Bukankah seorang kawan baik pernah mengatakan padamu,
“Betapa berat memilih. Pilih satu matikan satunya.Pilih satunya matikan satunya. Ambil kedua tiada pula menjadi mungkin. Terlebih jika memilih satu menistakanyang lain. Mencari yang baik? Adakah perempuan jelek? Atau baik? Siapa aku ngeklaim cara mekanis, scientifik begitu. Tapi adakah semuanya baik? Atau semuanyajelek?
Dahlah: aku yang jelek. Aku pula yang baik.
Kuambil LANGKAH KETIGA. Dramatis. Penuh tangis. Sesak.
Semacam mengambil bara, yang lalu berkobar menjadi MAGMA.
Aku nggak kuat dan nggak tega diserang cinta, harapan,
dan derai mutiara tangis.
Dan GOBLOK-nya ternyata putusanku nggak terterima. Dua2nya minta dipilih.
Dengan satu hak saja. Dengan mematikan saja. Weh, seleksi alamkah itu? Kuambil LANGKAH KETIGA. Ngungun. Penuh sepi yang memekakkan.
Riang. Semacam berenang di arakan awan. Menjadi Gatutkaca.
Aku nggak kuat dan nggak tega diserang cinta,
harapan, dan nyala santun PEMBUNUHAN. Kelak (dalam Gatutkaca Wutung)
akan aku jatuhkan diri dari angkasa, dengan harap terpuing terbelah badan
dalam serpihan2 sehingga cepat terlarut dan terurai Pertiwi!)
Escape from the fear? Escape from freedom?”
(tak kuedit seperserpun kata-katamu, kawan. Apa kabarmu sekarang?)
Tuesday, 25 March 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment