonderful world…when are you coming?
Friday, 30 May 2008
love disaster
29/05/2008 23:01
I thought I was strong.. I m really broken hearted, sekarang aku nyerah. Tp aku nyerah krn rasioku udah jalan..
Gitu kata seorang kawan baik. Hhmm…nyerah! I thought you never give up.. sambil diam-diam aku sangat ingin tahu siapa dan kayak apa dia yang sudah bikin hatinya patah.
Katanya lagi…
29/05/2008 23:13
Aku selalu jatuh pada the impossible, the challenging, the weird, the the lain yang pada akhirnya cuma berujung pada perasaan gagal u menaklukkan semua itu, bukan orangnya. Orangnya sama weirdnya dg aku, I think we both could make a love disaster ha2 ini boleh kau posting di blogmu
Love disaster! Why not?? So that I would have a very good reason for coming there: emergency response!! Tunggu… tapi menurutku, orangnya itu tadi itu tadi tetap menjadi ‘komponen’ penting sebagai personifikasi atas the challenging dan lain-lain itu tadi, kawan.
Ah, sebentar kamu juga akan menemukan orang lain untuk menyambung kembali hatimu yang patah!! So just enjoy... :-)
I thought I was strong.. I m really broken hearted, sekarang aku nyerah. Tp aku nyerah krn rasioku udah jalan..
Gitu kata seorang kawan baik. Hhmm…nyerah! I thought you never give up.. sambil diam-diam aku sangat ingin tahu siapa dan kayak apa dia yang sudah bikin hatinya patah.
Katanya lagi…
29/05/2008 23:13
Aku selalu jatuh pada the impossible, the challenging, the weird, the the lain yang pada akhirnya cuma berujung pada perasaan gagal u menaklukkan semua itu, bukan orangnya. Orangnya sama weirdnya dg aku, I think we both could make a love disaster ha2 ini boleh kau posting di blogmu
Love disaster! Why not?? So that I would have a very good reason for coming there: emergency response!! Tunggu… tapi menurutku, orangnya itu tadi itu tadi tetap menjadi ‘komponen’ penting sebagai personifikasi atas the challenging dan lain-lain itu tadi, kawan.
Ah, sebentar kamu juga akan menemukan orang lain untuk menyambung kembali hatimu yang patah!! So just enjoy... :-)
Wednesday, 28 May 2008
udah penjahat, patriakh, gangguan jiwa pula!!
..................
..................
iput_07: mbak
life adventure: heyy aku lg baca itu blog. Ngapa?
iput_07: tanya nih
iput_07: soal sex abuse to children
life adventure: kenapa?
iput_07: menurutmu
iput_07: pelaku sex abuse itu siapa?
life adventure: penjahat hehehe...
iput_07: aku melihat bahwa ada perbedaan persepsi
iput_07: antara psikolog dan aktivis perempuan
life adventure: apa kt psikolog dan apa kt aktivis perempuan?
iput_07: psikolog bilang, pelakunya mengalami gangguan jiwa
iput_07: pedophilia, psikopat, dsb
iput_07: aktivis perempuan bilang, itu mitos
iput_07: pelakunya sehat normal bahkan berpendidikan
iput_07: karena itu bagian bentuk dominasi laki-laki terhadap perempuan
iput_07: jadi yang satu bilang karena kondisi jiwa, klinis, yang satu bilang budaya'
life adventure: klo psikolog yg aktivis perempuan atau aktivis perempuan yg psikolog...bilang apa ya kira2?
iput_07: nah
iput_07: makanya aku tanya dirimu
life adventure: :D
iput_07: kalo dari sudut antropologi bisa dijelaskan, aku juga tertarik mengetahuinya
life adventure: pasti akan lain juga kalo dr sudut kriminologi, sejarah, ekonomi, etc huhu..
life adventure: tapi kira2..
life adventure: orang itu tu... penjahat patriakh yg mengalami gangguan jiwa heheheh
iput_07: jadi soal gangguan jiwa itu bukan mitos kan??
iput_07: aku baca di rilisnya LBH APik begitu
life adventure: kalo menurutku bukan mitos ssiiihhh
iput_07: atau karena byk pelaku yg diselamatkan oleh psikolog yg mendiagnosa itu kelainan jiwa?
life adventure: waaa... kalo aku ogah menyelamatkan itu penjahat..
iput_07: maksudnya?
life adventure: ilmu psikologi memang buta gender..
life adventure: plus hukum yg juga buta gender..
life adventure: jadilah deh penjahat2 macam itu 'selamat'
life adventure: aku akan bilang, "meski org ini mengalami gangguan jiwa, bukan berarti dia bisa bebas dari hukuman"
iput_07: lifeisadventureima: ilmu psikologi memang buta gender..<===maksudnya?
life adventure: mmm..
life adventure: tidak punya perspektif gender..
life adventure: penggalian ke "riwayat" gangguan jiwa dan pandangan tentangnya tak pernah menyentuh peran2 gender ...
life adventure: tak pernah menyentuh aspek budaya patrarkhi
life adventure: tak pernah menyentuh ketimpangan gender..
life adventure: karena relasi kuasa yang timpang
life adventure: gitu deeehhh
life adventure: btw rilis LBH APIK bilang gimana?
iput_07: Sering orang beranggapan bahwa orang yang mampu melakukan perbuatan itu pada anak-anak adalah orang yang punya penyakit kelainan jiwa (psikopat). Mitos ini masih dipercayai banyak orang sampai saat ini, padahal kenyataannya kebanyakan pelaku adalah seorang yang normal dan bahkan berpendidikan tinggi.
iput_07: padahal psikopat memang boleh jadi berpendidikan tinggi
iput_07: :D
iput_07: makanya, analisa itu bias psikologi di satu sisi
iput_07: meski berusaha menunjukkan keberpihakan di sisi lain
life adventure: hehehe.. itulah.."normal" bisa punya banyak arti ya..
................
................
..................
iput_07: mbak
life adventure: heyy aku lg baca itu blog. Ngapa?
iput_07: tanya nih
iput_07: soal sex abuse to children
life adventure: kenapa?
iput_07: menurutmu
iput_07: pelaku sex abuse itu siapa?
life adventure: penjahat hehehe...
iput_07: aku melihat bahwa ada perbedaan persepsi
iput_07: antara psikolog dan aktivis perempuan
life adventure: apa kt psikolog dan apa kt aktivis perempuan?
iput_07: psikolog bilang, pelakunya mengalami gangguan jiwa
iput_07: pedophilia, psikopat, dsb
iput_07: aktivis perempuan bilang, itu mitos
iput_07: pelakunya sehat normal bahkan berpendidikan
iput_07: karena itu bagian bentuk dominasi laki-laki terhadap perempuan
iput_07: jadi yang satu bilang karena kondisi jiwa, klinis, yang satu bilang budaya'
life adventure: klo psikolog yg aktivis perempuan atau aktivis perempuan yg psikolog...bilang apa ya kira2?
iput_07: nah
iput_07: makanya aku tanya dirimu
life adventure: :D
iput_07: kalo dari sudut antropologi bisa dijelaskan, aku juga tertarik mengetahuinya
life adventure: pasti akan lain juga kalo dr sudut kriminologi, sejarah, ekonomi, etc huhu..
life adventure: tapi kira2..
life adventure: orang itu tu... penjahat patriakh yg mengalami gangguan jiwa heheheh
iput_07: jadi soal gangguan jiwa itu bukan mitos kan??
iput_07: aku baca di rilisnya LBH APik begitu
life adventure: kalo menurutku bukan mitos ssiiihhh
iput_07: atau karena byk pelaku yg diselamatkan oleh psikolog yg mendiagnosa itu kelainan jiwa?
life adventure: waaa... kalo aku ogah menyelamatkan itu penjahat..
iput_07: maksudnya?
life adventure: ilmu psikologi memang buta gender..
life adventure: plus hukum yg juga buta gender..
life adventure: jadilah deh penjahat2 macam itu 'selamat'
life adventure: aku akan bilang, "meski org ini mengalami gangguan jiwa, bukan berarti dia bisa bebas dari hukuman"
iput_07: lifeisadventureima: ilmu psikologi memang buta gender..<===maksudnya?
life adventure: mmm..
life adventure: tidak punya perspektif gender..
life adventure: penggalian ke "riwayat" gangguan jiwa dan pandangan tentangnya tak pernah menyentuh peran2 gender ...
life adventure: tak pernah menyentuh aspek budaya patrarkhi
life adventure: tak pernah menyentuh ketimpangan gender..
life adventure: karena relasi kuasa yang timpang
life adventure: gitu deeehhh
life adventure: btw rilis LBH APIK bilang gimana?
iput_07: Sering orang beranggapan bahwa orang yang mampu melakukan perbuatan itu pada anak-anak adalah orang yang punya penyakit kelainan jiwa (psikopat). Mitos ini masih dipercayai banyak orang sampai saat ini, padahal kenyataannya kebanyakan pelaku adalah seorang yang normal dan bahkan berpendidikan tinggi.
iput_07: padahal psikopat memang boleh jadi berpendidikan tinggi
iput_07: :D
iput_07: makanya, analisa itu bias psikologi di satu sisi
iput_07: meski berusaha menunjukkan keberpihakan di sisi lain
life adventure: hehehe.. itulah.."normal" bisa punya banyak arti ya..
................
................
Wednesday, 21 May 2008
Wednesday, 7 May 2008
matahari terbit dan tenggelam
Seorang kawan memberitakan:
6 Mei 2008 18.03
"sy sekarang lg berada di depan danau tondano. Dari depan jendela ruang tamu, sy bisa melihat danaunya. Bsk pagi sy akan melihat sunrise"
Esok paginya...
"Sial!! Aku keluar kamar kesiangan pdhl bangunku sudah pagi. Tp aku msh dptkan ft sunrisenya kok, cm sialnya langitnya sdh terang"
(pelajaran 1: pagimu belum tentu pagiku, kawan. Pagimu juga pasti belum tentu paginya matahari!)
Sorenya...
Kawan ini menelponku, mengatakan dengan suara sumringah - sehingga sayapun terkena imbas sumringah - bahwa dia masih di tempat itu dan siap menghadang sunset. Berapa lama setelah teleponya...
"Ternyata disini bukan danau sunset. Sy sudah turun-turun. Sunsetnya ada di blk bukit. Berarti ada disisi lain" (pelajaran 2: meskipun judulnya sunset, kau tak perlu turun-turun begitu untuk mendapatkannya!)
Maka, kujawablah dia: "Lha iya...matahari gak mungkin terbit dan tenggelam di tempat yang sama kan?" (pelajaran 3: kalau matahari terbit dan tenggelam di tempat yang sama, itu pasti sebuah "anomali" yang maha luar biasa!!)
:-) :-) :-)
6 Mei 2008 18.03
"sy sekarang lg berada di depan danau tondano. Dari depan jendela ruang tamu, sy bisa melihat danaunya. Bsk pagi sy akan melihat sunrise"
Esok paginya...
"Sial!! Aku keluar kamar kesiangan pdhl bangunku sudah pagi. Tp aku msh dptkan ft sunrisenya kok, cm sialnya langitnya sdh terang"
(pelajaran 1: pagimu belum tentu pagiku, kawan. Pagimu juga pasti belum tentu paginya matahari!)
Sorenya...
Kawan ini menelponku, mengatakan dengan suara sumringah - sehingga sayapun terkena imbas sumringah - bahwa dia masih di tempat itu dan siap menghadang sunset. Berapa lama setelah teleponya...
"Ternyata disini bukan danau sunset. Sy sudah turun-turun. Sunsetnya ada di blk bukit. Berarti ada disisi lain" (pelajaran 2: meskipun judulnya sunset, kau tak perlu turun-turun begitu untuk mendapatkannya!)
Maka, kujawablah dia: "Lha iya...matahari gak mungkin terbit dan tenggelam di tempat yang sama kan?" (pelajaran 3: kalau matahari terbit dan tenggelam di tempat yang sama, itu pasti sebuah "anomali" yang maha luar biasa!!)
:-) :-) :-)
Monday, 5 May 2008
anak-anak bicara reproduksi
satu
“Tante, aku tahu kalau sperma tu punya’nya laki-laki, sel telur tu punya’nya perempuan…tapi, dimana mereka ketemunya ya??!!!”
dua
Ini percakapan antara 2 bocah perempuan bernama Sukma (5) dan Lia (4) - mereka bertentangga - pada sebuah siang:
Lia : …aku punya adik
Sukma : aku tu juga punya adik tapi masih lama banget.
Lia : kok lama kenapa?
Sukma : soalnya ibuku belum hamil.
“Tante, aku tahu kalau sperma tu punya’nya laki-laki, sel telur tu punya’nya perempuan…tapi, dimana mereka ketemunya ya??!!!”
dua
Ini percakapan antara 2 bocah perempuan bernama Sukma (5) dan Lia (4) - mereka bertentangga - pada sebuah siang:
Lia : …aku punya adik
Sukma : aku tu juga punya adik tapi masih lama banget.
Lia : kok lama kenapa?
Sukma : soalnya ibuku belum hamil.
Sunday, 27 April 2008
bola, bola, bola...
Ery
27-Apr-2008 10:21
Everton x Aston villa, fiorentina x samprodia, palermo x atalanta, valencia x osasunb…pilih mana?
aku
27-Apr-2008 10:57
Ntar. Yg 4 kmrn menang sapa dl?
Ery
27-Apr-2008 10:59
Yg kmrn tepat 2, 1 draw, 1 kalah..!
aku
27-Apr-2008 14:20
Everton. Fiorentina. Palermo. Valencia. MERDEKAAA!!!
aku
27-Apr-2008 20:09
Eh klo lolos, komisi 10% ya :p..Awas lu klo gak ksh. Bs tkutuk!
Ery
27-Apr-2008 20:10
Amin…mlm mini hrs menang!
aku
27-Apr-2008 21:30
Lhoh…lu semalam kalah? Gak ngikutin aku?
Ery
27-Apr-2008 21:32
Ngikutin, Liverpool+Newcastle..dua2nya draw
:p :p :p :p :p :p
27-Apr-2008 10:21
Everton x Aston villa, fiorentina x samprodia, palermo x atalanta, valencia x osasunb…pilih mana?
aku
27-Apr-2008 10:57
Ntar. Yg 4 kmrn menang sapa dl?
Ery
27-Apr-2008 10:59
Yg kmrn tepat 2, 1 draw, 1 kalah..!
aku
27-Apr-2008 14:20
Everton. Fiorentina. Palermo. Valencia. MERDEKAAA!!!
aku
27-Apr-2008 20:09
Eh klo lolos, komisi 10% ya :p..Awas lu klo gak ksh. Bs tkutuk!
Ery
27-Apr-2008 20:10
Amin…mlm mini hrs menang!
aku
27-Apr-2008 21:30
Lhoh…lu semalam kalah? Gak ngikutin aku?
Ery
27-Apr-2008 21:32
Ngikutin, Liverpool+Newcastle..dua2nya draw
:p :p :p :p :p :p
aku dan feeling lonely
26 April 08
Banyak hal bisa kuatasi dengan baik sudah. Tapi sepertinya yang satu ini tidak: feeling lonely. Rasa ini benar-benar menyiksaku tanpa aku bisa bernegosiasi sedikitpun dengannya. Seperti halnya hari itu, beberapa waktu yang lalu.
Dia sudah menyemburat sejak padi di hari Sabtu (celaka, rasa ini biasanya muncul ketika weekend tak ada kawan menemani). Semakin siang, semakin kencang dia menghajarku tanpa ampun. Bikin aku sesak.
Kucoba mengatasi. Kulibatkan Bon Jovi diantara aku dan rasa sepi itu. Tak berhasil. Kucoba dengan Rolling Stones. Tak juga berhasil. Begitu juga Santana. Tak satupun dari mereka yang bisa kuajak berkolaborasi mengalahkan feeling lonely-ku itu. Oke, kubaca buku. Edan, tak teratasi juga. Kupejamkan mata, menggapai imajinasi untuk menimbulkan kegaduhan. Gagal total. Entahlah, sepertinya semua sedang bersekutu mengurungku dalam sepi yang tak tak terperikan. Oke, aku menyerah. Kutinggalkan rasa sepi itu sendiri, kukurung dalam kamarku. Aku tak tahan berhadapan dengannya. Aku pergi!
Hari ini, weekend kembali tak berkawan. Aku tak mau ketemu lagi dengannya karena aku belum tahu cara untuk berdamai dengannya. Maka, akupun pergi sebelum dia datang. Menghindar? Iya! Tak ada salahnya menghindar. Kucari pantai. Yang dekat-dekat saja. Lagi males jalan jauh. Pantai nan sepi dan teduh dimana hanya ada suara ombak disitu. Dan aku hanya ingin duduk, mendengarkan ombaknya, menyerahkan tubuhku pada angin, sambil kulanjutkan membaca buku 3 dari tetralogi ini. Sebuah keinginan yang begitu sederhana, kan?!
Biarpun sepi, alam terbuka tak pernah membuatku merasa kesepian. Maka, sebuah balai bengong tempat aku duduk menghadap pantai dengan ombak yang sepertinya asyik buat berselancar, semilir angin dan sebuah bukupun menjadi kawan baikku hari ini. Seharian. Ya, seharian penuh mereka bersamaku, diselingi interupsi satu dua pertanyaan dari satu dua orang yang datang kesitu dan 4 SMS dari 3 orang kawan (gender disaggregated data itu penting, kawan! :p Maka biarlah kusebutkan mereka ini: 2 perempuan dan 1 laki-laki):
“Hai.Lagi ngapain?” (Lagi berkolaborasi dengan pantai,ombak, angin, balai bengong, dan buku)
“Aku lagi kepikiran buat kabur lagi ke Bali” (Ayo aja. Bali memang tempat kabur yang menyenangkan. Jadi tunggu apa lagi?)
“Kapan kamu ke Jogja lagi? Aku pengen ke Jogja juga. Ih, aku kok aku jadi pengen kemana-mana” (Kemana-manalah selagi kamu masih bisa kemana-mana. Aku ke Jogja tanggal 30 ini, sampai 2 Mei. Ayo join..”)
“celsi x mancester, birmingham x liverpool, westham x newcaste, sunderland x midlesbrough…pilih mana…?”
Ahaaaa….kawan satu ini, rupanya sudah menjadikan aku yang nihil tentang dunia sepakbola ini sebagai narasumber persepakbolaan yang handal. Dalam 2 pertandingan terakhir, kawan ini kalah bertaruh gara-gara mengabaikan aku yang ‘hanya’ mengandalkan feeling semata. Dan celakanya, feelingku bagus (ah, jangan-jangan mereka menang karena sudah kutebak menang dengan feelingku, kawan??!! Kualirkan energi positif dalam tebakanku… Feeling oh feeling…).
Maka kujawablah kawan itu, lagi-lagi dengan feelingku: celsi, liverpool, newcaste, sunderland. MERDEKA!!! (mari kita lakukan uji feeling!).
Menjelang sore ketika orang-orang mulai berdatangan, saat itulah aku bersiap-siap memisahkan diri dengan pantai, ombak, dan angin, tentu saja setelah berucap terimakasih telah menemani dan sampai jumpa. Aku tak suka kegaduhan orang-orang di pantai.
Dan buku 3pun selesai sudah kubaca!
******
PS.
Jadi mbak Ani, kalau kau tanya apakah aku tak pernah kesepian disini, jawabnya tegas, “jelas pernah!”.
Jadi mbak Tari, kalau ada orang yang membatalkan rencananya berweekend denganku, jangan dikira itu tak berarti apapun bagiku :p
Banyak hal bisa kuatasi dengan baik sudah. Tapi sepertinya yang satu ini tidak: feeling lonely. Rasa ini benar-benar menyiksaku tanpa aku bisa bernegosiasi sedikitpun dengannya. Seperti halnya hari itu, beberapa waktu yang lalu.
Dia sudah menyemburat sejak padi di hari Sabtu (celaka, rasa ini biasanya muncul ketika weekend tak ada kawan menemani). Semakin siang, semakin kencang dia menghajarku tanpa ampun. Bikin aku sesak.
Kucoba mengatasi. Kulibatkan Bon Jovi diantara aku dan rasa sepi itu. Tak berhasil. Kucoba dengan Rolling Stones. Tak juga berhasil. Begitu juga Santana. Tak satupun dari mereka yang bisa kuajak berkolaborasi mengalahkan feeling lonely-ku itu. Oke, kubaca buku. Edan, tak teratasi juga. Kupejamkan mata, menggapai imajinasi untuk menimbulkan kegaduhan. Gagal total. Entahlah, sepertinya semua sedang bersekutu mengurungku dalam sepi yang tak tak terperikan. Oke, aku menyerah. Kutinggalkan rasa sepi itu sendiri, kukurung dalam kamarku. Aku tak tahan berhadapan dengannya. Aku pergi!
Hari ini, weekend kembali tak berkawan. Aku tak mau ketemu lagi dengannya karena aku belum tahu cara untuk berdamai dengannya. Maka, akupun pergi sebelum dia datang. Menghindar? Iya! Tak ada salahnya menghindar. Kucari pantai. Yang dekat-dekat saja. Lagi males jalan jauh. Pantai nan sepi dan teduh dimana hanya ada suara ombak disitu. Dan aku hanya ingin duduk, mendengarkan ombaknya, menyerahkan tubuhku pada angin, sambil kulanjutkan membaca buku 3 dari tetralogi ini. Sebuah keinginan yang begitu sederhana, kan?!
Biarpun sepi, alam terbuka tak pernah membuatku merasa kesepian. Maka, sebuah balai bengong tempat aku duduk menghadap pantai dengan ombak yang sepertinya asyik buat berselancar, semilir angin dan sebuah bukupun menjadi kawan baikku hari ini. Seharian. Ya, seharian penuh mereka bersamaku, diselingi interupsi satu dua pertanyaan dari satu dua orang yang datang kesitu dan 4 SMS dari 3 orang kawan (gender disaggregated data itu penting, kawan! :p Maka biarlah kusebutkan mereka ini: 2 perempuan dan 1 laki-laki):
“Hai.Lagi ngapain?” (Lagi berkolaborasi dengan pantai,ombak, angin, balai bengong, dan buku)
“Aku lagi kepikiran buat kabur lagi ke Bali” (Ayo aja. Bali memang tempat kabur yang menyenangkan. Jadi tunggu apa lagi?)
“Kapan kamu ke Jogja lagi? Aku pengen ke Jogja juga. Ih, aku kok aku jadi pengen kemana-mana” (Kemana-manalah selagi kamu masih bisa kemana-mana. Aku ke Jogja tanggal 30 ini, sampai 2 Mei. Ayo join..”)
“celsi x mancester, birmingham x liverpool, westham x newcaste, sunderland x midlesbrough…pilih mana…?”
Ahaaaa….kawan satu ini, rupanya sudah menjadikan aku yang nihil tentang dunia sepakbola ini sebagai narasumber persepakbolaan yang handal. Dalam 2 pertandingan terakhir, kawan ini kalah bertaruh gara-gara mengabaikan aku yang ‘hanya’ mengandalkan feeling semata. Dan celakanya, feelingku bagus (ah, jangan-jangan mereka menang karena sudah kutebak menang dengan feelingku, kawan??!! Kualirkan energi positif dalam tebakanku… Feeling oh feeling…).
Maka kujawablah kawan itu, lagi-lagi dengan feelingku: celsi, liverpool, newcaste, sunderland. MERDEKA!!! (mari kita lakukan uji feeling!).
Menjelang sore ketika orang-orang mulai berdatangan, saat itulah aku bersiap-siap memisahkan diri dengan pantai, ombak, dan angin, tentu saja setelah berucap terimakasih telah menemani dan sampai jumpa. Aku tak suka kegaduhan orang-orang di pantai.
Dan buku 3pun selesai sudah kubaca!
******
PS.
Jadi mbak Ani, kalau kau tanya apakah aku tak pernah kesepian disini, jawabnya tegas, “jelas pernah!”.
Jadi mbak Tari, kalau ada orang yang membatalkan rencananya berweekend denganku, jangan dikira itu tak berarti apapun bagiku :p
Thursday, 24 April 2008
perkenankanlah...
....maka puisi inipun menjadi puisi favoritku... (dan sudah selayaknyalah aku berterimakasih kepada Gus Mus, yang telah begitu indah menuangkannya)...
