Ery
27-Apr-2008 10:21
Everton x Aston villa, fiorentina x samprodia, palermo x atalanta, valencia x osasunb…pilih mana?
aku
27-Apr-2008 10:57
Ntar. Yg 4 kmrn menang sapa dl?
Ery
27-Apr-2008 10:59
Yg kmrn tepat 2, 1 draw, 1 kalah..!
aku
27-Apr-2008 14:20
Everton. Fiorentina. Palermo. Valencia. MERDEKAAA!!!
aku
27-Apr-2008 20:09
Eh klo lolos, komisi 10% ya :p..Awas lu klo gak ksh. Bs tkutuk!
Ery
27-Apr-2008 20:10
Amin…mlm mini hrs menang!
aku
27-Apr-2008 21:30
Lhoh…lu semalam kalah? Gak ngikutin aku?
Ery
27-Apr-2008 21:32
Ngikutin, Liverpool+Newcastle..dua2nya draw
:p :p :p :p :p :p
Sunday, 27 April 2008
aku dan feeling lonely
26 April 08
Banyak hal bisa kuatasi dengan baik sudah. Tapi sepertinya yang satu ini tidak: feeling lonely. Rasa ini benar-benar menyiksaku tanpa aku bisa bernegosiasi sedikitpun dengannya. Seperti halnya hari itu, beberapa waktu yang lalu.
Dia sudah menyemburat sejak padi di hari Sabtu (celaka, rasa ini biasanya muncul ketika weekend tak ada kawan menemani). Semakin siang, semakin kencang dia menghajarku tanpa ampun. Bikin aku sesak.
Kucoba mengatasi. Kulibatkan Bon Jovi diantara aku dan rasa sepi itu. Tak berhasil. Kucoba dengan Rolling Stones. Tak juga berhasil. Begitu juga Santana. Tak satupun dari mereka yang bisa kuajak berkolaborasi mengalahkan feeling lonely-ku itu. Oke, kubaca buku. Edan, tak teratasi juga. Kupejamkan mata, menggapai imajinasi untuk menimbulkan kegaduhan. Gagal total. Entahlah, sepertinya semua sedang bersekutu mengurungku dalam sepi yang tak tak terperikan. Oke, aku menyerah. Kutinggalkan rasa sepi itu sendiri, kukurung dalam kamarku. Aku tak tahan berhadapan dengannya. Aku pergi!
Hari ini, weekend kembali tak berkawan. Aku tak mau ketemu lagi dengannya karena aku belum tahu cara untuk berdamai dengannya. Maka, akupun pergi sebelum dia datang. Menghindar? Iya! Tak ada salahnya menghindar. Kucari pantai. Yang dekat-dekat saja. Lagi males jalan jauh. Pantai nan sepi dan teduh dimana hanya ada suara ombak disitu. Dan aku hanya ingin duduk, mendengarkan ombaknya, menyerahkan tubuhku pada angin, sambil kulanjutkan membaca buku 3 dari tetralogi ini. Sebuah keinginan yang begitu sederhana, kan?!
Biarpun sepi, alam terbuka tak pernah membuatku merasa kesepian. Maka, sebuah balai bengong tempat aku duduk menghadap pantai dengan ombak yang sepertinya asyik buat berselancar, semilir angin dan sebuah bukupun menjadi kawan baikku hari ini. Seharian. Ya, seharian penuh mereka bersamaku, diselingi interupsi satu dua pertanyaan dari satu dua orang yang datang kesitu dan 4 SMS dari 3 orang kawan (gender disaggregated data itu penting, kawan! :p Maka biarlah kusebutkan mereka ini: 2 perempuan dan 1 laki-laki):
“Hai.Lagi ngapain?” (Lagi berkolaborasi dengan pantai,ombak, angin, balai bengong, dan buku)
“Aku lagi kepikiran buat kabur lagi ke Bali” (Ayo aja. Bali memang tempat kabur yang menyenangkan. Jadi tunggu apa lagi?)
“Kapan kamu ke Jogja lagi? Aku pengen ke Jogja juga. Ih, aku kok aku jadi pengen kemana-mana” (Kemana-manalah selagi kamu masih bisa kemana-mana. Aku ke Jogja tanggal 30 ini, sampai 2 Mei. Ayo join..”)
“celsi x mancester, birmingham x liverpool, westham x newcaste, sunderland x midlesbrough…pilih mana…?”
