Thursday, 27 March 2008

api cinta Antonio Blanco

Februari 08

We are building
“The Blanco Renaissance Museum”

CV. Api Cinta Antonio Blanco

(Begitulah kata-kata dengan huruf warna hitam yang tertulis di papan berwarna putih berukuran kira-kira 2x1 meter. Ada sebuah simbol besar berwarna merah darah, membujur tepat di tengah papan itu, yang entah bergambar apa aku nggak bisa ngerti. Tapi kok..rasa-rasanya seperti gambar orang yang sedang duduk bersila, dengan kapala berbentuk runcing memanjang ke atas)

Aku sudah merasakan api cinta itu, dan sekarang sudah sepantasnya aku berucap, “Terimakasih atas api cintamu, Blanco. Akan kujaga dalam hatiku supaya tetap menyala dan kuberitakan kepada setiap orang tentangnya…” (weks!)

Kalau kamu masuk kesana, maka kamupun akan merasakannya: api cinta dalam lukisan-lukisannya. Berpuluh-puluh lukisan yang sebagian besar adalah lukisan perempuan bertelanjang dada. Sebagian kecilnya adalah lukisan perempuan telanjang bulat. Sebagian kecil lainnya adalah lukisan lelaki (yang sedikitpun tak bisa dibilang telanjang, baik dada, kaki, atau apapun juga). Beberapa dari lukisan itu berobjek istrinya, dan ada satu atau dua yang berobjek salah satu dari 3 anak perempuannya.

Sebagian lukisan-lukisan itu tak membawa kesan banyak buatku. Tapi beberapa diantaranya memberi kesan yang begitu dahsyat. Salah satunya adalah lukisan berjudul ‘Kingkong’. Kingkong? Iya, Kingkong, meski kau takkan melihat secuilpun bagian tubuh kingkong disitu. Kau malah akan mendapati tubuh telanjang perempuan dengan kaki ngangkang, dengan lubang vagina persis diatas ’kepala runcing’ simbol yang aku bilang tadi itu, siap masuk ke vaginanya. Dan ekspresi perempuan itu...sungguh….waduh, susah sekali kulukiskan dengan kata-kata. Luar biasa deh pokoknya. Entah berapa menit kulewatkan di depannya, tertegun dengan perasaan campur aduk!!

Ada satu lukisan lain yang menimbulkan reaksi persis seperti itu dalam diriku. Sebuah lukisan sketsa dua orang, perempuan dan lelaki, yang sedang berhubungan seks. Sketsa! Iya, sketsa. Tapi begitu hidup dan ekspresif!!

Nah, karya lain yang berkesan juga adalah karya berjudul ’Soap’. Ini adalah, lagi-lagi, gambar perempuan telanjang dengan ’bermandikan’ sabun. Yang juga menarik adalah bingkai karya ini: sabun-sabun jadul (seangkatan ’Super Bisa’ gitu!) menjadi bingkai yang mengelilinginya.

Ada yang lain lagi. Gambar bibir (jadi ingat Iyak!) perempuan, berlipstik warna merah, merah darah, dengan tangan memegang lipstik yang masih nempel di bibir. Nah, yang bikin ’senyam-senyum’ tu tahu nggak sih...lipstik berwarna merah darah itu berbentuk.....PENIS, saudara-saudara....

Masih buanyaaakk yang lain yang nggak bisa kuceritakan satu per satu. O ya, sekedar memberikan gambaran fisik...Papan ’CV Api Cinta’ itu berada disamping pintu masuk gedung musem yang mesti melewati entah berapa puluh anak tangga. Menuju pintu masuk itu, kamu akan memasuki ‘gerbang’ berbentuk simbol yang dalam pandangan mataku seperi orang berkepala runcing duduk bersila itu tadi, dalam ukuran raksasa. Sebelum memasuki gerbang raksasa ini, sesungguhnya sudah ada dua gerbang lain yang kulewati. Pertama di pintu masuk paling luar, dekat parkiran dan yang kedua terletak di kompleks museumnya. Keduanya berbentuk lingkaran. Berpadu dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, lingkaran-lingaran itu sungguh seperti mendapatkan tempat yang sangat pas. Dan satu hal lagi, kamu akan merasa ’at home’ disini, tidak akan merasa ’at museum’ sama sekali.....

Maka kalau kamu ke Bali, pergilah ke Ubud, rasakanlah api cintanya!!

hujan...

7 Nov 07

Terbangun dari tidur lelap oleh suara hujan. Deras. Tertumpah dari langit bagai air bah. Jam lima pagi. Kubuka pintu, duduk di teras, menikmati hujan. Hujan selalu membawaku pada sebuah kesyahduan, meski nggak ada aktivitas bercinta sekalipun (nggak ada yang ngajak dan diajak bercinta, maksudnya!).

Ingat Cici semalam yang dengan penuh semangat datang mengunjungiku. Dia sedang di Denpasar sampai akhir November ini. Cici ini adalah teman serumahku waktu di Banda Aceh. Kami berdua membuat suasana rumah jadi begitu rame dengan senda gurau yang seringkali bikin orang yang belum terbiasa dengan kami geleng-geleng kepala. Perutnya sudah membesar akibat aktivitasnya bercinta. Lima bulan. Kakinya udah mulai bengkak-bengkak (ih, Ci, bukannya 5 bulan terlalu awal untuk kaki bengkak-bengkak karena hamil?).

Ditengah hujan datanglah sebuah kabar dari seorang kawan: “Teto, anaknya Bebet, meninggal dunia setelah 10 hari dirawat di Panti Rapih karena leukemia”. Oh Tuhanku, leukemia!! Segera kukirim pesan ke Bebet: “Turut belasungkawa atas diambilnya Teto oleh Yang Punya Hidup. Percayalah, ini adalah yang terbaik buat dia dan orang-orang yang ditinggalnya”. Tentang Bebet, dia adalah seorang kawan lama. Terakhir ketemu dia waktu ngumpul-ngumpul di kawasan Kotabaru beberapa hari setelah Lebaran kemarin, setelah sekian tahun tak ketemu. Ada perasaan bahagia yang begitu meluap-luap ketika aku ketemu dengan kawan baik yang lama sekali terpisahkan oleh waktu. Catat komentarnya pada seorang kawan yang kami panggil si Oom, sesaat setelah dia muncul di ketemuan itu, “Walaaahhh pantesan, tak goleki kuburanmu neng ndi-ndi ra ketemu, jebul isih urip to kowe!!” (Walaaahhhh pantesan, aku cari kuburanmu dimana-mana nggak ketemu, ternyata masih hidup kau!!). Begitulah Bebet, yang bernama Albertus Darmawan Suwito. Dia adalah salah satu icon De Brito, sekolah khusus lelaki yang sekarang disebut SMU itu, pada jamannya. Image tentang De Brito di mataku adalah ‘liar nan pintar’. Hhmmm liar nan pintar…sebuah kombinasi yang sungguh menggoda!

Ada berita lain tentang seorang kawan lain. Bunyinya: “anakku udah lahir semalam, jam 11.30, laki-laki, 3.6 kg, 51 cm. belum ada nama” (idih, Iwan Fals banget!). Kubilang, “selamat datang untuk anakmu yang belum bernama itu, kawan! Katakan padanya, nikmatilah dunia ini. cepet kasih dia nama supaya aku gampang memanggilnya. kata orang Jawa, anak yg lahir pada jam2 segitu kelak akan jadi anak pemberani”. Kawan ini mengingatkanku pada Bang Mamat yang di Aceh. Mereka berdua punya kesamaan: anaknya – orang Jawa bilang – ndrindil! Ndrindil tu…jarak usia antara satu anak dengan anak yang lain berdekatan (ya...satu sampai satu setengah tahun gitulah… dan biasanya mengacu pada jumlah yang nggak bisa dibilang sedikit (paling nggak 3 gitulah…karena kalau baru 2, biasanya belum disebut ndrindil). Sampai-sampai seorang kawan berkomentar ke Bang Mamat, “Bang, produktif kali …lama-lama nanti istrimu belum lagi melahirkan sudah hamil lagi…”.

Begitulah, dalam waktu kurang dari 15 menit, ada yang pergi dan ada yang datang. Bukankah hidup ini begitu adanya? Datang-pergi, masuk-keluar, itu biasa. Biasa banget! Nggak ada masalah. Yang bermasalah adalah kalau datang nggak pergi-pergi, atau pergi nggak datang-datang; masuk nggak keluar-keluar atau keluar nggak masuk-masuk! Nah, yang lebih bermasalah adalah kalau belum datang sudah pergi, belum masuk sudah keluar!!

Hujan. Rasanya dia mengikuti langkahku. Hari Rabu lalu ketika datang ke Jogja, pagi menjelang siang...Just landed! Dan suara Katon Bagaskara mengalun memenuhi kabin Lion Air. Pulang ke kotamu..ada setangkup haru dalam rindu…masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahaja…penuh selaksa makna…terhanyut aku akan nostalgi, saat kita sering luangkan waktu…nikmati bersama suasana Jogja…” Ah, baru kali ini aku landing di Jogja dengan ‘soundtrack’ lagu itu. Bikin aku nggak pengen segera beranjak dari tempat duduk. Dan malam harinya, hujan turun di Jogja, beruturut-turut selama 4 hari nggak brenti, hanya intensitasnya saja yang naik turun. Dan ini adalah hujan deras pertama yang membasahi Jogja.

Hujan. Rasanya dia mengikuti langkahku. Hari Minggu kemarin menjelang tengah malam, aku sampai Sanur. Senin malamnya, hujanpun mengguyur Sanur. Begitu juga Selasa malam, dan Rabu pagi.

Masih hujan. Dingin. Rasanya waktu berlari bagaikan setan, mengejarku, dan aku tak kuasa berlari lagi. Sebuah pertanyaanpun menyergap, “Sampai kapan aku akan begini?”


Puri Kelapa,
pagi-pagi..

Wednesday, 26 March 2008

tentang sebuah pulau di tengah danau

awal Oktober 2007

(kepada - in alphabetical disorder- Rheinhardt, Ayu, Mia, Ali, Iyak, Toni, Enda, Juang, Maureen, Airil, Udin, Kautsar, Ayi - tentang sebuah perjalanan di 21-23 September 07. Maafkan atas keputusan menjadi "separatis" dari sebuah kebersamaan yang tak terdamaikan, demi sebuah obsesi tentang sebuah pulau di tengah danau itu..)

Maaf, aku tak pernah bisa betah dalam hiruk-pikuknya kehidupan kota macam Medan, bahkan untuk 2 hari sekalipun.. Buatku, kota itu hanyalah tempat transit semata untuk kakiku melangkah lagi..Aku memang mengikuti kemana kakiku ingin melangkah, untuk memenuhi rasa ingin tahuku, untuk memenuhi hasratku.

Kalian tahu kan, kalau kita punya keinginan yang begitu amat sangat kuat, maka seluruh alam raya ini akan membantu kita untuk mencapainya (semacam "you can if you think you can"?). Oleh karena itulah, tanpa mengurangi rasa terimakasihku pada Rhein, aku abaikan saran Rhein via sms Enda untuk nyebrang keesokan pagi ketika kuberitakan bahwa feri terakhir akan nyebrang jam 20.30. Aku tetep nyebrang pada malam itu juga karena keyakinan penuh bahwa everything is gonna be alright (apa sih yang bisa mengalahkan sebuah keyakinan yang begitu penuh sampai tumpah ruah?). Maafkan aku tak mematuhimu, Rhein.

Dalam hatiku yang paling dalam aku tak pernah percaya pada apa yang orang bilang sebagai "kebetulan" karena sesungguhnya ada sebuah "behind the screen" yang tak mampu kita ikuti karena keterbatasan panca indra kita. Seperti halnya malam itu. Aku (dan Mia, tentu saja!) bertemu dengan seorang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Mr. Bloom (kayaknya sih orang Tuktuk tulen) yang malam itu sedang bertugas menjemput mobil bos-nya yang dikirim dari Medan. Dan tanpa dia sadari, sesungguhnya dia juga diberi tugas untuk menjemput kami berdua, karena kalau nggak ketemu dia barangkali kami sudah terlunta-lunta di tengah pulau itu, pulau yang ada di tengah danau, malam-malam pula!!

Jadilah malam itu kami numpang mobil yang dia bawa ke penginapan Samosir, tempat dia melewatkan kesehariannya sebagai tangan kanan bos-nya dan tempat kami melewatkan malam itu dengan nyaman. Dan percayalah, itu semua bukan kebetulan. Itu adalah resultan dari sebuah keinginan kuat dan banyak faktor lainnya. See, we had made it...

Aku selalu tergila-gila pada sunrise (juga sunset), riak air, bulan purnama, angin, awan, ombak, daun, dan embun. Oleh karena itulah keesokan harinya akupun bersetubuh dengan kemilau sunrise dan riak air danau keramat itu (tapi sesungguhnya bulan purnama, ombak, dan angin adalah paduan yang sempurna buatku..). Bebas. Tak perlu pakai kondom. O ya, Rhein, kawan kecilmu, si Apul yang kau bilang itu, pasti nggak pakai kondom ya waktu bersenggama dengan dan pelacur di Losmen Gagak Hitam itu. Ah, si Apul waktu itu mana tahu kondom ..

Perbincangan-perbincangan sebelumnya yang melahirkan trip ini sesungguhnya adalah tentang sesuatu yang tak jauh-jauh dari kondom, yaitu tentang penis ereksi. Dan ini mengingatkanku paling tidak pada 3 hal: Sigmund Freud, feminisme radikal, dan dildo. Percayalah, dua yang pertama itu sama sekali tak menarik untuk dibahas, paling tidak aku tak ingin membahasnya saat ini.

Sementara dildo...hhmmm, banyak sekali memory tentang dildo. O ya, buat yang belum tahu dildo, dildo itu adalah replika penis yang sedang ereksi. Dia bisa terbuat dari kayu, fiber, atau apapun juga. Dildo mengingatkanku pada kondom. Lalu, kondom mengingatkanku pada pelacur... Keduanya membawaku jauh ke lorong-lorong sempit Sosrowijayan sekian tahun yang lalu. Aku pernah melewatkan sepotong waktu dalam hidupku disini, menjadi kawan mbak Menik, mbak Dewi, mbak Yayuk, mbak Eva, dll (ada dimana mereka sekarang ya?). Tiap kali pergi kesana, aku selalu masuk lewat gang sempit banget sebelah barat radio Unisi. Ini adalah lorong favoritku karena lorong ini selalu lebih "meriah" oleh gelak tawa perempuan dan lelaki dalam losmen-losmen yang aku lalui (ketika aku coba merecall memory-ku tentang nama-nama losmen ini, celakanya, tak kuingat satupun!! Ohh memory...). Di lorong-lorong ini pula-lah tak jarang aku dikuntit lelaki tak kukenal bertampang mesum, diajaknya ngobrol, ditanya tinggal di losmen mana, bla bla bla..dan kemudian mereka selalu ngacir manakala tahu aku menuju sebuah rumah bertuliskan "Griya Lentera PKBI DIY". Selain volunteer penanggulangan HIV-AIDS, disini juga ada kondom berdos-dos dan dildo berjajar-jajar. O ya, masih perihal dildo, waktu awal-awal aku sempat geli ngeliatnya. "Ih ini barang lucu banget sih bentuknya", pikirku menatapnya lekat-lekat sambil ketawa geli.

Oke, kembali ke pulau di tengah danau yang Rhein bilang keramat itu (hanya gara-gara disanalah dia untuk pertamakalinya membiarkan penisnya terbuka? Atau apa?)... Begitulah, kami sewa sebuah "kereta" (baca: motor) untuk berkeliaran, dengan berbekal selembar peta ala kadarnya yang kami dapat dari penginapan. Lagi-lagi, kami berjalan mengikuti kaki. Memang bener, inilah kemerdekaan kaki sepenuhnya.

Bekas kerajaan Amarita, pemandian air panas di Pangururan itu (ah, aku kira ini sebuah pemandian natural, ternyata bukan!! Huhh!! Anyway, atmosphere di sekitar tempat ini sungguh luar biasa: sunyi sepi senyap tanpa ada setitik kesepianpun kalian rasakan, dengan beberapa ekor burung nan indah terbang melintas), danau bernama Sidihoni yang ada di tengah Samosir, padang rumput nan sungguh luas, dan hal-hal menakjubkan lainnya, semua itu kami jumpai dalam keliaran. Dan rasa bahagiapun meluap-luap!! (gampang kan bikin aku bahagia?! Ajak aja berkeliaran seliar-liarnya!!).

....tapi bagaimanapun juga, keliaran ini musti diakhiri. Dan tak ada satupun yang sediktator sang waktu dalam urusan ini. Maka sore itu juga kami nyebrang ke Prapat untuk balik ke Medan, bergabung dengan anggota gerombolan lain, dan malamnya kembali ke Banda rame-rame dengan bus "Kurnia".

Satu pesanku, jangan pernah minta aku bawa kunci. Selalu, dan pasti akan hilang. Sudah ada banyak pembuktian tentang hal ini. Paling tidak, sudah tiga kali aku ngilangin kunci kamar guest house sehingga kena "warning" oleh "ibu kost", dan yang paling up to date adalah aku ngilangin kunci penginapan Samosir sehingga si abang Bloon itu musti charge aku 50 rb perak untuk kunci yang hilang itu. Bagitulah, reputasiku dalam hal menyimpan kunci ini sama sekali nggak bisa diandalkan.

Satu lagi...aku sedang berpikir tentang next destination: Pulo Batee!! (yang kelak di kemudian hari aku tahu bahwa belum sampai kesana, aku sudah meninggalkan bumi Aceh....)

:-)

yang tiba-tiba memudar [in between - part five]

From: ......@yahoo.com
subject: Fwd: Fwd: Fwd: Cinta yg tiba2 memudar...

kau pernah katakan satu saat nanti
getaran-getaran itu akan hilang sendirinya
seiring dengan waktu..tanpa alasan dan tanpa harus ada sebab.

waktu itu aku tak percaya...karena aku mempunyai keyakinan penuh
dengan segenap cintaku padamu, dan cintamu yang begitu tulus padaku
dengan segenap rasa hangat yang mengikatrasanya kita seperti akan hidup abadi...

aku tak percaya bahwa kita akan terpisahkan
tidak oleh siapapun karena memang tidak akan pernah ada siapapun
selain kita berdua dari dulu kini hingga nanti.

..tiba2 kamu bilang bara api cinta itu telah kehilangan kobarnya...
rasanya kamu seperti berkhianat
dengan meletakkan keraguandiatas alas yang rapuh...
keyakinanku yang melemah!
akupun mulai tidak bisa lagi memberikan jaminan apa-apa
tapi bagaimanapun kita harus mempertahankannya kan?

tak ada yang salah denganmu
hanya sang waktu...yang detak demi detaknya
telah dengan pasti memperlebar jarak diantara kita...
melonggarkan ikatan itu dari dalam
bekerja seperti musuh dalam selimut
tanpa mampu kita menghindar
memudarkan warna lukisan yang telah kita buat.

kamu benar...getaran getaran itu telah hilang
cinta ini tiba tiba memudar seperti pasir diterpa angin...

dalam bentang waktu yang panjang
kita hanya kebetulan berpapasan...
dan dalam perjalanan yang melelahkan
kau tawarkan makanandan kutawarkan minuman
lalu kita saling melepaskan lapar dan dahaga
untuk kemudian menghilangketujuan masing-masing....

CINTA? hanya sebuah transaksi berkedok komitmen
tak lebih tak kurang...
selain itu hanyalah kehampaan sejati...!!!

..jangan salahkan cinta yang telah membawamu pada duka...
bersyukurlah karena kau pernah merasakannya,
betapa dashyatnya pengaruhnya dalam hidupmu,
betapa kuat getarannya di jantung dan seluruh pembuluh darahmu...
takkan ada yang bisa memahaminya kecuali kamu merasakannya...
walaupun harus kau tebus dengan rasa sakit,
kau pasti teringat bagaimana hangatnya cinta itu menyemburat
diantara senyumannya padamu...
dan hanya kamu yang bisa menangkap segala maknanya...
orang lain hanya akan iri padamu...
yang membuatmu bersumpah untuk menukar apapun
dengan sekejap waktu untuk merasakan semua itu...

itulah cinta yang kau cari,
kau miliki sesaat dan kau hilangkan selamanya....

****
jangan pernah tanya padaku ini dari siapa untuk siapa
22 Nov 07, malem-malem...(november rain, where are you?)

bumi nan makin panas [in between - part four]

November 2007

”Langit Banda Aceh sangat indah”, seorang kawan mengirim pesan singkat. Dia tahu betul bahwa aku pecinta langit. Langit senja Banda Aceh memang mempesona. Sementara di Jakarta kau takkan pernah melihat langit disana, seperti dikatakan oleh seorang Mc Donald pada sebuah siang kepada seorang kawan, “Kalian enak ya…bisa melihat langit biru disini. Di Jakarta tak pernah ada langit!”

In between: Banda Aceh – Jakarta, Banda Aceh – Medan, Banda Aceh – Jogja,.... Dan aku memilih in between langit dan bumi, yang sekarang sedang memanas. Pemanasan global, perubahan iklim, kata mereka. Siapa yang bikin bumiku panas dan iklimku berubah?
Teringat cerita seorang kawan tentang seorang kawan yang kemarin menjalani sebuah ‘ritual’ di ‘tentangga sebelah’:

Interviewer : Bagaimana kamu menjelaskan kepada komunitas tentang UNFCCC ini (kalian tahu kan awal bulan depan di Nusa Dua, Bali akan ada hajatan besar - konferensi internasional tentang perubahan iklim?)

Interviewee : Yah..komunitas nggak ngerti tuh climate change..jadi saya
akan mengatakan kepada mereka begini, “..sekarang ini pemerintah Indonesia
akan membuat kebijakan baru tentang hutan. Kebijakan itu adalah bahwa
pemerintah akan menjual hutan-hutan kalian tanpa berkonsultasi terlebih dulu
dengan kalian…”

Interviewer : Bukannya itu sangat provokatif?

Interviewee : Lho..enggak. Memang kenyataannya begitu kok..


*********

[in between - part three]

Menjelang tengah malam, sebuah hari di bulan Oktober 2007....

0812XXXXXXX - udah tidur belum?

0815XXXXXXX - belum. kenapa?

0812XXXXXXX - pengen ngajak sharing kamu aja. Masalah relasiku yang udah semakin rumit.

0815XXXXXXX - Ok. Relasi dengan siapa dan rumit kayak apa?

0812XXXXXXX - aku sekarang berhubungan dengan 2 orang dan mereka menuntut ke arah yang lebih serius. aku merasa dah mengakomodasi keduanya. Aku dah gak bisa piker jernih lagi. Depresi yang kubuat sendiri.

0815XXXXXXX - Hidup ini dipenuhi pilihan. Apa yg memberatkanmu untuk memilih salah satu dari keduanya atau tdk dua2nya krn gak mungkin milih keduanya?

0812XXXXXXX - Itu benar sekali tapi aku melarutkan diriku sehingga sekarang merasa terjebak ama permainan hati dan emosi. Sekarang aku gak bisa milih. Bener2 stuck aku…

0815XXXXXXX - Harus dan pasti bisa milih. Gak ada pilihan lain selain milih. Kalopun gak bisa sekarang, pasti besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan…cooling down dulu.

0812XXXXXXX - Ok. Thanks!

Tuesday, 25 March 2008

"...betapa berat memilih" [in between part two]

Bukankah seorang kawan baik pernah mengatakan padamu,

“Betapa berat memilih. Pilih satu matikan satunya.Pilih satunya matikan satunya. Ambil kedua tiada pula menjadi mungkin. Terlebih jika memilih satu menistakanyang lain. Mencari yang baik? Adakah perempuan jelek? Atau baik? Siapa aku ngeklaim cara mekanis, scientifik begitu. Tapi adakah semuanya baik? Atau semuanyajelek?

Dahlah: aku yang jelek. Aku pula yang baik.

Kuambil LANGKAH KETIGA. Dramatis. Penuh tangis. Sesak.
Semacam mengambil bara, yang lalu berkobar menjadi MAGMA.
Aku nggak kuat dan nggak tega diserang cinta, harapan,
dan derai mutiara tangis.

Dan GOBLOK-nya ternyata putusanku nggak terterima. Dua2nya minta dipilih.
Dengan satu hak saja. Dengan mematikan saja. Weh, seleksi alamkah itu? Kuambil LANGKAH KETIGA. Ngungun. Penuh sepi yang memekakkan.
Riang. Semacam berenang di arakan awan. Menjadi Gatutkaca.
Aku nggak kuat dan nggak tega diserang cinta,
harapan, dan nyala santun PEMBUNUHAN. Kelak (dalam Gatutkaca Wutung)
akan aku jatuhkan diri dari angkasa, dengan harap terpuing terbelah badan
dalam serpihan2 sehingga cepat terlarut dan terurai Pertiwi!)

Escape from the fear? Escape from freedom?”

(tak kuedit seperserpun kata-katamu, kawan. Apa kabarmu sekarang?)