Thursday, 10 April 2008

Fruit Tea dan tempat minum

Akhirnya hari itu datang juga (sebuah hari di bulan Januari 2008), setelah berhari-hari kutunggu nggak datang-datang (kasihannya aku!): sebuah hari yang menyenangkan.

Aku melewati hari ini hanya berdua saja. Ya, berdua! Dengan seorang perempuan kecil (maaf, aku lebih nyaman menggunakan kata perempuan daripada gadis atau wanita atau kata lainnya yang sejenis) berusia 5 tahun, berambut keriting dan bermata bulat. Dalam kesehariannya dia dipanggil Sukma. Oleh orang tuanya dia diberi nama Sukma Kanthi Nurani. Menurut yang memberi nama, artinya kurang lebih: sukma yang dituntun oleh nurani.

Hari ini aku berhasil mengajaknya (atau dia berhasil mengajakku? Entahlah!) jalan-jalan dalam arti yang sesungguhnya. Dia memilih sendiri tujuannya: Taman Pintar (hhmmm, it’s a good choise). Oke, sepakat!

Rumah Sukma ada di sisi utara Jogja, yang hampir berbatasan dengan Jawa Tengah. Dan sebagai gambaran, tujuan yang ditentukan oleh Sukma itu kira-kira berjarak 20 km dari rumahnya (lumayan, kan?!). Taman Pintar ada di tengah kota Jogjakarta. Ujung selatan jalan Malioboro, terus belok kiri sekitar 400 m, sebelum traffic light yang kalau ke kanan ke arah Pojok Beteng Wetan dan kalau lurus ke arah Makam Pahlawan Kusumanegara.

Aku kasih dia 3 pilihan yang realistis buat kami untuk bisa sampai ke sana: motor, taxi, atau angkot, dengan penjelasan mengenai detil masing-masing. Yang terakhir itu jelas membutuhkan penjelasan yang paling panjang, sekaligus paling ’berdarah-darah’ untuk diimplemetasikan. Dia mendengarkan penjelasanku dengan seksama dan antusias.. Dan hebatnya, dia memilih yang terakhir. Setelah beberapa kali kukonfirmasi, dia tetap memilih itu dengan confidence. Luar biasa!! Aku bisa merasakan betapa dia sangat excited dengan trip yang akan kami jalani bersama. Oke, angkot!!

Dia minta bawa bekal minuman dan biskuit. Great, dia sadar bahwa logistik itu penting!Aku tawarkan bawa minum dari rumah dia dengan menggunakan tempat minum yang dia punya, sementara biskuit nanti dibeli di toko atau supermarket sekalian jalan. Dia menolak bekal minum dengan tempat minumnya. Ketika kutanya kenapa, dia jawab dengan polosnya, ”Aku pengen bawa minum Fruit Tea. Nanti beli aja sekalian beli biskuit”. Lalu ada sedikit diskusi disini. Kukatakan, ”minuman yang kita bikin sendiri dan kita taruh di tempat minum itu lebih sehat dan lebih enak. Nanti wadahnya bisa kita cuci dan kita pakai lagi. Kalau Fruit Tea kan wadahnya nggak bisa kita pakai lagi. Nanti bikin sampah ...” (Ah, jadi ingat sebuah tempat nun jauh sana yang selalu menyediakan begitu buanyak minuman kemasan dengan berbagai merk itu ketika makan siang. Pikir-pikir seberapa besar ya sumber daya yang dikeruk dari setiap kemasan dan sampah yang diproduksi tiap harinya??! Gimana dong dengan environmental friendly yang selama ini digemborin? Walk the talk please… Pernah lontarkan isu ini ke XXXX, dia hanya senyam-senyum aja nggak njawab). Kali ini dia nggak mau terima penjelasaanku. Kucoba lagi. Dia tetep nggak mau. Intinya, aku nggak berhasil membujuknya. Buat dia, jalan-jalan dengan membawa bekal Fruit Tea dan biskuit itu sungguh keren!

Oke, aku ulur uratku kali ini untuk ditarik lagi kali lain....

No comments: