Kami memanggilnya bu Ayu. Dialah yang tiap pagi dan siang dengan setia menyediakan kopi dan/atau teh buat kami seisi kantor ini, menyapu dan mengepel lantai, membersihkan kaca, dll (terimakasih banyak bu Ayu!). Dan aku pikir dialah yang paling sehat diantara semua penghuni kantor yang hanya 12 ekor ini (6 perempuan dan 6 laki-laki! Gender balance, kan? Dengan top decision maker seorang perempuan. See...). Bayangin, dalam waktu sehari dia bisa naik turun tangga dari lantai 1 ke lantai 3 sebanyak 10-15 kali mungkin. Dan tak sedikitpun dia terlihat ngos-ngosan. Coba aku yang disuruh begitu, kujamin 2 kali aja aku sudah tepar. Selain itu rasanya dia juga yang paling jarang mengambil cuti. Dia hanya serius ambil cuti kalau ada upacara agama saja. Selebihnya, dia nggak cinta cuti. Katanya, cutinya tahun lalu saja masih sisa sekian hari hangus, sementara yang lain pada kekurangan hari cuti, termasuk saya. Oh bu Ayu, andai saja sisa hari cuti ibu bisa disumbangin ke saya….
“Ngapain saya di rumah kalau saya cuti?” Pertanyaan yang aku nggak bisa jawab tentu saja.
Suatu hari, aku mendapati bu Ayu dengan suara yang lain dari biasanya: suara serak mau flu. Dan ini sebetulnya bukan yang pertama kali aku mendapati bu Ayu dalam keadaan begitu. Dan bukan pertama kalinya pula aku bilang ke bu Ayu supaya istirahat aja di rumah. Sepertinya hanya ketika bu Ayu sakit yang nggak kuat dia tahan saja dia baru mau ambil cuti sakit (ah, coba aku yang diminta untuk istirahat di rumah saja, langsung kuiyakan dengan senang hati tanpa tunggu ‘perintah’ kedua). “Siapa nanti yang bikinin kopi mbak?”. Waduh ibu, jangan kuatir. Pertama, akan ada volunteer yang melakukan itu (mmmm… mungkin Ery atau Tono, karena yang lain kayaknya nggak bisa diharapkan dalam hal ini…). Kedua, bikin sendiri-sendiri dong…Atau ketiga, nggak usah minum kopi dulu selama ibu istirahat di rumah. Tertawa dia. Dan dari situ aku tahu, ketiga alternatifku itu nggak dia terima, meski dia nggak jawab gitu. Bu Ayu tetep aja bekerja….
“Saya di rumah juga nggak bisa istirahat nanti, mbak. Malah lebih capek, kerjaan lebih banyak…” Oh my God! Jawaban spontan itu mengingatkan aku pada jutaan perempuan lain. Dan dalam kadar tertentu, akupun sebagai perempuanpun sesungguhnya juga mengalami apa yang dikatakan bu Ayu. Kalau ada di rumah, mana sempat perempuan bisa duduk? Tapi bu, kalau ibu kerja di kantor ini, nanti habis dari kantor bukannya ibu masih harus ngerjain semua kerjaan rumah yang siangnya nggak bisa dikerjakan karena ibu kerja di kantor ini?
Aku sangat berharap bu Ayu (dan berjuta-juta ‘bu Ayu lain’) menjawab gini, “Tentu saja tidak. Saya dan suami saya yang juga kerja di kantor lain, akan bareng-bareng ngerjain semua kerjaan rumah yang kami tinggal selama kami kerja di luar rumah”. Tentu saja harapanku itu masih jauh dari kenyataan. Oh wonderful world…when are you coming?
Saturday, 31 May 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment