Friday, 4 April 2008

...diantara ingatan tentang bom

Kau tanyakan padaku, ”Bagaimana wajah Bali sekarang diantara ingatan tentang bom?" Entahlah apakah cerita ini akan menjawab pertanyaanmu atau tidak.

Suatu kali, jaman awal-awal aku punya pengalaman menggunakan pesawat sebagai alat transportasi, aku pernah menyimpan sebuah keinginan: terbang dalam kondisi hujan deras. Tersimpan sebuah rasa 'penasaran': seperti apa ya rasanya? Pasti penuh getaran-getaran sensasi! Lho, apa hubungannya dengan Bali? Ada! Keinginan dan rasa penasaranku itu terpenuhi dalam penerbangan dari Joga menuju Denpasar akhir tahun lalu, tepatnya tanggal 25 Desember, setelah aku melewatkan 5 hariku di Jogja.

Sensasional memang! Dan saking sensasionalnya, aku tak lagi ingin mengalaminya. Aku nggak kuat dengan sensasinya!

Mendaratlah itu Garuda di bandara Ngurah Rai, menjelang tengah malam. Segera menuju Taxi Service setelah ambil bagasi yang cuma travel bag semata wayang. Tak biasanya, penuh! Antrean panjang bak ular naga dalam dongeng. Dan akan bertambah panjang karena kudengar suara membahana berurutan, Mandala dan Lion yang sama-sama dari Jogja barusan mendarat (kenapa sih jadwal bareng-bareng gini?!). Tak ada pilihan lain, akupun masuk dalam antrean naga itu selama lebih dari setengah jam.

Entah kenapa, malam itu aku kebagian taksi yang sopirnya tak terlalu menyenangkan diajak ngobrol (Aku punya kebiasaan ngobrol dengan sopir selama tak tertempel stiker "Dilarang Berbicara dengan Sopir"). Dia omeli hujan yang turun dengan derasnya, dia omeli banjir, dan bahkan dia omeli aku karena aku lupa belokan menuju alamat kos-ku...Hhhmm, ajaib betul ni supir, kataku dalam hati.

Tengah malam itu semuanya memang serba di luar kebiasaan (tengah malam, bayangkan!). Kalian pasti pernah mengalami saat-saat seperti ini kan? Nah, begitu belok dari jl. Sidakarya ke jl. (sebetulnya sih lebih tepat disebut gang) Kertha Winangun I, aku mendapati keajaiban yang lain: genangan air memanjang macam sungai ada di depan mata. Banjir!! Lagi-lagi, terdengar omelan si sopir taksi. Memintaku turun di mulut gang karena dia nggak berani nyebrang 'danau' itu kecuali aku bertanggung jawab kalau mobilnya macet. Ya jelas aku ogah dong, enak ajah!! Bukan soal musti turun dan nyebrangnya sih, tapi soal the way he memintaku itu itu lho yang aku merasa sangat nggak 'berkenan'.

Baiklah. Dini hari itu aku sebrangilah itu sungai tiban, macam Yuyu Kangkang yang nyebrangin Kleting Abang, Kleting Ijo, dan Kleting Kuning yang mau ngelamar Andhe-andhe Lumut. Rujan rintik masih lumayan deras. Siap tempur, punggung menggendong sebuah ransel berisi laptop dan beberapa dokumen, tangan mendekap di dada sebuah travel bag berukuran tanggung, berisi penuh baju bersih dan barang tengek bengek yang kubawa dari Jogja (perlu kalian ketahui, waktu pulang ke Jogja 5 hari lalu, satu tas itupun penuh berisi baju. Bedanya, waktu itu baju-baju itu dalam keadaan siap cuci!!). Sungai itu setinggi lutut bagian atas (atau paha bagian bawah?). Begitu nyampe gerbang hitam itu, waahh lega sekali rasanya. Tapi..tak ada Andhe-andhe Lumut disana...

Si Bibik tentangga kamar yang kesehariannya momong bocah 3 bulan bernama Tian, sudah nongol di balik pintu kamarnya dengan wajah prihatin, begitu aku buka kunci pintu gerbang. Hhhmmm wet look, pikirnya! O ya, sedikit lagi tentang si Bibik ini, dialah yang aku titipi kunci di hari kedatangan Mia ke kos-ku. Waktu kuberitakan bahwa ada seorang teman mau nginap di tempatku, pertanyaan pertamanya, "Laki-laki atau perempuan, Mbak?". Waduh, si Bibik ini, mengingat usianya, pertanyaannya kok ya sangat “progresif revolusioner” gitu di kupingku. Atau aku yang terlalu konvensional ya??!!

Oke, kamarku masih dalam keadaan persis ketika kutinggal. Hujan deras makin deras. Membuatku was-was. Mata nggak mau pejam biarpun udah terasa pedas. Bentar-bentar kutengok luar lewat jendela, seberapa sudah air naik. Aku perkirakan semata kaki bagian atas (atau betis bagian bawah?).

Hujan masih deras. Aku makin was-was. Cerita tentang banjir yang selama ini hanya aku dengar dari kawan, aku baca dari koran, dan aku tonton dari televisi kini ada di depan mata. Begitu nyata!! Pengalaman dengan gempa besar di Jogja membuat 'antena'ku tentang segala hal yang terkait dengan bencana alam cepat memanjang. Suatu ketika di Banda Aceh, aku ingat aku pernah merasa sangat ngeri dan takut ketika angin yang begitu kenceng menerpa. Dan aku tahu si mbak-mbak Perancis (Ayu, Mia, Toni, masih ingat si mbak satu ini kan?), yang waktu itu duduk di dekatku, menangkap sorot mata ketakutanku itu. Dia tanya, "are you scared?". Kujawab jujur, iya.

Aku siapkan diriku in case air bener-bener masuk kamarku: ringkesin barang-barang yang tak banyak itu, taruh di atas. Siapkan space untuk kasur empukku itu. dll. Sebelum malam ini, aku berpikir bahwa kos-ku ini begitu ideal: tenang, nyaman, bersih, tak banyak penghuni, berkamar mandi, berdapur mungil, berteras depan dan belakang, dll. (Komentar Mia begini: "wah, mbak kos-mu ini kalau di Banda Aceh berapa ya harganya?". Untungnya, Denpasar bukan Banda Aceh, Mi!!). Tapi banjir malam ini merusak citra itu. Ah, barangkali waktu itu aku lupa bahwa ideal itu hanya ada di alam ide, bahkan untuk sebuah kamar kos sekalipun....

****

No comments: