Februari 08
We are building
“The Blanco Renaissance Museum”
CV. Api Cinta Antonio Blanco
(Begitulah kata-kata dengan huruf warna hitam yang tertulis di papan berwarna putih berukuran kira-kira 2x1 meter. Ada sebuah simbol besar berwarna merah darah, membujur tepat di tengah papan itu, yang entah bergambar apa aku nggak bisa ngerti. Tapi kok..rasa-rasanya seperti gambar orang yang sedang duduk bersila, dengan kapala berbentuk runcing memanjang ke atas)
Aku sudah merasakan api cinta itu, dan sekarang sudah sepantasnya aku berucap, “Terimakasih atas api cintamu, Blanco. Akan kujaga dalam hatiku supaya tetap menyala dan kuberitakan kepada setiap orang tentangnya…” (weks!)
Kalau kamu masuk kesana, maka kamupun akan merasakannya: api cinta dalam lukisan-lukisannya. Berpuluh-puluh lukisan yang sebagian besar adalah lukisan perempuan bertelanjang dada. Sebagian kecilnya adalah lukisan perempuan telanjang bulat. Sebagian kecil lainnya adalah lukisan lelaki (yang sedikitpun tak bisa dibilang telanjang, baik dada, kaki, atau apapun juga). Beberapa dari lukisan itu berobjek istrinya, dan ada satu atau dua yang berobjek salah satu dari 3 anak perempuannya.
Sebagian lukisan-lukisan itu tak membawa kesan banyak buatku. Tapi beberapa diantaranya memberi kesan yang begitu dahsyat. Salah satunya adalah lukisan berjudul ‘Kingkong’. Kingkong? Iya, Kingkong, meski kau takkan melihat secuilpun bagian tubuh kingkong disitu. Kau malah akan mendapati tubuh telanjang perempuan dengan kaki ngangkang, dengan lubang vagina persis diatas ’kepala runcing’ simbol yang aku bilang tadi itu, siap masuk ke vaginanya. Dan ekspresi perempuan itu...sungguh….waduh, susah sekali kulukiskan dengan kata-kata. Luar biasa deh pokoknya. Entah berapa menit kulewatkan di depannya, tertegun dengan perasaan campur aduk!!
Ada satu lukisan lain yang menimbulkan reaksi persis seperti itu dalam diriku. Sebuah lukisan sketsa dua orang, perempuan dan lelaki, yang sedang berhubungan seks. Sketsa! Iya, sketsa. Tapi begitu hidup dan ekspresif!!
Nah, karya lain yang berkesan juga adalah karya berjudul ’Soap’. Ini adalah, lagi-lagi, gambar perempuan telanjang dengan ’bermandikan’ sabun. Yang juga menarik adalah bingkai karya ini: sabun-sabun jadul (seangkatan ’Super Bisa’ gitu!) menjadi bingkai yang mengelilinginya.
Ada yang lain lagi. Gambar bibir (jadi ingat Iyak!) perempuan, berlipstik warna merah, merah darah, dengan tangan memegang lipstik yang masih nempel di bibir. Nah, yang bikin ’senyam-senyum’ tu tahu nggak sih...lipstik berwarna merah darah itu berbentuk.....PENIS, saudara-saudara....
Masih buanyaaakk yang lain yang nggak bisa kuceritakan satu per satu. O ya, sekedar memberikan gambaran fisik...Papan ’CV Api Cinta’ itu berada disamping pintu masuk gedung musem yang mesti melewati entah berapa puluh anak tangga. Menuju pintu masuk itu, kamu akan memasuki ‘gerbang’ berbentuk simbol yang dalam pandangan mataku seperi orang berkepala runcing duduk bersila itu tadi, dalam ukuran raksasa. Sebelum memasuki gerbang raksasa ini, sesungguhnya sudah ada dua gerbang lain yang kulewati. Pertama di pintu masuk paling luar, dekat parkiran dan yang kedua terletak di kompleks museumnya. Keduanya berbentuk lingkaran. Berpadu dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, lingkaran-lingaran itu sungguh seperti mendapatkan tempat yang sangat pas. Dan satu hal lagi, kamu akan merasa ’at home’ disini, tidak akan merasa ’at museum’ sama sekali.....
Maka kalau kamu ke Bali, pergilah ke Ubud, rasakanlah api cintanya!!
Thursday, 27 March 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment