(ketika bulan sedang bundar)
Sepi mulai mengintip malam. Matanya tertuju pada setumpuk CD. Dipilihnya satu, untuk menghadapi sepi. Entah kenapa, pilihannya jatuh pada “Rhythms of Reformation”. Dan entah kenapa juga, irama perkusi itu kemudian terasa seperti merayu tubuhnya untuk berbaur. Ia tak tahan. Maka perlahan-lahan tubuhnya pun jatuh dalam rayuan itu. Jadilah malam itu dia menari dalam pelukan irama perkusi. Sendiri. Disaksikan bulan purnama, perasaannya, dan seorang sahabat terdekatnya tentu saja. Dia bebaskan setiap bagian tubuhnya bergerak menyentuh setiap nada yang menghentak. Dan dia biarkan hentakan-hentakan itu membelai setiap bagian tubuhnya. Bergeser, berputar, bergoyang, dan meliuk, begitulah mereka menyatu dalam sebuah moment yang berlangsung selama 48 menit 22 detik berisi Beluk Opening, Premordial Dance, Uhang Jaeuh, Rajah for the Quantum Tribes, The Pine Crescent Rhythm part 1, The Pine Crescent Rhythm part 2, Tambo Cie’, Tareek Pukat, Doger Manusia, Rhythms of Reformation.
(dan aku merasa, sepertinya bukan dia yang mengikuti irama perkusi itu, tapi irama perkusi itulah yang mengikuti seluruh geraknya. Atau…ah, mereka saling mengikuti).
Keringat membasahi tubuhnya, bersenyawa dengan malam. Dan dia seperti menemukan orgasmenya. Sesungguhnya ia heran, bagaimana mungkin dia bisa menari begitu apa adanya dalam kepasrahan yang indah seperti itu. Belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dan tak pernah juga sebelumnya dia menari. Apalagi menari untuk melepaskan rasa yang begitu menyesakkan dada (hhhmmm). Rasa yang maha dahsyat yang berasal dari dari dasar hatinya dalam sebuah rentang waktu yang tak bisa dibilang pendek. Terasa sentimentil dan picisan, barangkali. Tapi begitulah yang terjadi.
Sungguh tak enak menyimpan rasa yang begitu tumpah ruah, begitu dia pernah bilang. Tapi dia juga tak tahu kemana lagi mesti menumpahkan rasa itu… Berkali-kali sudah ia coba untuk menuangkan rasa itu ke dalam gelas, cangkir, mangkok, dan piring, tapi rasa itu masih terus saja mengalir deras tanpa pernah bisa ia bendung….
*Percussion pieces by Krakatau
Sunday, 29 June 2008
Sunday, 15 June 2008
beyond loneliness
Seperti dituturkan oleh perempuan itu* pada suatu hari…
“hanya tubuh yang tertinggal
kosong, dingin, beku.…
(feeling lonely?)
(no! It’s beyond loneliness)
ada yang diambilnya dalam berisik
dan ada yang kugenggam dalam diam
malam itu aku berharap pagi tak akan pernah datang”
*suatu saat aku akan bercerita tentang perempuan itu
“hanya tubuh yang tertinggal
kosong, dingin, beku.…
(feeling lonely?)
(no! It’s beyond loneliness)
ada yang diambilnya dalam berisik
dan ada yang kugenggam dalam diam
malam itu aku berharap pagi tak akan pernah datang”
*suatu saat aku akan bercerita tentang perempuan itu
Thursday, 12 June 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)