November 2007
”Langit Banda Aceh sangat indah”, seorang kawan mengirim pesan singkat. Dia tahu betul bahwa aku pecinta langit. Langit senja Banda Aceh memang mempesona. Sementara di Jakarta kau takkan pernah melihat langit disana, seperti dikatakan oleh seorang Mc Donald pada sebuah siang kepada seorang kawan, “Kalian enak ya…bisa melihat langit biru disini. Di Jakarta tak pernah ada langit!”
In between: Banda Aceh – Jakarta, Banda Aceh – Medan, Banda Aceh – Jogja,.... Dan aku memilih in between langit dan bumi, yang sekarang sedang memanas. Pemanasan global, perubahan iklim, kata mereka. Siapa yang bikin bumiku panas dan iklimku berubah?
Teringat cerita seorang kawan tentang seorang kawan yang kemarin menjalani sebuah ‘ritual’ di ‘tentangga sebelah’:
Interviewer : Bagaimana kamu menjelaskan kepada komunitas tentang UNFCCC ini (kalian tahu kan awal bulan depan di Nusa Dua, Bali akan ada hajatan besar - konferensi internasional tentang perubahan iklim?)
Interviewee : Yah..komunitas nggak ngerti tuh climate change..jadi saya
akan mengatakan kepada mereka begini, “..sekarang ini pemerintah Indonesia
akan membuat kebijakan baru tentang hutan. Kebijakan itu adalah bahwa
pemerintah akan menjual hutan-hutan kalian tanpa berkonsultasi terlebih dulu
dengan kalian…”
Interviewer : Bukannya itu sangat provokatif?
Interviewee : Lho..enggak. Memang kenyataannya begitu kok..
*********
Wednesday, 26 March 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment