awal Oktober 2007
(kepada - in alphabetical disorder- Rheinhardt, Ayu, Mia, Ali, Iyak, Toni, Enda, Juang, Maureen, Airil, Udin, Kautsar, Ayi - tentang sebuah perjalanan di 21-23 September 07. Maafkan atas keputusan menjadi "separatis" dari sebuah kebersamaan yang tak terdamaikan, demi sebuah obsesi tentang sebuah pulau di tengah danau itu..)
Maaf, aku tak pernah bisa betah dalam hiruk-pikuknya kehidupan kota macam Medan, bahkan untuk 2 hari sekalipun.. Buatku, kota itu hanyalah tempat transit semata untuk kakiku melangkah lagi..Aku memang mengikuti kemana kakiku ingin melangkah, untuk memenuhi rasa ingin tahuku, untuk memenuhi hasratku.
Kalian tahu kan, kalau kita punya keinginan yang begitu amat sangat kuat, maka seluruh alam raya ini akan membantu kita untuk mencapainya (semacam "you can if you think you can"?). Oleh karena itulah, tanpa mengurangi rasa terimakasihku pada Rhein, aku abaikan saran Rhein via sms Enda untuk nyebrang keesokan pagi ketika kuberitakan bahwa feri terakhir akan nyebrang jam 20.30. Aku tetep nyebrang pada malam itu juga karena keyakinan penuh bahwa everything is gonna be alright (apa sih yang bisa mengalahkan sebuah keyakinan yang begitu penuh sampai tumpah ruah?). Maafkan aku tak mematuhimu, Rhein.
Dalam hatiku yang paling dalam aku tak pernah percaya pada apa yang orang bilang sebagai "kebetulan" karena sesungguhnya ada sebuah "behind the screen" yang tak mampu kita ikuti karena keterbatasan panca indra kita. Seperti halnya malam itu. Aku (dan Mia, tentu saja!) bertemu dengan seorang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Mr. Bloom (kayaknya sih orang Tuktuk tulen) yang malam itu sedang bertugas menjemput mobil bos-nya yang dikirim dari Medan. Dan tanpa dia sadari, sesungguhnya dia juga diberi tugas untuk menjemput kami berdua, karena kalau nggak ketemu dia barangkali kami sudah terlunta-lunta di tengah pulau itu, pulau yang ada di tengah danau, malam-malam pula!!
Jadilah malam itu kami numpang mobil yang dia bawa ke penginapan Samosir, tempat dia melewatkan kesehariannya sebagai tangan kanan bos-nya dan tempat kami melewatkan malam itu dengan nyaman. Dan percayalah, itu semua bukan kebetulan. Itu adalah resultan dari sebuah keinginan kuat dan banyak faktor lainnya. See, we had made it...
Aku selalu tergila-gila pada sunrise (juga sunset), riak air, bulan purnama, angin, awan, ombak, daun, dan embun. Oleh karena itulah keesokan harinya akupun bersetubuh dengan kemilau sunrise dan riak air danau keramat itu (tapi sesungguhnya bulan purnama, ombak, dan angin adalah paduan yang sempurna buatku..). Bebas. Tak perlu pakai kondom. O ya, Rhein, kawan kecilmu, si Apul yang kau bilang itu, pasti nggak pakai kondom ya waktu bersenggama dengan dan pelacur di Losmen Gagak Hitam itu. Ah, si Apul waktu itu mana tahu kondom ..
Perbincangan-perbincangan sebelumnya yang melahirkan trip ini sesungguhnya adalah tentang sesuatu yang tak jauh-jauh dari kondom, yaitu tentang penis ereksi. Dan ini mengingatkanku paling tidak pada 3 hal: Sigmund Freud, feminisme radikal, dan dildo. Percayalah, dua yang pertama itu sama sekali tak menarik untuk dibahas, paling tidak aku tak ingin membahasnya saat ini.
Sementara dildo...hhmmm, banyak sekali memory tentang dildo. O ya, buat yang belum tahu dildo, dildo itu adalah replika penis yang sedang ereksi. Dia bisa terbuat dari kayu, fiber, atau apapun juga. Dildo mengingatkanku pada kondom. Lalu, kondom mengingatkanku pada pelacur... Keduanya membawaku jauh ke lorong-lorong sempit Sosrowijayan sekian tahun yang lalu. Aku pernah melewatkan sepotong waktu dalam hidupku disini, menjadi kawan mbak Menik, mbak Dewi, mbak Yayuk, mbak Eva, dll (ada dimana mereka sekarang ya?). Tiap kali pergi kesana, aku selalu masuk lewat gang sempit banget sebelah barat radio Unisi. Ini adalah lorong favoritku karena lorong ini selalu lebih "meriah" oleh gelak tawa perempuan dan lelaki dalam losmen-losmen yang aku lalui (ketika aku coba merecall memory-ku tentang nama-nama losmen ini, celakanya, tak kuingat satupun!! Ohh memory...). Di lorong-lorong ini pula-lah tak jarang aku dikuntit lelaki tak kukenal bertampang mesum, diajaknya ngobrol, ditanya tinggal di losmen mana, bla bla bla..dan kemudian mereka selalu ngacir manakala tahu aku menuju sebuah rumah bertuliskan "Griya Lentera PKBI DIY". Selain volunteer penanggulangan HIV-AIDS, disini juga ada kondom berdos-dos dan dildo berjajar-jajar. O ya, masih perihal dildo, waktu awal-awal aku sempat geli ngeliatnya. "Ih ini barang lucu banget sih bentuknya", pikirku menatapnya lekat-lekat sambil ketawa geli.
Oke, kembali ke pulau di tengah danau yang Rhein bilang keramat itu (hanya gara-gara disanalah dia untuk pertamakalinya membiarkan penisnya terbuka? Atau apa?)... Begitulah, kami sewa sebuah "kereta" (baca: motor) untuk berkeliaran, dengan berbekal selembar peta ala kadarnya yang kami dapat dari penginapan. Lagi-lagi, kami berjalan mengikuti kaki. Memang bener, inilah kemerdekaan kaki sepenuhnya.
Bekas kerajaan Amarita, pemandian air panas di Pangururan itu (ah, aku kira ini sebuah pemandian natural, ternyata bukan!! Huhh!! Anyway, atmosphere di sekitar tempat ini sungguh luar biasa: sunyi sepi senyap tanpa ada setitik kesepianpun kalian rasakan, dengan beberapa ekor burung nan indah terbang melintas), danau bernama Sidihoni yang ada di tengah Samosir, padang rumput nan sungguh luas, dan hal-hal menakjubkan lainnya, semua itu kami jumpai dalam keliaran. Dan rasa bahagiapun meluap-luap!! (gampang kan bikin aku bahagia?! Ajak aja berkeliaran seliar-liarnya!!).
....tapi bagaimanapun juga, keliaran ini musti diakhiri. Dan tak ada satupun yang sediktator sang waktu dalam urusan ini. Maka sore itu juga kami nyebrang ke Prapat untuk balik ke Medan, bergabung dengan anggota gerombolan lain, dan malamnya kembali ke Banda rame-rame dengan bus "Kurnia".
Satu pesanku, jangan pernah minta aku bawa kunci. Selalu, dan pasti akan hilang. Sudah ada banyak pembuktian tentang hal ini. Paling tidak, sudah tiga kali aku ngilangin kunci kamar guest house sehingga kena "warning" oleh "ibu kost", dan yang paling up to date adalah aku ngilangin kunci penginapan Samosir sehingga si abang Bloon itu musti charge aku 50 rb perak untuk kunci yang hilang itu. Bagitulah, reputasiku dalam hal menyimpan kunci ini sama sekali nggak bisa diandalkan.
Satu lagi...aku sedang berpikir tentang next destination: Pulo Batee!! (yang kelak di kemudian hari aku tahu bahwa belum sampai kesana, aku sudah meninggalkan bumi Aceh....)
:-)
Wednesday, 26 March 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
3 comments:
hmmm menarik boleh kenalan....? ada YM ngga?
o ya...emailku di gerlam@yahoo.com
thanks!
lifeisadventureima@yahoo.com
Post a Comment