Ahaaaa….kawan satu ini, rupanya sudah menjadikan aku yang nihil tentang dunia sepakbola ini sebagai narasumber persepakbolaan yang handal. Dalam 2 pertandingan terakhir, kawan ini kalah bertaruh gara-gara mengabaikan aku yang ‘hanya’ mengandalkan feeling semata. Dan celakanya, feelingku bagus (ah, jangan-jangan mereka menang karena sudah kutebak menang dengan feelingku, kawan??!! Kualirkan energi positif dalam tebakanku… Feeling oh feeling…).
Maka kujawablah kawan itu, lagi-lagi dengan feelingku: celsi, liverpool, newcaste, sunderland. MERDEKA!!! (mari kita lakukan uji feeling!).
Menjelang sore ketika orang-orang mulai berdatangan, saat itulah aku bersiap-siap memisahkan diri dengan pantai, ombak, dan angin, tentu saja setelah berucap terimakasih telah menemani dan sampai jumpa. Aku tak suka kegaduhan orang-orang di pantai.
Dan buku 3pun selesai sudah kubaca!
******
PS.
Jadi mbak Ani, kalau kau tanya apakah aku tak pernah kesepian disini, jawabnya tegas, “jelas pernah!”.
Jadi mbak Tari, kalau ada orang yang membatalkan rencananya berweekend denganku, jangan dikira itu tak berarti apapun bagiku :p
Banyak hal bisa kuatasi dengan baik sudah. Tapi sepertinya yang satu ini tidak: feeling lonely. Rasa ini benar-benar menyiksaku tanpa aku bisa bernegosiasi sedikitpun dengannya. Seperti halnya hari itu, beberapa waktu yang lalu.
Dia sudah menyemburat sejak padi di hari Sabtu (celaka, rasa ini biasanya muncul ketika weekend tak ada kawan menemani). Semakin siang, semakin kencang dia menghajarku tanpa ampun. Bikin aku sesak.
Kucoba mengatasi. Kulibatkan Bon Jovi diantara aku dan rasa sepi itu. Tak berhasil. Kucoba dengan Rolling Stones. Tak juga berhasil. Begitu juga Santana. Tak satupun dari mereka yang bisa kuajak berkolaborasi mengalahkan feeling lonely-ku itu. Oke, kubaca buku. Edan, tak teratasi juga. Kupejamkan mata, menggapai imajinasi untuk menimbulkan kegaduhan. Gagal total. Entahlah, sepertinya semua sedang bersekutu mengurungku dalam sepi yang tak tak terperikan. Oke, aku menyerah. Kutinggalkan rasa sepi itu sendiri, kukurung dalam kamarku. Aku tak tahan berhadapan dengannya. Aku pergi!
Hari ini, weekend kembali tak berkawan. Aku tak mau ketemu lagi dengannya karena aku belum tahu cara untuk berdamai dengannya. Maka, akupun pergi sebelum dia datang. Menghindar? Iya! Tak ada salahnya menghindar. Kucari pantai. Yang dekat-dekat saja. Lagi males jalan jauh. Pantai nan sepi dan teduh dimana hanya ada suara ombak disitu. Dan aku hanya ingin duduk, mendengarkan ombaknya, menyerahkan tubuhku pada angin, sambil kulanjutkan membaca buku 3 dari tetralogi ini. Sebuah keinginan yang begitu sederhana, kan?!
Biarpun sepi, alam terbuka tak pernah membuatku merasa kesepian. Maka, sebuah balai bengong tempat aku duduk menghadap pantai dengan ombak yang sepertinya asyik buat berselancar, semilir angin dan sebuah bukupun menjadi kawan baikku hari ini. Seharian. Ya, seharian penuh mereka bersamaku, diselingi interupsi satu dua pertanyaan dari satu dua orang yang datang kesitu dan 4 SMS dari 3 orang kawan (gender disaggregated data itu penting, kawan! :p Maka biarlah kusebutkan mereka ini: 2 perempuan dan 1 laki-laki):
“Hai.Lagi ngapain?” (Lagi berkolaborasi dengan pantai,ombak, angin, balai bengong, dan buku)
“Aku lagi kepikiran buat kabur lagi ke Bali” (Ayo aja. Bali memang tempat kabur yang menyenangkan. Jadi tunggu apa lagi?)
“Kapan kamu ke Jogja lagi? Aku pengen ke Jogja juga. Ih, aku kok aku jadi pengen kemana-mana” (Kemana-manalah selagi kamu masih bisa kemana-mana. Aku ke Jogja tanggal 30 ini, sampai 2 Mei. Ayo join..”)
“celsi x mancester, birmingham x liverpool, westham x newcaste, sunderland x midlesbrough…pilih mana…?”
Ahaaaa….kawan satu ini, rupanya sudah menjadikan aku yang nihil tentang dunia sepakbola ini sebagai narasumber persepakbolaan yang handal. Dalam 2 pertandingan terakhir, kawan ini kalah bertaruh gara-gara mengabaikan aku yang ‘hanya’ mengandalkan feeling semata. Dan celakanya, feelingku bagus (ah, jangan-jangan mereka menang karena sudah kutebak menang dengan feelingku, kawan??!! Kualirkan energi positif dalam tebakanku… Feeling oh feeling…).
Maka kujawablah kawan itu, lagi-lagi dengan feelingku: celsi, liverpool, newcaste, sunderland. MERDEKA!!! (mari kita lakukan uji feeling!).
Menjelang sore ketika orang-orang mulai berdatangan, saat itulah aku bersiap-siap memisahkan diri dengan pantai, ombak, dan angin, tentu saja setelah berucap terimakasih telah menemani dan sampai jumpa. Aku tak suka kegaduhan orang-orang di pantai.
Dan buku 3pun selesai sudah kubaca!
******
PS.
Jadi mbak Ani, kalau kau tanya apakah aku tak pernah kesepian disini, jawabnya tegas, “jelas pernah!”.
Jadi mbak Tari, kalau ada orang yang membatalkan rencananya berweekend denganku, jangan dikira itu tak berarti apapun bagiku :p
Thursday, 24 April 2008
perkenankanlah...
....maka puisi inipun menjadi puisi favoritku... (dan sudah selayaknyalah aku berterimakasih kepada Gus Mus, yang telah begitu indah menuangkannya)...
Perkenankanlah aku mencintaimu
(A. Mustofa Bisri)
Perkenankanlah aku mencintaimu
seperti ini
tanpa kekecewaan yang berarti
meski tanpa kepastian yang pasti
harapan-harapan yang setiap kali
dikecewakan kenyataan
biarlah dibayar oleh harapan-harapan baru
yang menjanjikan
perkenankanlah aku mencintaimu
semampuku
menyebut-nyebut namamu
dalam kesendirian pun lumayan
berdiri di depan pintumu tanpa harapan
kau membukakannya pun terasa nyaman
sekali-kali membayangkan kau memperhatikan
pun cukup memuaskan
perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku
Perkenankanlah aku mencintaimu
(A. Mustofa Bisri)
Perkenankanlah aku mencintaimu
seperti ini
tanpa kekecewaan yang berarti
meski tanpa kepastian yang pasti
harapan-harapan yang setiap kali
dikecewakan kenyataan
biarlah dibayar oleh harapan-harapan baru
yang menjanjikan
perkenankanlah aku mencintaimu
semampuku
menyebut-nyebut namamu
dalam kesendirian pun lumayan
berdiri di depan pintumu tanpa harapan
kau membukakannya pun terasa nyaman
sekali-kali membayangkan kau memperhatikan
pun cukup memuaskan
perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku
Wednesday, 23 April 2008
presentasi powerpoint
“Jangan sekali-sekali suruh aku bawain sesi dengan cara presentasi powerpoint. Cara ini hanya akan aku pakai ketika sudah tidak ada cara lain. Aku lebih suka dan nyaman pakai cara-cara yang merangsang otak kanan untuk bekerja. Sorry to say, presentasi power point tidak memungkinkan itu. Role play, gambar, dan games adalah cara-cara yang paling aku cintai untuk mengisi sesi; sementara presentasi powerpoint bikin aku mati, kecuali kita kemas dalam bentuk lain, mengkombinasikannya dengan role play dan games, misalnya. Jadi sekali lagi, jangan suruh aku bawain sesi dengan presentasi power point melulu, kecuali kamu ingin membunuhku….”
Thursday, 17 April 2008
mewadahi cinta-cinta
”Aku jadi takut dengan diriku. Aku nggak minta itu. . Hatiku sedang kewalahan”, katanya dengan cemas.
Cinta datang bertubi-tubi menghujaninya. Menyergap tanpa memberinya ampun. Maka hatinyapun gundah gulana bagaikan lajang menanti kekasih. Apa yang terjadi? Dia bertanya. Kujawab, ”Yang jelas, ada cinta yang sedang disodorkan kepadamu. Bersyukurlah, ada cinta! Siapapun berhak memberi dan mendapatkan cinta dari siapapun, biarpun kau bilang kau nggak sanggup mewadahi cinta-cinta itu dan hatimu sedang kewalahan. Aturlah cinta-cinta itu. Mungkin ada yang mesti ditaruh di piring, ada yang di gelas, ada yang di mangkok, dan mungkin ada yang di keranjang sampah :-) …Kamu orang yang kuat menghadapi cinta-cinta itu...”
Kadang-kadang cinta itu seperti Tuhan ya....bekerja dengan cara misterius..
Cinta datang bertubi-tubi menghujaninya. Menyergap tanpa memberinya ampun. Maka hatinyapun gundah gulana bagaikan lajang menanti kekasih. Apa yang terjadi? Dia bertanya. Kujawab, ”Yang jelas, ada cinta yang sedang disodorkan kepadamu. Bersyukurlah, ada cinta! Siapapun berhak memberi dan mendapatkan cinta dari siapapun, biarpun kau bilang kau nggak sanggup mewadahi cinta-cinta itu dan hatimu sedang kewalahan. Aturlah cinta-cinta itu. Mungkin ada yang mesti ditaruh di piring, ada yang di gelas, ada yang di mangkok, dan mungkin ada yang di keranjang sampah :-) …Kamu orang yang kuat menghadapi cinta-cinta itu...”
Kadang-kadang cinta itu seperti Tuhan ya....bekerja dengan cara misterius..
Thursday, 10 April 2008
Fruit Tea dan tempat minum
Akhirnya hari itu datang juga (sebuah hari di bulan Januari 2008), setelah berhari-hari kutunggu nggak datang-datang (kasihannya aku!): sebuah hari yang menyenangkan.
Aku melewati hari ini hanya berdua saja. Ya, berdua! Dengan seorang perempuan kecil (maaf, aku lebih nyaman menggunakan kata perempuan daripada gadis atau wanita atau kata lainnya yang sejenis) berusia 5 tahun, berambut keriting dan bermata bulat. Dalam kesehariannya dia dipanggil Sukma. Oleh orang tuanya dia diberi nama Sukma Kanthi Nurani. Menurut yang memberi nama, artinya kurang lebih: sukma yang dituntun oleh nurani.
Hari ini aku berhasil mengajaknya (atau dia berhasil mengajakku? Entahlah!) jalan-jalan dalam arti yang sesungguhnya. Dia memilih sendiri tujuannya: Taman Pintar (hhmmm, it’s a good choise). Oke, sepakat!
Rumah Sukma ada di sisi utara Jogja, yang hampir berbatasan dengan Jawa Tengah. Dan sebagai gambaran, tujuan yang ditentukan oleh Sukma itu kira-kira berjarak 20 km dari rumahnya (lumayan, kan?!). Taman Pintar ada di tengah kota Jogjakarta. Ujung selatan jalan Malioboro, terus belok kiri sekitar 400 m, sebelum traffic light yang kalau ke kanan ke arah Pojok Beteng Wetan dan kalau lurus ke arah Makam Pahlawan Kusumanegara.
Aku kasih dia 3 pilihan yang realistis buat kami untuk bisa sampai ke sana: motor, taxi, atau angkot, dengan penjelasan mengenai detil masing-masing. Yang terakhir itu jelas membutuhkan penjelasan yang paling panjang, sekaligus paling ’berdarah-darah’ untuk diimplemetasikan. Dia mendengarkan penjelasanku dengan seksama dan antusias.. Dan hebatnya, dia memilih yang terakhir. Setelah beberapa kali kukonfirmasi, dia tetap memilih itu dengan confidence. Luar biasa!! Aku bisa merasakan betapa dia sangat excited dengan trip yang akan kami jalani bersama. Oke, angkot!!
Dia minta bawa bekal minuman dan biskuit. Great, dia sadar bahwa logistik itu penting!Aku tawarkan bawa minum dari rumah dia dengan menggunakan tempat minum yang dia punya, sementara biskuit nanti dibeli di toko atau supermarket sekalian jalan. Dia menolak bekal minum dengan tempat minumnya. Ketika kutanya kenapa, dia jawab dengan polosnya, ”Aku pengen bawa minum Fruit Tea. Nanti beli aja sekalian beli biskuit”. Lalu ada sedikit diskusi disini. Kukatakan, ”minuman yang kita bikin sendiri dan kita taruh di tempat minum itu lebih sehat dan lebih enak. Nanti wadahnya bisa kita cuci dan kita pakai lagi. Kalau Fruit Tea kan wadahnya nggak bisa kita pakai lagi. Nanti bikin sampah ...” (Ah, jadi ingat sebuah tempat nun jauh sana yang selalu menyediakan begitu buanyak minuman kemasan dengan berbagai merk itu ketika makan siang. Pikir-pikir seberapa besar ya sumber daya yang dikeruk dari setiap kemasan dan sampah yang diproduksi tiap harinya??! Gimana dong dengan environmental friendly yang selama ini digemborin? Walk the talk please… Pernah lontarkan isu ini ke XXXX, dia hanya senyam-senyum aja nggak njawab). Kali ini dia nggak mau terima penjelasaanku. Kucoba lagi. Dia tetep nggak mau. Intinya, aku nggak berhasil membujuknya. Buat dia, jalan-jalan dengan membawa bekal Fruit Tea dan biskuit itu sungguh keren!
Oke, aku ulur uratku kali ini untuk ditarik lagi kali lain....
Aku melewati hari ini hanya berdua saja. Ya, berdua! Dengan seorang perempuan kecil (maaf, aku lebih nyaman menggunakan kata perempuan daripada gadis atau wanita atau kata lainnya yang sejenis) berusia 5 tahun, berambut keriting dan bermata bulat. Dalam kesehariannya dia dipanggil Sukma. Oleh orang tuanya dia diberi nama Sukma Kanthi Nurani. Menurut yang memberi nama, artinya kurang lebih: sukma yang dituntun oleh nurani.
Hari ini aku berhasil mengajaknya (atau dia berhasil mengajakku? Entahlah!) jalan-jalan dalam arti yang sesungguhnya. Dia memilih sendiri tujuannya: Taman Pintar (hhmmm, it’s a good choise). Oke, sepakat!
Rumah Sukma ada di sisi utara Jogja, yang hampir berbatasan dengan Jawa Tengah. Dan sebagai gambaran, tujuan yang ditentukan oleh Sukma itu kira-kira berjarak 20 km dari rumahnya (lumayan, kan?!). Taman Pintar ada di tengah kota Jogjakarta. Ujung selatan jalan Malioboro, terus belok kiri sekitar 400 m, sebelum traffic light yang kalau ke kanan ke arah Pojok Beteng Wetan dan kalau lurus ke arah Makam Pahlawan Kusumanegara.
Aku kasih dia 3 pilihan yang realistis buat kami untuk bisa sampai ke sana: motor, taxi, atau angkot, dengan penjelasan mengenai detil masing-masing. Yang terakhir itu jelas membutuhkan penjelasan yang paling panjang, sekaligus paling ’berdarah-darah’ untuk diimplemetasikan. Dia mendengarkan penjelasanku dengan seksama dan antusias.. Dan hebatnya, dia memilih yang terakhir. Setelah beberapa kali kukonfirmasi, dia tetap memilih itu dengan confidence. Luar biasa!! Aku bisa merasakan betapa dia sangat excited dengan trip yang akan kami jalani bersama. Oke, angkot!!
Dia minta bawa bekal minuman dan biskuit. Great, dia sadar bahwa logistik itu penting!Aku tawarkan bawa minum dari rumah dia dengan menggunakan tempat minum yang dia punya, sementara biskuit nanti dibeli di toko atau supermarket sekalian jalan. Dia menolak bekal minum dengan tempat minumnya. Ketika kutanya kenapa, dia jawab dengan polosnya, ”Aku pengen bawa minum Fruit Tea. Nanti beli aja sekalian beli biskuit”. Lalu ada sedikit diskusi disini. Kukatakan, ”minuman yang kita bikin sendiri dan kita taruh di tempat minum itu lebih sehat dan lebih enak. Nanti wadahnya bisa kita cuci dan kita pakai lagi. Kalau Fruit Tea kan wadahnya nggak bisa kita pakai lagi. Nanti bikin sampah ...” (Ah, jadi ingat sebuah tempat nun jauh sana yang selalu menyediakan begitu buanyak minuman kemasan dengan berbagai merk itu ketika makan siang. Pikir-pikir seberapa besar ya sumber daya yang dikeruk dari setiap kemasan dan sampah yang diproduksi tiap harinya??! Gimana dong dengan environmental friendly yang selama ini digemborin? Walk the talk please… Pernah lontarkan isu ini ke XXXX, dia hanya senyam-senyum aja nggak njawab). Kali ini dia nggak mau terima penjelasaanku. Kucoba lagi. Dia tetep nggak mau. Intinya, aku nggak berhasil membujuknya. Buat dia, jalan-jalan dengan membawa bekal Fruit Tea dan biskuit itu sungguh keren!
Oke, aku ulur uratku kali ini untuk ditarik lagi kali lain....
Friday, 4 April 2008
...diantara ingatan tentang bom
Kau tanyakan padaku, ”Bagaimana wajah Bali sekarang diantara ingatan tentang bom?" Entahlah apakah cerita ini akan menjawab pertanyaanmu atau tidak.
Suatu kali, jaman awal-awal aku punya pengalaman menggunakan pesawat sebagai alat transportasi, aku pernah menyimpan sebuah keinginan: terbang dalam kondisi hujan deras. Tersimpan sebuah rasa 'penasaran': seperti apa ya rasanya? Pasti penuh getaran-getaran sensasi! Lho, apa hubungannya dengan Bali? Ada! Keinginan dan rasa penasaranku itu terpenuhi dalam penerbangan dari Joga menuju Denpasar akhir tahun lalu, tepatnya tanggal 25 Desember, setelah aku melewatkan 5 hariku di Jogja.
Sensasional memang! Dan saking sensasionalnya, aku tak lagi ingin mengalaminya. Aku nggak kuat dengan sensasinya!
Mendaratlah itu Garuda di bandara Ngurah Rai, menjelang tengah malam. Segera menuju Taxi Service setelah ambil bagasi yang cuma travel bag semata wayang. Tak biasanya, penuh! Antrean panjang bak ular naga dalam dongeng. Dan akan bertambah panjang karena kudengar suara membahana berurutan, Mandala dan Lion yang sama-sama dari Jogja barusan mendarat (kenapa sih jadwal bareng-bareng gini?!). Tak ada pilihan lain, akupun masuk dalam antrean naga itu selama lebih dari setengah jam.
Entah kenapa, malam itu aku kebagian taksi yang sopirnya tak terlalu menyenangkan diajak ngobrol (Aku punya kebiasaan ngobrol dengan sopir selama tak tertempel stiker "Dilarang Berbicara dengan Sopir"). Dia omeli hujan yang turun dengan derasnya, dia omeli banjir, dan bahkan dia omeli aku karena aku lupa belokan menuju alamat kos-ku...Hhhmm, ajaib betul ni supir, kataku dalam hati.
Tengah malam itu semuanya memang serba di luar kebiasaan (tengah malam, bayangkan!). Kalian pasti pernah mengalami saat-saat seperti ini kan? Nah, begitu belok dari jl. Sidakarya ke jl. (sebetulnya sih lebih tepat disebut gang) Kertha Winangun I, aku mendapati keajaiban yang lain: genangan air memanjang macam sungai ada di depan mata. Banjir!! Lagi-lagi, terdengar omelan si sopir taksi. Memintaku turun di mulut gang karena dia nggak berani nyebrang 'danau' itu kecuali aku bertanggung jawab kalau mobilnya macet. Ya jelas aku ogah dong, enak ajah!! Bukan soal musti turun dan nyebrangnya sih, tapi soal the way he memintaku itu itu lho yang aku merasa sangat nggak 'berkenan'.
Baiklah. Dini hari itu aku sebrangilah itu sungai tiban, macam Yuyu Kangkang yang nyebrangin Kleting Abang, Kleting Ijo, dan Kleting Kuning yang mau ngelamar Andhe-andhe Lumut. Rujan rintik masih lumayan deras. Siap tempur, punggung menggendong sebuah ransel berisi laptop dan beberapa dokumen, tangan mendekap di dada sebuah travel bag berukuran tanggung, berisi penuh baju bersih dan barang tengek bengek yang kubawa dari Jogja (perlu kalian ketahui, waktu pulang ke Jogja 5 hari lalu, satu tas itupun penuh berisi baju. Bedanya, waktu itu baju-baju itu dalam keadaan siap cuci!!). Sungai itu setinggi lutut bagian atas (atau paha bagian bawah?). Begitu nyampe gerbang hitam itu, waahh lega sekali rasanya. Tapi..tak ada Andhe-andhe Lumut disana...