Perkenankanlah aku mencintaimu
(A. Mustofa Bisri)
Perkenankanlah aku mencintaimu
seperti ini
tanpa kekecewaan yang berarti
meski tanpa kepastian yang pasti
harapan-harapan yang setiap kali
dikecewakan kenyataan
biarlah dibayar oleh harapan-harapan baru
yang menjanjikan
perkenankanlah aku mencintaimu
semampuku
menyebut-nyebut namamu
dalam kesendirian pun lumayan
berdiri di depan pintumu tanpa harapan
kau membukakannya pun terasa nyaman
sekali-kali membayangkan kau memperhatikan
pun cukup memuaskan
perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku
Perkenankanlah aku mencintaimu
(A. Mustofa Bisri)
Perkenankanlah aku mencintaimu
seperti ini
tanpa kekecewaan yang berarti
meski tanpa kepastian yang pasti
harapan-harapan yang setiap kali
dikecewakan kenyataan
biarlah dibayar oleh harapan-harapan baru
yang menjanjikan
perkenankanlah aku mencintaimu
semampuku
menyebut-nyebut namamu
dalam kesendirian pun lumayan
berdiri di depan pintumu tanpa harapan
kau membukakannya pun terasa nyaman
sekali-kali membayangkan kau memperhatikan
pun cukup memuaskan
perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku
Wednesday, 23 April 2008
presentasi powerpoint
“Jangan sekali-sekali suruh aku bawain sesi dengan cara presentasi powerpoint. Cara ini hanya akan aku pakai ketika sudah tidak ada cara lain. Aku lebih suka dan nyaman pakai cara-cara yang merangsang otak kanan untuk bekerja. Sorry to say, presentasi power point tidak memungkinkan itu. Role play, gambar, dan games adalah cara-cara yang paling aku cintai untuk mengisi sesi; sementara presentasi powerpoint bikin aku mati, kecuali kita kemas dalam bentuk lain, mengkombinasikannya dengan role play dan games, misalnya. Jadi sekali lagi, jangan suruh aku bawain sesi dengan presentasi power point melulu, kecuali kamu ingin membunuhku….”
Thursday, 17 April 2008
mewadahi cinta-cinta
”Aku jadi takut dengan diriku. Aku nggak minta itu. . Hatiku sedang kewalahan”, katanya dengan cemas.
Cinta datang bertubi-tubi menghujaninya. Menyergap tanpa memberinya ampun. Maka hatinyapun gundah gulana bagaikan lajang menanti kekasih. Apa yang terjadi? Dia bertanya. Kujawab, ”Yang jelas, ada cinta yang sedang disodorkan kepadamu. Bersyukurlah, ada cinta! Siapapun berhak memberi dan mendapatkan cinta dari siapapun, biarpun kau bilang kau nggak sanggup mewadahi cinta-cinta itu dan hatimu sedang kewalahan. Aturlah cinta-cinta itu. Mungkin ada yang mesti ditaruh di piring, ada yang di gelas, ada yang di mangkok, dan mungkin ada yang di keranjang sampah :-) …Kamu orang yang kuat menghadapi cinta-cinta itu...”
Kadang-kadang cinta itu seperti Tuhan ya....bekerja dengan cara misterius..
Cinta datang bertubi-tubi menghujaninya. Menyergap tanpa memberinya ampun. Maka hatinyapun gundah gulana bagaikan lajang menanti kekasih. Apa yang terjadi? Dia bertanya. Kujawab, ”Yang jelas, ada cinta yang sedang disodorkan kepadamu. Bersyukurlah, ada cinta! Siapapun berhak memberi dan mendapatkan cinta dari siapapun, biarpun kau bilang kau nggak sanggup mewadahi cinta-cinta itu dan hatimu sedang kewalahan. Aturlah cinta-cinta itu. Mungkin ada yang mesti ditaruh di piring, ada yang di gelas, ada yang di mangkok, dan mungkin ada yang di keranjang sampah :-) …Kamu orang yang kuat menghadapi cinta-cinta itu...”
Kadang-kadang cinta itu seperti Tuhan ya....bekerja dengan cara misterius..
Thursday, 10 April 2008
Fruit Tea dan tempat minum
Akhirnya hari itu datang juga (sebuah hari di bulan Januari 2008), setelah berhari-hari kutunggu nggak datang-datang (kasihannya aku!): sebuah hari yang menyenangkan.
Aku melewati hari ini hanya berdua saja. Ya, berdua! Dengan seorang perempuan kecil (maaf, aku lebih nyaman menggunakan kata perempuan daripada gadis atau wanita atau kata lainnya yang sejenis) berusia 5 tahun, berambut keriting dan bermata bulat. Dalam kesehariannya dia dipanggil Sukma. Oleh orang tuanya dia diberi nama Sukma Kanthi Nurani. Menurut yang memberi nama, artinya kurang lebih: sukma yang dituntun oleh nurani.
Hari ini aku berhasil mengajaknya (atau dia berhasil mengajakku? Entahlah!) jalan-jalan dalam arti yang sesungguhnya. Dia memilih sendiri tujuannya: Taman Pintar (hhmmm, it’s a good choise). Oke, sepakat!
Rumah Sukma ada di sisi utara Jogja, yang hampir berbatasan dengan Jawa Tengah. Dan sebagai gambaran, tujuan yang ditentukan oleh Sukma itu kira-kira berjarak 20 km dari rumahnya (lumayan, kan?!). Taman Pintar ada di tengah kota Jogjakarta. Ujung selatan jalan Malioboro, terus belok kiri sekitar 400 m, sebelum traffic light yang kalau ke kanan ke arah Pojok Beteng Wetan dan kalau lurus ke arah Makam Pahlawan Kusumanegara.
Aku kasih dia 3 pilihan yang realistis buat kami untuk bisa sampai ke sana: motor, taxi, atau angkot, dengan penjelasan mengenai detil masing-masing. Yang terakhir itu jelas membutuhkan penjelasan yang paling panjang, sekaligus paling ’berdarah-darah’ untuk diimplemetasikan. Dia mendengarkan penjelasanku dengan seksama dan antusias.. Dan hebatnya, dia memilih yang terakhir. Setelah beberapa kali kukonfirmasi, dia tetap memilih itu dengan confidence. Luar biasa!! Aku bisa merasakan betapa dia sangat excited dengan trip yang akan kami jalani bersama. Oke, angkot!!
Dia minta bawa bekal minuman dan biskuit. Great, dia sadar bahwa logistik itu penting!Aku tawarkan bawa minum dari rumah dia dengan menggunakan tempat minum yang dia punya, sementara biskuit nanti dibeli di toko atau supermarket sekalian jalan. Dia menolak bekal minum dengan tempat minumnya. Ketika kutanya kenapa, dia jawab dengan polosnya, ”Aku pengen bawa minum Fruit Tea. Nanti beli aja sekalian beli biskuit”. Lalu ada sedikit diskusi disini. Kukatakan, ”minuman yang kita bikin sendiri dan kita taruh di tempat minum itu lebih sehat dan lebih enak. Nanti wadahnya bisa kita cuci dan kita pakai lagi. Kalau Fruit Tea kan wadahnya nggak bisa kita pakai lagi. Nanti bikin sampah ...” (Ah, jadi ingat sebuah tempat nun jauh sana yang selalu menyediakan begitu buanyak minuman kemasan dengan berbagai merk itu ketika makan siang. Pikir-pikir seberapa besar ya sumber daya yang dikeruk dari setiap kemasan dan sampah yang diproduksi tiap harinya??! Gimana dong dengan environmental friendly yang selama ini digemborin? Walk the talk please… Pernah lontarkan isu ini ke XXXX, dia hanya senyam-senyum aja nggak njawab). Kali ini dia nggak mau terima penjelasaanku. Kucoba lagi. Dia tetep nggak mau. Intinya, aku nggak berhasil membujuknya. Buat dia, jalan-jalan dengan membawa bekal Fruit Tea dan biskuit itu sungguh keren!
Oke, aku ulur uratku kali ini untuk ditarik lagi kali lain....
Aku melewati hari ini hanya berdua saja. Ya, berdua! Dengan seorang perempuan kecil (maaf, aku lebih nyaman menggunakan kata perempuan daripada gadis atau wanita atau kata lainnya yang sejenis) berusia 5 tahun, berambut keriting dan bermata bulat. Dalam kesehariannya dia dipanggil Sukma. Oleh orang tuanya dia diberi nama Sukma Kanthi Nurani. Menurut yang memberi nama, artinya kurang lebih: sukma yang dituntun oleh nurani.
Hari ini aku berhasil mengajaknya (atau dia berhasil mengajakku? Entahlah!) jalan-jalan dalam arti yang sesungguhnya. Dia memilih sendiri tujuannya: Taman Pintar (hhmmm, it’s a good choise). Oke, sepakat!
Rumah Sukma ada di sisi utara Jogja, yang hampir berbatasan dengan Jawa Tengah. Dan sebagai gambaran, tujuan yang ditentukan oleh Sukma itu kira-kira berjarak 20 km dari rumahnya (lumayan, kan?!). Taman Pintar ada di tengah kota Jogjakarta. Ujung selatan jalan Malioboro, terus belok kiri sekitar 400 m, sebelum traffic light yang kalau ke kanan ke arah Pojok Beteng Wetan dan kalau lurus ke arah Makam Pahlawan Kusumanegara.
Aku kasih dia 3 pilihan yang realistis buat kami untuk bisa sampai ke sana: motor, taxi, atau angkot, dengan penjelasan mengenai detil masing-masing. Yang terakhir itu jelas membutuhkan penjelasan yang paling panjang, sekaligus paling ’berdarah-darah’ untuk diimplemetasikan. Dia mendengarkan penjelasanku dengan seksama dan antusias.. Dan hebatnya, dia memilih yang terakhir. Setelah beberapa kali kukonfirmasi, dia tetap memilih itu dengan confidence. Luar biasa!! Aku bisa merasakan betapa dia sangat excited dengan trip yang akan kami jalani bersama. Oke, angkot!!
Dia minta bawa bekal minuman dan biskuit. Great, dia sadar bahwa logistik itu penting!Aku tawarkan bawa minum dari rumah dia dengan menggunakan tempat minum yang dia punya, sementara biskuit nanti dibeli di toko atau supermarket sekalian jalan. Dia menolak bekal minum dengan tempat minumnya. Ketika kutanya kenapa, dia jawab dengan polosnya, ”Aku pengen bawa minum Fruit Tea. Nanti beli aja sekalian beli biskuit”. Lalu ada sedikit diskusi disini. Kukatakan, ”minuman yang kita bikin sendiri dan kita taruh di tempat minum itu lebih sehat dan lebih enak. Nanti wadahnya bisa kita cuci dan kita pakai lagi. Kalau Fruit Tea kan wadahnya nggak bisa kita pakai lagi. Nanti bikin sampah ...” (Ah, jadi ingat sebuah tempat nun jauh sana yang selalu menyediakan begitu buanyak minuman kemasan dengan berbagai merk itu ketika makan siang. Pikir-pikir seberapa besar ya sumber daya yang dikeruk dari setiap kemasan dan sampah yang diproduksi tiap harinya??! Gimana dong dengan environmental friendly yang selama ini digemborin? Walk the talk please… Pernah lontarkan isu ini ke XXXX, dia hanya senyam-senyum aja nggak njawab). Kali ini dia nggak mau terima penjelasaanku. Kucoba lagi. Dia tetep nggak mau. Intinya, aku nggak berhasil membujuknya. Buat dia, jalan-jalan dengan membawa bekal Fruit Tea dan biskuit itu sungguh keren!
Oke, aku ulur uratku kali ini untuk ditarik lagi kali lain....
Friday, 4 April 2008
...diantara ingatan tentang bom
Kau tanyakan padaku, ”Bagaimana wajah Bali sekarang diantara ingatan tentang bom?" Entahlah apakah cerita ini akan menjawab pertanyaanmu atau tidak.
Suatu kali, jaman awal-awal aku punya pengalaman menggunakan pesawat sebagai alat transportasi, aku pernah menyimpan sebuah keinginan: terbang dalam kondisi hujan deras. Tersimpan sebuah rasa 'penasaran': seperti apa ya rasanya? Pasti penuh getaran-getaran sensasi! Lho, apa hubungannya dengan Bali? Ada! Keinginan dan rasa penasaranku itu terpenuhi dalam penerbangan dari Joga menuju Denpasar akhir tahun lalu, tepatnya tanggal 25 Desember, setelah aku melewatkan 5 hariku di Jogja.
Sensasional memang! Dan saking sensasionalnya, aku tak lagi ingin mengalaminya. Aku nggak kuat dengan sensasinya!
Mendaratlah itu Garuda di bandara Ngurah Rai, menjelang tengah malam. Segera menuju Taxi Service setelah ambil bagasi yang cuma travel bag semata wayang. Tak biasanya, penuh! Antrean panjang bak ular naga dalam dongeng. Dan akan bertambah panjang karena kudengar suara membahana berurutan, Mandala dan Lion yang sama-sama dari Jogja barusan mendarat (kenapa sih jadwal bareng-bareng gini?!). Tak ada pilihan lain, akupun masuk dalam antrean naga itu selama lebih dari setengah jam.
Entah kenapa, malam itu aku kebagian taksi yang sopirnya tak terlalu menyenangkan diajak ngobrol (Aku punya kebiasaan ngobrol dengan sopir selama tak tertempel stiker "Dilarang Berbicara dengan Sopir"). Dia omeli hujan yang turun dengan derasnya, dia omeli banjir, dan bahkan dia omeli aku karena aku lupa belokan menuju alamat kos-ku...Hhhmm, ajaib betul ni supir, kataku dalam hati.
Tengah malam itu semuanya memang serba di luar kebiasaan (tengah malam, bayangkan!). Kalian pasti pernah mengalami saat-saat seperti ini kan? Nah, begitu belok dari jl. Sidakarya ke jl. (sebetulnya sih lebih tepat disebut gang) Kertha Winangun I, aku mendapati keajaiban yang lain: genangan air memanjang macam sungai ada di depan mata. Banjir!! Lagi-lagi, terdengar omelan si sopir taksi. Memintaku turun di mulut gang karena dia nggak berani nyebrang 'danau' itu kecuali aku bertanggung jawab kalau mobilnya macet. Ya jelas aku ogah dong, enak ajah!! Bukan soal musti turun dan nyebrangnya sih, tapi soal the way he memintaku itu itu lho yang aku merasa sangat nggak 'berkenan'.
Baiklah. Dini hari itu aku sebrangilah itu sungai tiban, macam Yuyu Kangkang yang nyebrangin Kleting Abang, Kleting Ijo, dan Kleting Kuning yang mau ngelamar Andhe-andhe Lumut. Rujan rintik masih lumayan deras. Siap tempur, punggung menggendong sebuah ransel berisi laptop dan beberapa dokumen, tangan mendekap di dada sebuah travel bag berukuran tanggung, berisi penuh baju bersih dan barang tengek bengek yang kubawa dari Jogja (perlu kalian ketahui, waktu pulang ke Jogja 5 hari lalu, satu tas itupun penuh berisi baju. Bedanya, waktu itu baju-baju itu dalam keadaan siap cuci!!). Sungai itu setinggi lutut bagian atas (atau paha bagian bawah?). Begitu nyampe gerbang hitam itu, waahh lega sekali rasanya. Tapi..tak ada Andhe-andhe Lumut disana...
Si Bibik tentangga kamar yang kesehariannya momong bocah 3 bulan bernama Tian, sudah nongol di balik pintu kamarnya dengan wajah prihatin, begitu aku buka kunci pintu gerbang. Hhhmmm wet look, pikirnya! O ya, sedikit lagi tentang si Bibik ini, dialah yang aku titipi kunci di hari kedatangan Mia ke kos-ku. Waktu kuberitakan bahwa ada seorang teman mau nginap di tempatku, pertanyaan pertamanya, "Laki-laki atau perempuan, Mbak?". Waduh, si Bibik ini, mengingat usianya, pertanyaannya kok ya sangat “progresif revolusioner” gitu di kupingku. Atau aku yang terlalu konvensional ya??!!
Oke, kamarku masih dalam keadaan persis ketika kutinggal. Hujan deras makin deras. Membuatku was-was. Mata nggak mau pejam biarpun udah terasa pedas. Bentar-bentar kutengok luar lewat jendela, seberapa sudah air naik. Aku perkirakan semata kaki bagian atas (atau betis bagian bawah?).
Hujan masih deras. Aku makin was-was. Cerita tentang banjir yang selama ini hanya aku dengar dari kawan, aku baca dari koran, dan aku tonton dari televisi kini ada di depan mata. Begitu nyata!! Pengalaman dengan gempa besar di Jogja membuat 'antena'ku tentang segala hal yang terkait dengan bencana alam cepat memanjang. Suatu ketika di Banda Aceh, aku ingat aku pernah merasa sangat ngeri dan takut ketika angin yang begitu kenceng menerpa. Dan aku tahu si mbak-mbak Perancis (Ayu, Mia, Toni, masih ingat si mbak satu ini kan?), yang waktu itu duduk di dekatku, menangkap sorot mata ketakutanku itu. Dia tanya, "are you scared?". Kujawab jujur, iya.
Aku siapkan diriku in case air bener-bener masuk kamarku: ringkesin barang-barang yang tak banyak itu, taruh di atas. Siapkan space untuk kasur empukku itu. dll. Sebelum malam ini, aku berpikir bahwa kos-ku ini begitu ideal: tenang, nyaman, bersih, tak banyak penghuni, berkamar mandi, berdapur mungil, berteras depan dan belakang, dll. (Komentar Mia begini: "wah, mbak kos-mu ini kalau di Banda Aceh berapa ya harganya?". Untungnya, Denpasar bukan Banda Aceh, Mi!!). Tapi banjir malam ini merusak citra itu. Ah, barangkali waktu itu aku lupa bahwa ideal itu hanya ada di alam ide, bahkan untuk sebuah kamar kos sekalipun....
****
Suatu kali, jaman awal-awal aku punya pengalaman menggunakan pesawat sebagai alat transportasi, aku pernah menyimpan sebuah keinginan: terbang dalam kondisi hujan deras. Tersimpan sebuah rasa 'penasaran': seperti apa ya rasanya? Pasti penuh getaran-getaran sensasi! Lho, apa hubungannya dengan Bali? Ada! Keinginan dan rasa penasaranku itu terpenuhi dalam penerbangan dari Joga menuju Denpasar akhir tahun lalu, tepatnya tanggal 25 Desember, setelah aku melewatkan 5 hariku di Jogja.
Sensasional memang! Dan saking sensasionalnya, aku tak lagi ingin mengalaminya. Aku nggak kuat dengan sensasinya!
Mendaratlah itu Garuda di bandara Ngurah Rai, menjelang tengah malam. Segera menuju Taxi Service setelah ambil bagasi yang cuma travel bag semata wayang. Tak biasanya, penuh! Antrean panjang bak ular naga dalam dongeng. Dan akan bertambah panjang karena kudengar suara membahana berurutan, Mandala dan Lion yang sama-sama dari Jogja barusan mendarat (kenapa sih jadwal bareng-bareng gini?!). Tak ada pilihan lain, akupun masuk dalam antrean naga itu selama lebih dari setengah jam.
Entah kenapa, malam itu aku kebagian taksi yang sopirnya tak terlalu menyenangkan diajak ngobrol (Aku punya kebiasaan ngobrol dengan sopir selama tak tertempel stiker "Dilarang Berbicara dengan Sopir"). Dia omeli hujan yang turun dengan derasnya, dia omeli banjir, dan bahkan dia omeli aku karena aku lupa belokan menuju alamat kos-ku...Hhhmm, ajaib betul ni supir, kataku dalam hati.
Tengah malam itu semuanya memang serba di luar kebiasaan (tengah malam, bayangkan!). Kalian pasti pernah mengalami saat-saat seperti ini kan? Nah, begitu belok dari jl. Sidakarya ke jl. (sebetulnya sih lebih tepat disebut gang) Kertha Winangun I, aku mendapati keajaiban yang lain: genangan air memanjang macam sungai ada di depan mata. Banjir!! Lagi-lagi, terdengar omelan si sopir taksi. Memintaku turun di mulut gang karena dia nggak berani nyebrang 'danau' itu kecuali aku bertanggung jawab kalau mobilnya macet. Ya jelas aku ogah dong, enak ajah!! Bukan soal musti turun dan nyebrangnya sih, tapi soal the way he memintaku itu itu lho yang aku merasa sangat nggak 'berkenan'.
Baiklah. Dini hari itu aku sebrangilah itu sungai tiban, macam Yuyu Kangkang yang nyebrangin Kleting Abang, Kleting Ijo, dan Kleting Kuning yang mau ngelamar Andhe-andhe Lumut. Rujan rintik masih lumayan deras. Siap tempur, punggung menggendong sebuah ransel berisi laptop dan beberapa dokumen, tangan mendekap di dada sebuah travel bag berukuran tanggung, berisi penuh baju bersih dan barang tengek bengek yang kubawa dari Jogja (perlu kalian ketahui, waktu pulang ke Jogja 5 hari lalu, satu tas itupun penuh berisi baju. Bedanya, waktu itu baju-baju itu dalam keadaan siap cuci!!). Sungai itu setinggi lutut bagian atas (atau paha bagian bawah?). Begitu nyampe gerbang hitam itu, waahh lega sekali rasanya. Tapi..tak ada Andhe-andhe Lumut disana...
Si Bibik tentangga kamar yang kesehariannya momong bocah 3 bulan bernama Tian, sudah nongol di balik pintu kamarnya dengan wajah prihatin, begitu aku buka kunci pintu gerbang. Hhhmmm wet look, pikirnya! O ya, sedikit lagi tentang si Bibik ini, dialah yang aku titipi kunci di hari kedatangan Mia ke kos-ku. Waktu kuberitakan bahwa ada seorang teman mau nginap di tempatku, pertanyaan pertamanya, "Laki-laki atau perempuan, Mbak?". Waduh, si Bibik ini, mengingat usianya, pertanyaannya kok ya sangat “progresif revolusioner” gitu di kupingku. Atau aku yang terlalu konvensional ya??!!
Oke, kamarku masih dalam keadaan persis ketika kutinggal. Hujan deras makin deras. Membuatku was-was. Mata nggak mau pejam biarpun udah terasa pedas. Bentar-bentar kutengok luar lewat jendela, seberapa sudah air naik. Aku perkirakan semata kaki bagian atas (atau betis bagian bawah?).
Hujan masih deras. Aku makin was-was. Cerita tentang banjir yang selama ini hanya aku dengar dari kawan, aku baca dari koran, dan aku tonton dari televisi kini ada di depan mata. Begitu nyata!! Pengalaman dengan gempa besar di Jogja membuat 'antena'ku tentang segala hal yang terkait dengan bencana alam cepat memanjang. Suatu ketika di Banda Aceh, aku ingat aku pernah merasa sangat ngeri dan takut ketika angin yang begitu kenceng menerpa. Dan aku tahu si mbak-mbak Perancis (Ayu, Mia, Toni, masih ingat si mbak satu ini kan?), yang waktu itu duduk di dekatku, menangkap sorot mata ketakutanku itu. Dia tanya, "are you scared?". Kujawab jujur, iya.
Aku siapkan diriku in case air bener-bener masuk kamarku: ringkesin barang-barang yang tak banyak itu, taruh di atas. Siapkan space untuk kasur empukku itu. dll. Sebelum malam ini, aku berpikir bahwa kos-ku ini begitu ideal: tenang, nyaman, bersih, tak banyak penghuni, berkamar mandi, berdapur mungil, berteras depan dan belakang, dll. (Komentar Mia begini: "wah, mbak kos-mu ini kalau di Banda Aceh berapa ya harganya?". Untungnya, Denpasar bukan Banda Aceh, Mi!!). Tapi banjir malam ini merusak citra itu. Ah, barangkali waktu itu aku lupa bahwa ideal itu hanya ada di alam ide, bahkan untuk sebuah kamar kos sekalipun....
****
Thursday, 27 March 2008
api cinta Antonio Blanco
Februari 08
We are building
“The Blanco Renaissance Museum”
CV. Api Cinta Antonio Blanco
(Begitulah kata-kata dengan huruf warna hitam yang tertulis di papan berwarna putih berukuran kira-kira 2x1 meter. Ada sebuah simbol besar berwarna merah darah, membujur tepat di tengah papan itu, yang entah bergambar apa aku nggak bisa ngerti. Tapi kok..rasa-rasanya seperti gambar orang yang sedang duduk bersila, dengan kapala berbentuk runcing memanjang ke atas)
Aku sudah merasakan api cinta itu, dan sekarang sudah sepantasnya aku berucap, “Terimakasih atas api cintamu, Blanco. Akan kujaga dalam hatiku supaya tetap menyala dan kuberitakan kepada setiap orang tentangnya…” (weks!)
Kalau kamu masuk kesana, maka kamupun akan merasakannya: api cinta dalam lukisan-lukisannya. Berpuluh-puluh lukisan yang sebagian besar adalah lukisan perempuan bertelanjang dada. Sebagian kecilnya adalah lukisan perempuan telanjang bulat. Sebagian kecil lainnya adalah lukisan lelaki (yang sedikitpun tak bisa dibilang telanjang, baik dada, kaki, atau apapun juga). Beberapa dari lukisan itu berobjek istrinya, dan ada satu atau dua yang berobjek salah satu dari 3 anak perempuannya.
Sebagian lukisan-lukisan itu tak membawa kesan banyak buatku. Tapi beberapa diantaranya memberi kesan yang begitu dahsyat. Salah satunya adalah lukisan berjudul ‘Kingkong’. Kingkong? Iya, Kingkong, meski kau takkan melihat secuilpun bagian tubuh kingkong disitu. Kau malah akan mendapati tubuh telanjang perempuan dengan kaki ngangkang, dengan lubang vagina persis diatas ’kepala runcing’ simbol yang aku bilang tadi itu, siap masuk ke vaginanya. Dan ekspresi perempuan itu...sungguh….waduh, susah sekali kulukiskan dengan kata-kata. Luar biasa deh pokoknya. Entah berapa menit kulewatkan di depannya, tertegun dengan perasaan campur aduk!!
Ada satu lukisan lain yang menimbulkan reaksi persis seperti itu dalam diriku. Sebuah lukisan sketsa dua orang, perempuan dan lelaki, yang sedang berhubungan seks. Sketsa! Iya, sketsa. Tapi begitu hidup dan ekspresif!!
Nah, karya lain yang berkesan juga adalah karya berjudul ’Soap’. Ini adalah, lagi-lagi, gambar perempuan telanjang dengan ’bermandikan’ sabun. Yang juga menarik adalah bingkai karya ini: sabun-sabun jadul (seangkatan ’Super Bisa’ gitu!) menjadi bingkai yang mengelilinginya.
Ada yang lain lagi. Gambar bibir (jadi ingat Iyak!) perempuan, berlipstik warna merah, merah darah, dengan tangan memegang lipstik yang masih nempel di bibir. Nah, yang bikin ’senyam-senyum’ tu tahu nggak sih...lipstik berwarna merah darah itu berbentuk.....PENIS, saudara-saudara....
Masih buanyaaakk yang lain yang nggak bisa kuceritakan satu per satu. O ya, sekedar memberikan gambaran fisik...Papan ’CV Api Cinta’ itu berada disamping pintu masuk gedung musem yang mesti melewati entah berapa puluh anak tangga. Menuju pintu masuk itu, kamu akan memasuki ‘gerbang’ berbentuk simbol yang dalam pandangan mataku seperi orang berkepala runcing duduk bersila itu tadi, dalam ukuran raksasa. Sebelum memasuki gerbang raksasa ini, sesungguhnya sudah ada dua gerbang lain yang kulewati. Pertama di pintu masuk paling luar, dekat parkiran dan yang kedua terletak di kompleks museumnya. Keduanya berbentuk lingkaran. Berpadu dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, lingkaran-lingaran itu sungguh seperti mendapatkan tempat yang sangat pas. Dan satu hal lagi, kamu akan merasa ’at home’ disini, tidak akan merasa ’at museum’ sama sekali.....
Maka kalau kamu ke Bali, pergilah ke Ubud, rasakanlah api cintanya!!
We are building
“The Blanco Renaissance Museum”
CV. Api Cinta Antonio Blanco
(Begitulah kata-kata dengan huruf warna hitam yang tertulis di papan berwarna putih berukuran kira-kira 2x1 meter. Ada sebuah simbol besar berwarna merah darah, membujur tepat di tengah papan itu, yang entah bergambar apa aku nggak bisa ngerti. Tapi kok..rasa-rasanya seperti gambar orang yang sedang duduk bersila, dengan kapala berbentuk runcing memanjang ke atas)
Aku sudah merasakan api cinta itu, dan sekarang sudah sepantasnya aku berucap, “Terimakasih atas api cintamu, Blanco. Akan kujaga dalam hatiku supaya tetap menyala dan kuberitakan kepada setiap orang tentangnya…” (weks!)
Kalau kamu masuk kesana, maka kamupun akan merasakannya: api cinta dalam lukisan-lukisannya. Berpuluh-puluh lukisan yang sebagian besar adalah lukisan perempuan bertelanjang dada. Sebagian kecilnya adalah lukisan perempuan telanjang bulat. Sebagian kecil lainnya adalah lukisan lelaki (yang sedikitpun tak bisa dibilang telanjang, baik dada, kaki, atau apapun juga). Beberapa dari lukisan itu berobjek istrinya, dan ada satu atau dua yang berobjek salah satu dari 3 anak perempuannya.
Sebagian lukisan-lukisan itu tak membawa kesan banyak buatku. Tapi beberapa diantaranya memberi kesan yang begitu dahsyat. Salah satunya adalah lukisan berjudul ‘Kingkong’. Kingkong? Iya, Kingkong, meski kau takkan melihat secuilpun bagian tubuh kingkong disitu. Kau malah akan mendapati tubuh telanjang perempuan dengan kaki ngangkang, dengan lubang vagina persis diatas ’kepala runcing’ simbol yang aku bilang tadi itu, siap masuk ke vaginanya. Dan ekspresi perempuan itu...sungguh….waduh, susah sekali kulukiskan dengan kata-kata. Luar biasa deh pokoknya. Entah berapa menit kulewatkan di depannya, tertegun dengan perasaan campur aduk!!
Ada satu lukisan lain yang menimbulkan reaksi persis seperti itu dalam diriku. Sebuah lukisan sketsa dua orang, perempuan dan lelaki, yang sedang berhubungan seks. Sketsa! Iya, sketsa. Tapi begitu hidup dan ekspresif!!
Nah, karya lain yang berkesan juga adalah karya berjudul ’Soap’. Ini adalah, lagi-lagi, gambar perempuan telanjang dengan ’bermandikan’ sabun. Yang juga menarik adalah bingkai karya ini: sabun-sabun jadul (seangkatan ’Super Bisa’ gitu!) menjadi bingkai yang mengelilinginya.
Ada yang lain lagi. Gambar bibir (jadi ingat Iyak!) perempuan, berlipstik warna merah, merah darah, dengan tangan memegang lipstik yang masih nempel di bibir. Nah, yang bikin ’senyam-senyum’ tu tahu nggak sih...lipstik berwarna merah darah itu berbentuk.....PENIS, saudara-saudara....
Masih buanyaaakk yang lain yang nggak bisa kuceritakan satu per satu. O ya, sekedar memberikan gambaran fisik...Papan ’CV Api Cinta’ itu berada disamping pintu masuk gedung musem yang mesti melewati entah berapa puluh anak tangga. Menuju pintu masuk itu, kamu akan memasuki ‘gerbang’ berbentuk simbol yang dalam pandangan mataku seperi orang berkepala runcing duduk bersila itu tadi, dalam ukuran raksasa. Sebelum memasuki gerbang raksasa ini, sesungguhnya sudah ada dua gerbang lain yang kulewati. Pertama di pintu masuk paling luar, dekat parkiran dan yang kedua terletak di kompleks museumnya. Keduanya berbentuk lingkaran. Berpadu dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, lingkaran-lingaran itu sungguh seperti mendapatkan tempat yang sangat pas. Dan satu hal lagi, kamu akan merasa ’at home’ disini, tidak akan merasa ’at museum’ sama sekali.....
Maka kalau kamu ke Bali, pergilah ke Ubud, rasakanlah api cintanya!!
hujan...
7 Nov 07
Terbangun dari tidur lelap oleh suara hujan. Deras. Tertumpah dari langit bagai air bah. Jam lima pagi. Kubuka pintu, duduk di teras, menikmati hujan. Hujan selalu membawaku pada sebuah kesyahduan, meski nggak ada aktivitas bercinta sekalipun (nggak ada yang ngajak dan diajak bercinta, maksudnya!).
Ingat Cici semalam yang dengan penuh semangat datang mengunjungiku. Dia sedang di Denpasar sampai akhir November ini. Cici ini adalah teman serumahku waktu di Banda Aceh. Kami berdua membuat suasana rumah jadi begitu rame dengan senda gurau yang seringkali bikin orang yang belum terbiasa dengan kami geleng-geleng kepala. Perutnya sudah membesar akibat aktivitasnya bercinta. Lima bulan. Kakinya udah mulai bengkak-bengkak (ih, Ci, bukannya 5 bulan terlalu awal untuk kaki bengkak-bengkak karena hamil?).
Ditengah hujan datanglah sebuah kabar dari seorang kawan: “Teto, anaknya Bebet, meninggal dunia setelah 10 hari dirawat di Panti Rapih karena leukemia”. Oh Tuhanku, leukemia!! Segera kukirim pesan ke Bebet: “Turut belasungkawa atas diambilnya Teto oleh Yang Punya Hidup. Percayalah, ini adalah yang terbaik buat dia dan orang-orang yang ditinggalnya”. Tentang Bebet, dia adalah seorang kawan lama. Terakhir ketemu dia waktu ngumpul-ngumpul di kawasan Kotabaru beberapa hari setelah Lebaran kemarin, setelah sekian tahun tak ketemu. Ada perasaan bahagia yang begitu meluap-luap ketika aku ketemu dengan kawan baik yang lama sekali terpisahkan oleh waktu. Catat komentarnya pada seorang kawan yang kami panggil si Oom, sesaat setelah dia muncul di ketemuan itu, “Walaaahhh pantesan, tak goleki kuburanmu neng ndi-ndi ra ketemu, jebul isih urip to kowe!!” (Walaaahhhh pantesan, aku cari kuburanmu dimana-mana nggak ketemu, ternyata masih hidup kau!!). Begitulah Bebet, yang bernama Albertus Darmawan Suwito. Dia adalah salah satu icon De Brito, sekolah khusus lelaki yang sekarang disebut SMU itu, pada jamannya. Image tentang De Brito di mataku adalah ‘liar nan pintar’. Hhmmm liar nan pintar…sebuah kombinasi yang sungguh menggoda!
Ada berita lain tentang seorang kawan lain. Bunyinya: “anakku udah lahir semalam, jam 11.30, laki-laki, 3.6 kg, 51 cm. belum ada nama” (idih, Iwan Fals banget!). Kubilang, “selamat datang untuk anakmu yang belum bernama itu, kawan! Katakan padanya, nikmatilah dunia ini. cepet kasih dia nama supaya aku gampang memanggilnya. kata orang Jawa, anak yg lahir pada jam2 segitu kelak akan jadi anak pemberani”. Kawan ini mengingatkanku pada Bang Mamat yang di Aceh. Mereka berdua punya kesamaan: anaknya – orang Jawa bilang – ndrindil! Ndrindil tu…jarak usia antara satu anak dengan anak yang lain berdekatan (ya...satu sampai satu setengah tahun gitulah… dan biasanya mengacu pada jumlah yang nggak bisa dibilang sedikit (paling nggak 3 gitulah…karena kalau baru 2, biasanya belum disebut ndrindil). Sampai-sampai seorang kawan berkomentar ke Bang Mamat, “Bang, produktif kali …lama-lama nanti istrimu belum lagi melahirkan sudah hamil lagi…”.
Begitulah, dalam waktu kurang dari 15 menit, ada yang pergi dan ada yang datang. Bukankah hidup ini begitu adanya? Datang-pergi, masuk-keluar, itu biasa. Biasa banget! Nggak ada masalah. Yang bermasalah adalah kalau datang nggak pergi-pergi, atau pergi nggak datang-datang; masuk nggak keluar-keluar atau keluar nggak masuk-masuk! Nah, yang lebih bermasalah adalah kalau belum datang sudah pergi, belum masuk sudah keluar!!
Hujan. Rasanya dia mengikuti langkahku. Hari Rabu lalu ketika datang ke Jogja, pagi menjelang siang...Just landed! Dan suara Katon Bagaskara mengalun memenuhi kabin Lion Air. Pulang ke kotamu..ada setangkup haru dalam rindu…masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahaja…penuh selaksa makna…terhanyut aku akan nostalgi, saat kita sering luangkan waktu…nikmati bersama suasana Jogja…” Ah, baru kali ini aku landing di Jogja dengan ‘soundtrack’ lagu itu. Bikin aku nggak pengen segera beranjak dari tempat duduk. Dan malam harinya, hujan turun di Jogja, beruturut-turut selama 4 hari nggak brenti, hanya intensitasnya saja yang naik turun. Dan ini adalah hujan deras pertama yang membasahi Jogja.
Hujan. Rasanya dia mengikuti langkahku. Hari Minggu kemarin menjelang tengah malam, aku sampai Sanur. Senin malamnya, hujanpun mengguyur Sanur. Begitu juga Selasa malam, dan Rabu pagi.
Masih hujan. Dingin. Rasanya waktu berlari bagaikan setan, mengejarku, dan aku tak kuasa berlari lagi. Sebuah pertanyaanpun menyergap, “Sampai kapan aku akan begini?”
Puri Kelapa,
pagi-pagi..
Terbangun dari tidur lelap oleh suara hujan. Deras. Tertumpah dari langit bagai air bah. Jam lima pagi. Kubuka pintu, duduk di teras, menikmati hujan. Hujan selalu membawaku pada sebuah kesyahduan, meski nggak ada aktivitas bercinta sekalipun (nggak ada yang ngajak dan diajak bercinta, maksudnya!).
Ingat Cici semalam yang dengan penuh semangat datang mengunjungiku. Dia sedang di Denpasar sampai akhir November ini. Cici ini adalah teman serumahku waktu di Banda Aceh. Kami berdua membuat suasana rumah jadi begitu rame dengan senda gurau yang seringkali bikin orang yang belum terbiasa dengan kami geleng-geleng kepala. Perutnya sudah membesar akibat aktivitasnya bercinta. Lima bulan. Kakinya udah mulai bengkak-bengkak (ih, Ci, bukannya 5 bulan terlalu awal untuk kaki bengkak-bengkak karena hamil?).
Ditengah hujan datanglah sebuah kabar dari seorang kawan: “Teto, anaknya Bebet, meninggal dunia setelah 10 hari dirawat di Panti Rapih karena leukemia”. Oh Tuhanku, leukemia!! Segera kukirim pesan ke Bebet: “Turut belasungkawa atas diambilnya Teto oleh Yang Punya Hidup. Percayalah, ini adalah yang terbaik buat dia dan orang-orang yang ditinggalnya”. Tentang Bebet, dia adalah seorang kawan lama. Terakhir ketemu dia waktu ngumpul-ngumpul di kawasan Kotabaru beberapa hari setelah Lebaran kemarin, setelah sekian tahun tak ketemu. Ada perasaan bahagia yang begitu meluap-luap ketika aku ketemu dengan kawan baik yang lama sekali terpisahkan oleh waktu. Catat komentarnya pada seorang kawan yang kami panggil si Oom, sesaat setelah dia muncul di ketemuan itu, “Walaaahhh pantesan, tak goleki kuburanmu neng ndi-ndi ra ketemu, jebul isih urip to kowe!!” (Walaaahhhh pantesan, aku cari kuburanmu dimana-mana nggak ketemu, ternyata masih hidup kau!!). Begitulah Bebet, yang bernama Albertus Darmawan Suwito. Dia adalah salah satu icon De Brito, sekolah khusus lelaki yang sekarang disebut SMU itu, pada jamannya. Image tentang De Brito di mataku adalah ‘liar nan pintar’. Hhmmm liar nan pintar…sebuah kombinasi yang sungguh menggoda!
Ada berita lain tentang seorang kawan lain. Bunyinya: “anakku udah lahir semalam, jam 11.30, laki-laki, 3.6 kg, 51 cm. belum ada nama” (idih, Iwan Fals banget!). Kubilang, “selamat datang untuk anakmu yang belum bernama itu, kawan! Katakan padanya, nikmatilah dunia ini. cepet kasih dia nama supaya aku gampang memanggilnya. kata orang Jawa, anak yg lahir pada jam2 segitu kelak akan jadi anak pemberani”. Kawan ini mengingatkanku pada Bang Mamat yang di Aceh. Mereka berdua punya kesamaan: anaknya – orang Jawa bilang – ndrindil! Ndrindil tu…jarak usia antara satu anak dengan anak yang lain berdekatan (ya...satu sampai satu setengah tahun gitulah… dan biasanya mengacu pada jumlah yang nggak bisa dibilang sedikit (paling nggak 3 gitulah…karena kalau baru 2, biasanya belum disebut ndrindil). Sampai-sampai seorang kawan berkomentar ke Bang Mamat, “Bang, produktif kali …lama-lama nanti istrimu belum lagi melahirkan sudah hamil lagi…”.
Begitulah, dalam waktu kurang dari 15 menit, ada yang pergi dan ada yang datang. Bukankah hidup ini begitu adanya? Datang-pergi, masuk-keluar, itu biasa. Biasa banget! Nggak ada masalah. Yang bermasalah adalah kalau datang nggak pergi-pergi, atau pergi nggak datang-datang; masuk nggak keluar-keluar atau keluar nggak masuk-masuk! Nah, yang lebih bermasalah adalah kalau belum datang sudah pergi, belum masuk sudah keluar!!
Hujan. Rasanya dia mengikuti langkahku. Hari Rabu lalu ketika datang ke Jogja, pagi menjelang siang...Just landed! Dan suara Katon Bagaskara mengalun memenuhi kabin Lion Air. Pulang ke kotamu..ada setangkup haru dalam rindu…masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahaja…penuh selaksa makna…terhanyut aku akan nostalgi, saat kita sering luangkan waktu…nikmati bersama suasana Jogja…” Ah, baru kali ini aku landing di Jogja dengan ‘soundtrack’ lagu itu. Bikin aku nggak pengen segera beranjak dari tempat duduk. Dan malam harinya, hujan turun di Jogja, beruturut-turut selama 4 hari nggak brenti, hanya intensitasnya saja yang naik turun. Dan ini adalah hujan deras pertama yang membasahi Jogja.
Hujan. Rasanya dia mengikuti langkahku. Hari Minggu kemarin menjelang tengah malam, aku sampai Sanur. Senin malamnya, hujanpun mengguyur Sanur. Begitu juga Selasa malam, dan Rabu pagi.
Masih hujan. Dingin. Rasanya waktu berlari bagaikan setan, mengejarku, dan aku tak kuasa berlari lagi. Sebuah pertanyaanpun menyergap, “Sampai kapan aku akan begini?”
Puri Kelapa,
pagi-pagi..
Wednesday, 26 March 2008
tentang sebuah pulau di tengah danau
awal Oktober 2007
(kepada - in alphabetical disorder- Rheinhardt, Ayu, Mia, Ali, Iyak, Toni, Enda, Juang, Maureen, Airil, Udin, Kautsar, Ayi - tentang sebuah perjalanan di 21-23 September 07. Maafkan atas keputusan menjadi "separatis" dari sebuah kebersamaan yang tak terdamaikan, demi sebuah obsesi tentang sebuah pulau di tengah danau itu..)
Maaf, aku tak pernah bisa betah dalam hiruk-pikuknya kehidupan kota macam Medan, bahkan untuk 2 hari sekalipun.. Buatku, kota itu hanyalah tempat transit semata untuk kakiku melangkah lagi..Aku memang mengikuti kemana kakiku ingin melangkah, untuk memenuhi rasa ingin tahuku, untuk memenuhi hasratku.
Kalian tahu kan, kalau kita punya keinginan yang begitu amat sangat kuat, maka seluruh alam raya ini akan membantu kita untuk mencapainya (semacam "you can if you think you can"?). Oleh karena itulah, tanpa mengurangi rasa terimakasihku pada Rhein, aku abaikan saran Rhein via sms Enda untuk nyebrang keesokan pagi ketika kuberitakan bahwa feri terakhir akan nyebrang jam 20.30. Aku tetep nyebrang pada malam itu juga karena keyakinan penuh bahwa everything is gonna be alright (apa sih yang bisa mengalahkan sebuah keyakinan yang begitu penuh sampai tumpah ruah?). Maafkan aku tak mematuhimu, Rhein.
Dalam hatiku yang paling dalam aku tak pernah percaya pada apa yang orang bilang sebagai "kebetulan" karena sesungguhnya ada sebuah "behind the screen" yang tak mampu kita ikuti karena keterbatasan panca indra kita. Seperti halnya malam itu. Aku (dan Mia, tentu saja!) bertemu dengan seorang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Mr. Bloom (kayaknya sih orang Tuktuk tulen) yang malam itu sedang bertugas menjemput mobil bos-nya yang dikirim dari Medan. Dan tanpa dia sadari, sesungguhnya dia juga diberi tugas untuk menjemput kami berdua, karena kalau nggak ketemu dia barangkali kami sudah terlunta-lunta di tengah pulau itu, pulau yang ada di tengah danau, malam-malam pula!!
Jadilah malam itu kami numpang mobil yang dia bawa ke penginapan Samosir, tempat dia melewatkan kesehariannya sebagai tangan kanan bos-nya dan tempat kami melewatkan malam itu dengan nyaman. Dan percayalah, itu semua bukan kebetulan. Itu adalah resultan dari sebuah keinginan kuat dan banyak faktor lainnya. See, we had made it...
Aku selalu tergila-gila pada sunrise (juga sunset), riak air, bulan purnama, angin, awan, ombak, daun, dan embun. Oleh karena itulah keesokan harinya akupun bersetubuh dengan kemilau sunrise dan riak air danau keramat itu (tapi sesungguhnya bulan purnama, ombak, dan angin adalah paduan yang sempurna buatku..). Bebas. Tak perlu pakai kondom. O ya, Rhein, kawan kecilmu, si Apul yang kau bilang itu, pasti nggak pakai kondom ya waktu bersenggama dengan dan pelacur di Losmen Gagak Hitam itu. Ah, si Apul waktu itu mana tahu kondom ..
Perbincangan-perbincangan sebelumnya yang melahirkan trip ini sesungguhnya adalah tentang sesuatu yang tak jauh-jauh dari kondom, yaitu tentang penis ereksi. Dan ini mengingatkanku paling tidak pada 3 hal: Sigmund Freud, feminisme radikal, dan dildo. Percayalah, dua yang pertama itu sama sekali tak menarik untuk dibahas, paling tidak aku tak ingin membahasnya saat ini.
Sementara dildo...hhmmm, banyak sekali memory tentang dildo. O ya, buat yang belum tahu dildo, dildo itu adalah replika penis yang sedang ereksi. Dia bisa terbuat dari kayu, fiber, atau apapun juga. Dildo mengingatkanku pada kondom. Lalu, kondom mengingatkanku pada pelacur... Keduanya membawaku jauh ke lorong-lorong sempit Sosrowijayan sekian tahun yang lalu. Aku pernah melewatkan sepotong waktu dalam hidupku disini, menjadi kawan mbak Menik, mbak Dewi, mbak Yayuk, mbak Eva, dll (ada dimana mereka sekarang ya?). Tiap kali pergi kesana, aku selalu masuk lewat gang sempit banget sebelah barat radio Unisi. Ini adalah lorong favoritku karena lorong ini selalu lebih "meriah" oleh gelak tawa perempuan dan lelaki dalam losmen-losmen yang aku lalui (ketika aku coba merecall memory-ku tentang nama-nama losmen ini, celakanya, tak kuingat satupun!! Ohh memory...). Di lorong-lorong ini pula-lah tak jarang aku dikuntit lelaki tak kukenal bertampang mesum, diajaknya ngobrol, ditanya tinggal di losmen mana, bla bla bla..dan kemudian mereka selalu ngacir manakala tahu aku menuju sebuah rumah bertuliskan "Griya Lentera PKBI DIY". Selain volunteer penanggulangan HIV-AIDS, disini juga ada kondom berdos-dos dan dildo berjajar-jajar. O ya, masih perihal dildo, waktu awal-awal aku sempat geli ngeliatnya. "Ih ini barang lucu banget sih bentuknya", pikirku menatapnya lekat-lekat sambil ketawa geli.
Oke, kembali ke pulau di tengah danau yang Rhein bilang keramat itu (hanya gara-gara disanalah dia untuk pertamakalinya membiarkan penisnya terbuka? Atau apa?)... Begitulah, kami sewa sebuah "kereta" (baca: motor) untuk berkeliaran, dengan berbekal selembar peta ala kadarnya yang kami dapat dari penginapan. Lagi-lagi, kami berjalan mengikuti kaki. Memang bener, inilah kemerdekaan kaki sepenuhnya.
Bekas kerajaan Amarita, pemandian air panas di Pangururan itu (ah, aku kira ini sebuah pemandian natural, ternyata bukan!! Huhh!! Anyway, atmosphere di sekitar tempat ini sungguh luar biasa: sunyi sepi senyap tanpa ada setitik kesepianpun kalian rasakan, dengan beberapa ekor burung nan indah terbang melintas), danau bernama Sidihoni yang ada di tengah Samosir, padang rumput nan sungguh luas, dan hal-hal menakjubkan lainnya, semua itu kami jumpai dalam keliaran. Dan rasa bahagiapun meluap-luap!! (gampang kan bikin aku bahagia?! Ajak aja berkeliaran seliar-liarnya!!).
....tapi bagaimanapun juga, keliaran ini musti diakhiri. Dan tak ada satupun yang sediktator sang waktu dalam urusan ini. Maka sore itu juga kami nyebrang ke Prapat untuk balik ke Medan, bergabung dengan anggota gerombolan lain, dan malamnya kembali ke Banda rame-rame dengan bus "Kurnia".
Satu pesanku, jangan pernah minta aku bawa kunci. Selalu, dan pasti akan hilang. Sudah ada banyak pembuktian tentang hal ini. Paling tidak, sudah tiga kali aku ngilangin kunci kamar guest house sehingga kena "warning" oleh "ibu kost", dan yang paling up to date adalah aku ngilangin kunci penginapan Samosir sehingga si abang Bloon itu musti charge aku 50 rb perak untuk kunci yang hilang itu. Bagitulah, reputasiku dalam hal menyimpan kunci ini sama sekali nggak bisa diandalkan.
Satu lagi...aku sedang berpikir tentang next destination: Pulo Batee!! (yang kelak di kemudian hari aku tahu bahwa belum sampai kesana, aku sudah meninggalkan bumi Aceh....)
:-)
(kepada - in alphabetical disorder- Rheinhardt, Ayu, Mia, Ali, Iyak, Toni, Enda, Juang, Maureen, Airil, Udin, Kautsar, Ayi - tentang sebuah perjalanan di 21-23 September 07. Maafkan atas keputusan menjadi "separatis" dari sebuah kebersamaan yang tak terdamaikan, demi sebuah obsesi tentang sebuah pulau di tengah danau itu..)
Maaf, aku tak pernah bisa betah dalam hiruk-pikuknya kehidupan kota macam Medan, bahkan untuk 2 hari sekalipun.. Buatku, kota itu hanyalah tempat transit semata untuk kakiku melangkah lagi..Aku memang mengikuti kemana kakiku ingin melangkah, untuk memenuhi rasa ingin tahuku, untuk memenuhi hasratku.
Kalian tahu kan, kalau kita punya keinginan yang begitu amat sangat kuat, maka seluruh alam raya ini akan membantu kita untuk mencapainya (semacam "you can if you think you can"?). Oleh karena itulah, tanpa mengurangi rasa terimakasihku pada Rhein, aku abaikan saran Rhein via sms Enda untuk nyebrang keesokan pagi ketika kuberitakan bahwa feri terakhir akan nyebrang jam 20.30. Aku tetep nyebrang pada malam itu juga karena keyakinan penuh bahwa everything is gonna be alright (apa sih yang bisa mengalahkan sebuah keyakinan yang begitu penuh sampai tumpah ruah?). Maafkan aku tak mematuhimu, Rhein.
Dalam hatiku yang paling dalam aku tak pernah percaya pada apa yang orang bilang sebagai "kebetulan" karena sesungguhnya ada sebuah "behind the screen" yang tak mampu kita ikuti karena keterbatasan panca indra kita. Seperti halnya malam itu. Aku (dan Mia, tentu saja!) bertemu dengan seorang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Mr. Bloom (kayaknya sih orang Tuktuk tulen) yang malam itu sedang bertugas menjemput mobil bos-nya yang dikirim dari Medan. Dan tanpa dia sadari, sesungguhnya dia juga diberi tugas untuk menjemput kami berdua, karena kalau nggak ketemu dia barangkali kami sudah terlunta-lunta di tengah pulau itu, pulau yang ada di tengah danau, malam-malam pula!!
Jadilah malam itu kami numpang mobil yang dia bawa ke penginapan Samosir, tempat dia melewatkan kesehariannya sebagai tangan kanan bos-nya dan tempat kami melewatkan malam itu dengan nyaman. Dan percayalah, itu semua bukan kebetulan. Itu adalah resultan dari sebuah keinginan kuat dan banyak faktor lainnya. See, we had made it...
Aku selalu tergila-gila pada sunrise (juga sunset), riak air, bulan purnama, angin, awan, ombak, daun, dan embun. Oleh karena itulah keesokan harinya akupun bersetubuh dengan kemilau sunrise dan riak air danau keramat itu (tapi sesungguhnya bulan purnama, ombak, dan angin adalah paduan yang sempurna buatku..). Bebas. Tak perlu pakai kondom. O ya, Rhein, kawan kecilmu, si Apul yang kau bilang itu, pasti nggak pakai kondom ya waktu bersenggama dengan dan pelacur di Losmen Gagak Hitam itu. Ah, si Apul waktu itu mana tahu kondom ..
Perbincangan-perbincangan sebelumnya yang melahirkan trip ini sesungguhnya adalah tentang sesuatu yang tak jauh-jauh dari kondom, yaitu tentang penis ereksi. Dan ini mengingatkanku paling tidak pada 3 hal: Sigmund Freud, feminisme radikal, dan dildo. Percayalah, dua yang pertama itu sama sekali tak menarik untuk dibahas, paling tidak aku tak ingin membahasnya saat ini.
Sementara dildo...hhmmm, banyak sekali memory tentang dildo. O ya, buat yang belum tahu dildo, dildo itu adalah replika penis yang sedang ereksi. Dia bisa terbuat dari kayu, fiber, atau apapun juga. Dildo mengingatkanku pada kondom. Lalu, kondom mengingatkanku pada pelacur... Keduanya membawaku jauh ke lorong-lorong sempit Sosrowijayan sekian tahun yang lalu. Aku pernah melewatkan sepotong waktu dalam hidupku disini, menjadi kawan mbak Menik, mbak Dewi, mbak Yayuk, mbak Eva, dll (ada dimana mereka sekarang ya?). Tiap kali pergi kesana, aku selalu masuk lewat gang sempit banget sebelah barat radio Unisi. Ini adalah lorong favoritku karena lorong ini selalu lebih "meriah" oleh gelak tawa perempuan dan lelaki dalam losmen-losmen yang aku lalui (ketika aku coba merecall memory-ku tentang nama-nama losmen ini, celakanya, tak kuingat satupun!! Ohh memory...). Di lorong-lorong ini pula-lah tak jarang aku dikuntit lelaki tak kukenal bertampang mesum, diajaknya ngobrol, ditanya tinggal di losmen mana, bla bla bla..dan kemudian mereka selalu ngacir manakala tahu aku menuju sebuah rumah bertuliskan "Griya Lentera PKBI DIY". Selain volunteer penanggulangan HIV-AIDS, disini juga ada kondom berdos-dos dan dildo berjajar-jajar. O ya, masih perihal dildo, waktu awal-awal aku sempat geli ngeliatnya. "Ih ini barang lucu banget sih bentuknya", pikirku menatapnya lekat-lekat sambil ketawa geli.
Oke, kembali ke pulau di tengah danau yang Rhein bilang keramat itu (hanya gara-gara disanalah dia untuk pertamakalinya membiarkan penisnya terbuka? Atau apa?)... Begitulah, kami sewa sebuah "kereta" (baca: motor) untuk berkeliaran, dengan berbekal selembar peta ala kadarnya yang kami dapat dari penginapan. Lagi-lagi, kami berjalan mengikuti kaki. Memang bener, inilah kemerdekaan kaki sepenuhnya.
Bekas kerajaan Amarita, pemandian air panas di Pangururan itu (ah, aku kira ini sebuah pemandian natural, ternyata bukan!! Huhh!! Anyway, atmosphere di sekitar tempat ini sungguh luar biasa: sunyi sepi senyap tanpa ada setitik kesepianpun kalian rasakan, dengan beberapa ekor burung nan indah terbang melintas), danau bernama Sidihoni yang ada di tengah Samosir, padang rumput nan sungguh luas, dan hal-hal menakjubkan lainnya, semua itu kami jumpai dalam keliaran. Dan rasa bahagiapun meluap-luap!! (gampang kan bikin aku bahagia?! Ajak aja berkeliaran seliar-liarnya!!).
....tapi bagaimanapun juga, keliaran ini musti diakhiri. Dan tak ada satupun yang sediktator sang waktu dalam urusan ini. Maka sore itu juga kami nyebrang ke Prapat untuk balik ke Medan, bergabung dengan anggota gerombolan lain, dan malamnya kembali ke Banda rame-rame dengan bus "Kurnia".
Satu pesanku, jangan pernah minta aku bawa kunci. Selalu, dan pasti akan hilang. Sudah ada banyak pembuktian tentang hal ini. Paling tidak, sudah tiga kali aku ngilangin kunci kamar guest house sehingga kena "warning" oleh "ibu kost", dan yang paling up to date adalah aku ngilangin kunci penginapan Samosir sehingga si abang Bloon itu musti charge aku 50 rb perak untuk kunci yang hilang itu. Bagitulah, reputasiku dalam hal menyimpan kunci ini sama sekali nggak bisa diandalkan.
Satu lagi...aku sedang berpikir tentang next destination: Pulo Batee!! (yang kelak di kemudian hari aku tahu bahwa belum sampai kesana, aku sudah meninggalkan bumi Aceh....)
:-)
yang tiba-tiba memudar [in between - part five]
From: ......@yahoo.com
subject: Fwd: Fwd: Fwd: Cinta yg tiba2 memudar...
kau pernah katakan satu saat nanti
getaran-getaran itu akan hilang sendirinya
seiring dengan waktu..tanpa alasan dan tanpa harus ada sebab.
waktu itu aku tak percaya...karena aku mempunyai keyakinan penuh
dengan segenap cintaku padamu, dan cintamu yang begitu tulus padaku
dengan segenap rasa hangat yang mengikatrasanya kita seperti akan hidup abadi...
aku tak percaya bahwa kita akan terpisahkan
tidak oleh siapapun karena memang tidak akan pernah ada siapapun
selain kita berdua dari dulu kini hingga nanti.
..tiba2 kamu bilang bara api cinta itu telah kehilangan kobarnya...
rasanya kamu seperti berkhianat
dengan meletakkan keraguandiatas alas yang rapuh...
keyakinanku yang melemah!
akupun mulai tidak bisa lagi memberikan jaminan apa-apa
tapi bagaimanapun kita harus mempertahankannya kan?
tak ada yang salah denganmu
hanya sang waktu...yang detak demi detaknya
telah dengan pasti memperlebar jarak diantara kita...
melonggarkan ikatan itu dari dalam
bekerja seperti musuh dalam selimut
tanpa mampu kita menghindar
memudarkan warna lukisan yang telah kita buat.
kamu benar...getaran getaran itu telah hilang
cinta ini tiba tiba memudar seperti pasir diterpa angin...
dalam bentang waktu yang panjang
kita hanya kebetulan berpapasan...
dan dalam perjalanan yang melelahkan
kau tawarkan makanandan kutawarkan minuman
lalu kita saling melepaskan lapar dan dahaga
untuk kemudian menghilangketujuan masing-masing....
CINTA? hanya sebuah transaksi berkedok komitmen
tak lebih tak kurang...
selain itu hanyalah kehampaan sejati...!!!
..jangan salahkan cinta yang telah membawamu pada duka...
bersyukurlah karena kau pernah merasakannya,
betapa dashyatnya pengaruhnya dalam hidupmu,
betapa kuat getarannya di jantung dan seluruh pembuluh darahmu...
takkan ada yang bisa memahaminya kecuali kamu merasakannya...
walaupun harus kau tebus dengan rasa sakit,
kau pasti teringat bagaimana hangatnya cinta itu menyemburat
diantara senyumannya padamu...
dan hanya kamu yang bisa menangkap segala maknanya...
orang lain hanya akan iri padamu...
yang membuatmu bersumpah untuk menukar apapun
dengan sekejap waktu untuk merasakan semua itu...
itulah cinta yang kau cari,
kau miliki sesaat dan kau hilangkan selamanya....
****
jangan pernah tanya padaku ini dari siapa untuk siapa
22 Nov 07, malem-malem...(november rain, where are you?)
subject: Fwd: Fwd: Fwd: Cinta yg tiba2 memudar...
kau pernah katakan satu saat nanti
getaran-getaran itu akan hilang sendirinya
seiring dengan waktu..tanpa alasan dan tanpa harus ada sebab.
waktu itu aku tak percaya...karena aku mempunyai keyakinan penuh
dengan segenap cintaku padamu, dan cintamu yang begitu tulus padaku
dengan segenap rasa hangat yang mengikatrasanya kita seperti akan hidup abadi...
aku tak percaya bahwa kita akan terpisahkan
tidak oleh siapapun karena memang tidak akan pernah ada siapapun
selain kita berdua dari dulu kini hingga nanti.
..tiba2 kamu bilang bara api cinta itu telah kehilangan kobarnya...
rasanya kamu seperti berkhianat
dengan meletakkan keraguandiatas alas yang rapuh...
keyakinanku yang melemah!
akupun mulai tidak bisa lagi memberikan jaminan apa-apa
tapi bagaimanapun kita harus mempertahankannya kan?
tak ada yang salah denganmu
hanya sang waktu...yang detak demi detaknya
telah dengan pasti memperlebar jarak diantara kita...
melonggarkan ikatan itu dari dalam
bekerja seperti musuh dalam selimut
tanpa mampu kita menghindar
memudarkan warna lukisan yang telah kita buat.
kamu benar...getaran getaran itu telah hilang
cinta ini tiba tiba memudar seperti pasir diterpa angin...
dalam bentang waktu yang panjang
kita hanya kebetulan berpapasan...
dan dalam perjalanan yang melelahkan
kau tawarkan makanandan kutawarkan minuman
lalu kita saling melepaskan lapar dan dahaga
untuk kemudian menghilangketujuan masing-masing....
CINTA? hanya sebuah transaksi berkedok komitmen
tak lebih tak kurang...
selain itu hanyalah kehampaan sejati...!!!
..jangan salahkan cinta yang telah membawamu pada duka...
bersyukurlah karena kau pernah merasakannya,
betapa dashyatnya pengaruhnya dalam hidupmu,
betapa kuat getarannya di jantung dan seluruh pembuluh darahmu...
takkan ada yang bisa memahaminya kecuali kamu merasakannya...
walaupun harus kau tebus dengan rasa sakit,
kau pasti teringat bagaimana hangatnya cinta itu menyemburat
diantara senyumannya padamu...
dan hanya kamu yang bisa menangkap segala maknanya...
orang lain hanya akan iri padamu...
yang membuatmu bersumpah untuk menukar apapun
dengan sekejap waktu untuk merasakan semua itu...
itulah cinta yang kau cari,
kau miliki sesaat dan kau hilangkan selamanya....
****
jangan pernah tanya padaku ini dari siapa untuk siapa
22 Nov 07, malem-malem...(november rain, where are you?)
bumi nan makin panas [in between - part four]
November 2007
”Langit Banda Aceh sangat indah”, seorang kawan mengirim pesan singkat. Dia tahu betul bahwa aku pecinta langit. Langit senja Banda Aceh memang mempesona. Sementara di Jakarta kau takkan pernah melihat langit disana, seperti dikatakan oleh seorang Mc Donald pada sebuah siang kepada seorang kawan, “Kalian enak ya…bisa melihat langit biru disini. Di Jakarta tak pernah ada langit!”
In between: Banda Aceh – Jakarta, Banda Aceh – Medan, Banda Aceh – Jogja,.... Dan aku memilih in between langit dan bumi, yang sekarang sedang memanas. Pemanasan global, perubahan iklim, kata mereka. Siapa yang bikin bumiku panas dan iklimku berubah?
Teringat cerita seorang kawan tentang seorang kawan yang kemarin menjalani sebuah ‘ritual’ di ‘tentangga sebelah’:
Interviewer : Bagaimana kamu menjelaskan kepada komunitas tentang UNFCCC ini (kalian tahu kan awal bulan depan di Nusa Dua, Bali akan ada hajatan besar - konferensi internasional tentang perubahan iklim?)
Interviewee : Yah..komunitas nggak ngerti tuh climate change..jadi saya
akan mengatakan kepada mereka begini, “..sekarang ini pemerintah Indonesia
akan membuat kebijakan baru tentang hutan. Kebijakan itu adalah bahwa
pemerintah akan menjual hutan-hutan kalian tanpa berkonsultasi terlebih dulu
dengan kalian…”
Interviewer : Bukannya itu sangat provokatif?
Interviewee : Lho..enggak. Memang kenyataannya begitu kok..
*********
”Langit Banda Aceh sangat indah”, seorang kawan mengirim pesan singkat. Dia tahu betul bahwa aku pecinta langit. Langit senja Banda Aceh memang mempesona. Sementara di Jakarta kau takkan pernah melihat langit disana, seperti dikatakan oleh seorang Mc Donald pada sebuah siang kepada seorang kawan, “Kalian enak ya…bisa melihat langit biru disini. Di Jakarta tak pernah ada langit!”
In between: Banda Aceh – Jakarta, Banda Aceh – Medan, Banda Aceh – Jogja,.... Dan aku memilih in between langit dan bumi, yang sekarang sedang memanas. Pemanasan global, perubahan iklim, kata mereka. Siapa yang bikin bumiku panas dan iklimku berubah?
Teringat cerita seorang kawan tentang seorang kawan yang kemarin menjalani sebuah ‘ritual’ di ‘tentangga sebelah’:
Interviewer : Bagaimana kamu menjelaskan kepada komunitas tentang UNFCCC ini (kalian tahu kan awal bulan depan di Nusa Dua, Bali akan ada hajatan besar - konferensi internasional tentang perubahan iklim?)
Interviewee : Yah..komunitas nggak ngerti tuh climate change..jadi saya
akan mengatakan kepada mereka begini, “..sekarang ini pemerintah Indonesia
akan membuat kebijakan baru tentang hutan. Kebijakan itu adalah bahwa
pemerintah akan menjual hutan-hutan kalian tanpa berkonsultasi terlebih dulu
dengan kalian…”
Interviewer : Bukannya itu sangat provokatif?
Interviewee : Lho..enggak. Memang kenyataannya begitu kok..
*********
[in between - part three]
Menjelang tengah malam, sebuah hari di bulan Oktober 2007....
0812XXXXXXX - udah tidur belum?
0815XXXXXXX - belum. kenapa?
0812XXXXXXX - pengen ngajak sharing kamu aja. Masalah relasiku yang udah semakin rumit.
0815XXXXXXX - Ok. Relasi dengan siapa dan rumit kayak apa?
0812XXXXXXX - aku sekarang berhubungan dengan 2 orang dan mereka menuntut ke arah yang lebih serius. aku merasa dah mengakomodasi keduanya. Aku dah gak bisa piker jernih lagi. Depresi yang kubuat sendiri.
0815XXXXXXX - Hidup ini dipenuhi pilihan. Apa yg memberatkanmu untuk memilih salah satu dari keduanya atau tdk dua2nya krn gak mungkin milih keduanya?
0812XXXXXXX - Itu benar sekali tapi aku melarutkan diriku sehingga sekarang merasa terjebak ama permainan hati dan emosi. Sekarang aku gak bisa milih. Bener2 stuck aku…
0815XXXXXXX - Harus dan pasti bisa milih. Gak ada pilihan lain selain milih. Kalopun gak bisa sekarang, pasti besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan…cooling down dulu.
0812XXXXXXX - Ok. Thanks!
0812XXXXXXX - udah tidur belum?
0815XXXXXXX - belum. kenapa?
0812XXXXXXX - pengen ngajak sharing kamu aja. Masalah relasiku yang udah semakin rumit.
0815XXXXXXX - Ok. Relasi dengan siapa dan rumit kayak apa?
0812XXXXXXX - aku sekarang berhubungan dengan 2 orang dan mereka menuntut ke arah yang lebih serius. aku merasa dah mengakomodasi keduanya. Aku dah gak bisa piker jernih lagi. Depresi yang kubuat sendiri.
0815XXXXXXX - Hidup ini dipenuhi pilihan. Apa yg memberatkanmu untuk memilih salah satu dari keduanya atau tdk dua2nya krn gak mungkin milih keduanya?
0812XXXXXXX - Itu benar sekali tapi aku melarutkan diriku sehingga sekarang merasa terjebak ama permainan hati dan emosi. Sekarang aku gak bisa milih. Bener2 stuck aku…
0815XXXXXXX - Harus dan pasti bisa milih. Gak ada pilihan lain selain milih. Kalopun gak bisa sekarang, pasti besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan…cooling down dulu.
0812XXXXXXX - Ok. Thanks!
Tuesday, 25 March 2008
"...betapa berat memilih" [in between part two]
Bukankah seorang kawan baik pernah mengatakan padamu,
“Betapa berat memilih. Pilih satu matikan satunya.Pilih satunya matikan satunya. Ambil kedua tiada pula menjadi mungkin. Terlebih jika memilih satu menistakanyang lain. Mencari yang baik? Adakah perempuan jelek? Atau baik? Siapa aku ngeklaim cara mekanis, scientifik begitu. Tapi adakah semuanya baik? Atau semuanyajelek?
Dahlah: aku yang jelek. Aku pula yang baik.
Kuambil LANGKAH KETIGA. Dramatis. Penuh tangis. Sesak.
Semacam mengambil bara, yang lalu berkobar menjadi MAGMA.
Aku nggak kuat dan nggak tega diserang cinta, harapan,
dan derai mutiara tangis.
Dan GOBLOK-nya ternyata putusanku nggak terterima. Dua2nya minta dipilih.
Dengan satu hak saja. Dengan mematikan saja. Weh, seleksi alamkah itu? Kuambil LANGKAH KETIGA. Ngungun. Penuh sepi yang memekakkan.
Riang. Semacam berenang di arakan awan. Menjadi Gatutkaca.
Aku nggak kuat dan nggak tega diserang cinta,
harapan, dan nyala santun PEMBUNUHAN. Kelak (dalam Gatutkaca Wutung)
akan aku jatuhkan diri dari angkasa, dengan harap terpuing terbelah badan
dalam serpihan2 sehingga cepat terlarut dan terurai Pertiwi!)
Escape from the fear? Escape from freedom?”
(tak kuedit seperserpun kata-katamu, kawan. Apa kabarmu sekarang?)
“Betapa berat memilih. Pilih satu matikan satunya.Pilih satunya matikan satunya. Ambil kedua tiada pula menjadi mungkin. Terlebih jika memilih satu menistakanyang lain. Mencari yang baik? Adakah perempuan jelek? Atau baik? Siapa aku ngeklaim cara mekanis, scientifik begitu. Tapi adakah semuanya baik? Atau semuanyajelek?
Dahlah: aku yang jelek. Aku pula yang baik.
Kuambil LANGKAH KETIGA. Dramatis. Penuh tangis. Sesak.
Semacam mengambil bara, yang lalu berkobar menjadi MAGMA.
Aku nggak kuat dan nggak tega diserang cinta, harapan,
dan derai mutiara tangis.
Dan GOBLOK-nya ternyata putusanku nggak terterima. Dua2nya minta dipilih.
Dengan satu hak saja. Dengan mematikan saja. Weh, seleksi alamkah itu? Kuambil LANGKAH KETIGA. Ngungun. Penuh sepi yang memekakkan.
Riang. Semacam berenang di arakan awan. Menjadi Gatutkaca.
Aku nggak kuat dan nggak tega diserang cinta,
harapan, dan nyala santun PEMBUNUHAN. Kelak (dalam Gatutkaca Wutung)
akan aku jatuhkan diri dari angkasa, dengan harap terpuing terbelah badan
dalam serpihan2 sehingga cepat terlarut dan terurai Pertiwi!)
Escape from the fear? Escape from freedom?”
(tak kuedit seperserpun kata-katamu, kawan. Apa kabarmu sekarang?)
Subscribe to:
Posts (Atom)