Si Bibik tentangga kamar yang kesehariannya momong bocah 3 bulan bernama Tian, sudah nongol di balik pintu kamarnya dengan wajah prihatin, begitu aku buka kunci pintu gerbang. Hhhmmm wet look, pikirnya! O ya, sedikit lagi tentang si Bibik ini, dialah yang aku titipi kunci di hari kedatangan Mia ke kos-ku. Waktu kuberitakan bahwa ada seorang teman mau nginap di tempatku, pertanyaan pertamanya, "Laki-laki atau perempuan, Mbak?". Waduh, si Bibik ini, mengingat usianya, pertanyaannya kok ya sangat “progresif revolusioner” gitu di kupingku. Atau aku yang terlalu konvensional ya??!!
Oke, kamarku masih dalam keadaan persis ketika kutinggal. Hujan deras makin deras. Membuatku was-was. Mata nggak mau pejam biarpun udah terasa pedas. Bentar-bentar kutengok luar lewat jendela, seberapa sudah air naik. Aku perkirakan semata kaki bagian atas (atau betis bagian bawah?).
Hujan masih deras. Aku makin was-was. Cerita tentang banjir yang selama ini hanya aku dengar dari kawan, aku baca dari koran, dan aku tonton dari televisi kini ada di depan mata. Begitu nyata!! Pengalaman dengan gempa besar di Jogja membuat 'antena'ku tentang segala hal yang terkait dengan bencana alam cepat memanjang. Suatu ketika di Banda Aceh, aku ingat aku pernah merasa sangat ngeri dan takut ketika angin yang begitu kenceng menerpa. Dan aku tahu si mbak-mbak Perancis (Ayu, Mia, Toni, masih ingat si mbak satu ini kan?), yang waktu itu duduk di dekatku, menangkap sorot mata ketakutanku itu. Dia tanya, "are you scared?". Kujawab jujur, iya.
Aku siapkan diriku in case air bener-bener masuk kamarku: ringkesin barang-barang yang tak banyak itu, taruh di atas. Siapkan space untuk kasur empukku itu. dll. Sebelum malam ini, aku berpikir bahwa kos-ku ini begitu ideal: tenang, nyaman, bersih, tak banyak penghuni, berkamar mandi, berdapur mungil, berteras depan dan belakang, dll. (Komentar Mia begini: "wah, mbak kos-mu ini kalau di Banda Aceh berapa ya harganya?". Untungnya, Denpasar bukan Banda Aceh, Mi!!). Tapi banjir malam ini merusak citra itu. Ah, barangkali waktu itu aku lupa bahwa ideal itu hanya ada di alam ide, bahkan untuk sebuah kamar kos sekalipun....
****
Suatu kali, jaman awal-awal aku punya pengalaman menggunakan pesawat sebagai alat transportasi, aku pernah menyimpan sebuah keinginan: terbang dalam kondisi hujan deras. Tersimpan sebuah rasa 'penasaran': seperti apa ya rasanya? Pasti penuh getaran-getaran sensasi! Lho, apa hubungannya dengan Bali? Ada! Keinginan dan rasa penasaranku itu terpenuhi dalam penerbangan dari Joga menuju Denpasar akhir tahun lalu, tepatnya tanggal 25 Desember, setelah aku melewatkan 5 hariku di Jogja.
Sensasional memang! Dan saking sensasionalnya, aku tak lagi ingin mengalaminya. Aku nggak kuat dengan sensasinya!
Mendaratlah itu Garuda di bandara Ngurah Rai, menjelang tengah malam. Segera menuju Taxi Service setelah ambil bagasi yang cuma travel bag semata wayang. Tak biasanya, penuh! Antrean panjang bak ular naga dalam dongeng. Dan akan bertambah panjang karena kudengar suara membahana berurutan, Mandala dan Lion yang sama-sama dari Jogja barusan mendarat (kenapa sih jadwal bareng-bareng gini?!). Tak ada pilihan lain, akupun masuk dalam antrean naga itu selama lebih dari setengah jam.
Entah kenapa, malam itu aku kebagian taksi yang sopirnya tak terlalu menyenangkan diajak ngobrol (Aku punya kebiasaan ngobrol dengan sopir selama tak tertempel stiker "Dilarang Berbicara dengan Sopir"). Dia omeli hujan yang turun dengan derasnya, dia omeli banjir, dan bahkan dia omeli aku karena aku lupa belokan menuju alamat kos-ku...Hhhmm, ajaib betul ni supir, kataku dalam hati.
Tengah malam itu semuanya memang serba di luar kebiasaan (tengah malam, bayangkan!). Kalian pasti pernah mengalami saat-saat seperti ini kan? Nah, begitu belok dari jl. Sidakarya ke jl. (sebetulnya sih lebih tepat disebut gang) Kertha Winangun I, aku mendapati keajaiban yang lain: genangan air memanjang macam sungai ada di depan mata. Banjir!! Lagi-lagi, terdengar omelan si sopir taksi. Memintaku turun di mulut gang karena dia nggak berani nyebrang 'danau' itu kecuali aku bertanggung jawab kalau mobilnya macet. Ya jelas aku ogah dong, enak ajah!! Bukan soal musti turun dan nyebrangnya sih, tapi soal the way he memintaku itu itu lho yang aku merasa sangat nggak 'berkenan'.
Baiklah. Dini hari itu aku sebrangilah itu sungai tiban, macam Yuyu Kangkang yang nyebrangin Kleting Abang, Kleting Ijo, dan Kleting Kuning yang mau ngelamar Andhe-andhe Lumut. Rujan rintik masih lumayan deras. Siap tempur, punggung menggendong sebuah ransel berisi laptop dan beberapa dokumen, tangan mendekap di dada sebuah travel bag berukuran tanggung, berisi penuh baju bersih dan barang tengek bengek yang kubawa dari Jogja (perlu kalian ketahui, waktu pulang ke Jogja 5 hari lalu, satu tas itupun penuh berisi baju. Bedanya, waktu itu baju-baju itu dalam keadaan siap cuci!!). Sungai itu setinggi lutut bagian atas (atau paha bagian bawah?). Begitu nyampe gerbang hitam itu, waahh lega sekali rasanya. Tapi..tak ada Andhe-andhe Lumut disana...
Si Bibik tentangga kamar yang kesehariannya momong bocah 3 bulan bernama Tian, sudah nongol di balik pintu kamarnya dengan wajah prihatin, begitu aku buka kunci pintu gerbang. Hhhmmm wet look, pikirnya! O ya, sedikit lagi tentang si Bibik ini, dialah yang aku titipi kunci di hari kedatangan Mia ke kos-ku. Waktu kuberitakan bahwa ada seorang teman mau nginap di tempatku, pertanyaan pertamanya, "Laki-laki atau perempuan, Mbak?". Waduh, si Bibik ini, mengingat usianya, pertanyaannya kok ya sangat “progresif revolusioner” gitu di kupingku. Atau aku yang terlalu konvensional ya??!!
Oke, kamarku masih dalam keadaan persis ketika kutinggal. Hujan deras makin deras. Membuatku was-was. Mata nggak mau pejam biarpun udah terasa pedas. Bentar-bentar kutengok luar lewat jendela, seberapa sudah air naik. Aku perkirakan semata kaki bagian atas (atau betis bagian bawah?).
Hujan masih deras. Aku makin was-was. Cerita tentang banjir yang selama ini hanya aku dengar dari kawan, aku baca dari koran, dan aku tonton dari televisi kini ada di depan mata. Begitu nyata!! Pengalaman dengan gempa besar di Jogja membuat 'antena'ku tentang segala hal yang terkait dengan bencana alam cepat memanjang. Suatu ketika di Banda Aceh, aku ingat aku pernah merasa sangat ngeri dan takut ketika angin yang begitu kenceng menerpa. Dan aku tahu si mbak-mbak Perancis (Ayu, Mia, Toni, masih ingat si mbak satu ini kan?), yang waktu itu duduk di dekatku, menangkap sorot mata ketakutanku itu. Dia tanya, "are you scared?". Kujawab jujur, iya.
Aku siapkan diriku in case air bener-bener masuk kamarku: ringkesin barang-barang yang tak banyak itu, taruh di atas. Siapkan space untuk kasur empukku itu. dll. Sebelum malam ini, aku berpikir bahwa kos-ku ini begitu ideal: tenang, nyaman, bersih, tak banyak penghuni, berkamar mandi, berdapur mungil, berteras depan dan belakang, dll. (Komentar Mia begini: "wah, mbak kos-mu ini kalau di Banda Aceh berapa ya harganya?". Untungnya, Denpasar bukan Banda Aceh, Mi!!). Tapi banjir malam ini merusak citra itu. Ah, barangkali waktu itu aku lupa bahwa ideal itu hanya ada di alam ide, bahkan untuk sebuah kamar kos sekalipun....
****
Subscribe to:
Posts (Atom)