Wednesday, 17 September 2008
Sunday, 7 September 2008
kepiting di hutan bakau
“Mbak, nanti kalau lihat kepiting yang capitnya merah sebelah, itu tandanya dia jantan. Capit merah itu untuk bertarung memperebutkan betina, mbak. Mereka bertarung sampai capit merah salah satunya putus. Capit itu nanti akan tumbuh lagi.” begitu kawanku menjelaskan.
Oh my God, untuk bertarung sampai capit putus?? Duh, mengerikan sekali, pikirku. “Kenapa mesti bertarung? Bukannya mereka bertiga, dua jantan dan satu betina itu, bisa bernegosiasi saja?” Kawanku ketawa ngakak, sambil menyebutku “ada-ada saja!”.
Kutanya lagi, apakah kalau betinanya dua jantannya satu, betina itu kemudian juga bertarung. Jawabnya, “Nggak. Betina itu nggak bertarung.”
Ah, jantan, jantan... Jantan memang...ah!!
Sepotong obrolan itu terjadi pada suatu pagi di sebuah gazebo besar yang menjadi ujung jalur tracking ini, setelah kami berjalan sepanjang 2,5 km di tengah area hutan bakau punya Departemen Kehutanan. Dari gazebo ini, kamu akan lihat Nusa Lembongan di kejauhan. Di arah kanan depan, kamu akan sering lihat pesawat membubung yang barusan lepas landas. Kalau air laut sedang pasang, gazebo ini ada di tengah laut. Wow!
Area hutan bakau ini diklaim seluas 200 hektar! Adalah JICA, yang awalnya dulu menginisiasi pengembangan hutan bakau ini dan membuat jalur tracking dari kayu dan beberapa gazebo di tengahnya. Dua dari gazebo yang ada disana dibuat tinggi, untuk bird watching. Aku ingat, di tengah perjalananku, seekor burung sempat melintas. Tak terlalu besar, berawarna biru, dan cantik sekali. “Nah, itu burung yang dipakai jadi lambangnya organisasi ‘Blue...apa gitu aku lupa namanya,” kawanku menjelaskan. Hhmm asyik juga ya kalau bird watching...
Area ini sebetunya memiliki dua jalur tracking, tapi sekarang tingal satu. Yang satu sudah beberapa lama ditutup karena rusak, dan tak ada yang ‘bertanggung jawab’ untuk memperbaikinya. Biasa, saling lempar bola diantara bagian-bagian dalam departemen ini, pura-pura bego bahwa ini ‘bukan tanggung jawabku’. Perihal kerusakan ini, di depan ketika mau masuk jalur tracking ini sudah ada peringatan tentang beberapa hal yang gak boleh dilakukan sepanjang jalur ini. Salah satunya adalah bersepeda. Eh, tetep aja...ditengah jalur ini, aku berpapasan dengan beberapa orang yang dengan santainya bersepeda. “Lho...kok bersepeda disini...kan udah ada peringatan nggak boleh...??!!”. Kawanku langsung menyambung, “Pak, nggak boleh bersepeda disini karena akan memperpendek umur jalur tracking ini!” Mereka senyam-senyum tanpa rasa bersalah. Mata mereka itu kalau kamu tahu, seperti bilang, “bukankah peraturan dibuat untuk dilanggar??” Ah, Indonesia...
O ya, kalau kamu memasuki kompleks “Mangrove Information Center” dimana hutan bakau ini berada, kamu akan mendapati sebuah papan peringatan: “Kurangi kecepatan. Banyak biawak melintas”. Oh my God, ‘buaya kecil’ itu... terakhir aku melihatnya di Calang, Aceh, sekitar setahun yang lalu. Di pinggir pantai pula, pagi-pagi ketika aku lagi terkagum-kagum dengan indahnya pantai di depan Guest House itu, tiba-tiba tu makhluk merayap dari bebukitan menuju pantai. Bikin ‘jantungku berdebar, berdebar hingga lebih kencang, seperti genderang mau perang’ (tapi bukan karena ingin bercinta sih...hehe).
Anyway, harus diakui, jalan-jalan pagi (banget) ditengah hutan bakau itu sungguh sangat menyegarkan, setelah sekian lama tubuh ini kaku tak digerakkan. Kubiarkan sinar matahari pagi mengekpos tubuhku habis-habisan. Hhmmm, where did my morning sunshine go?
Dan sejak hari itu, aku memutuskan menjadi pengunjung setia hutan bakau itu, yang hanya berjarak sekitar 5 menit bermotor dari kost-ku.
Oh my God, untuk bertarung sampai capit putus?? Duh, mengerikan sekali, pikirku. “Kenapa mesti bertarung? Bukannya mereka bertiga, dua jantan dan satu betina itu, bisa bernegosiasi saja?” Kawanku ketawa ngakak, sambil menyebutku “ada-ada saja!”.
Kutanya lagi, apakah kalau betinanya dua jantannya satu, betina itu kemudian juga bertarung. Jawabnya, “Nggak. Betina itu nggak bertarung.”
Ah, jantan, jantan... Jantan memang...ah!!
Sepotong obrolan itu terjadi pada suatu pagi di sebuah gazebo besar yang menjadi ujung jalur tracking ini, setelah kami berjalan sepanjang 2,5 km di tengah area hutan bakau punya Departemen Kehutanan. Dari gazebo ini, kamu akan lihat Nusa Lembongan di kejauhan. Di arah kanan depan, kamu akan sering lihat pesawat membubung yang barusan lepas landas. Kalau air laut sedang pasang, gazebo ini ada di tengah laut. Wow!
Area hutan bakau ini diklaim seluas 200 hektar! Adalah JICA, yang awalnya dulu menginisiasi pengembangan hutan bakau ini dan membuat jalur tracking dari kayu dan beberapa gazebo di tengahnya. Dua dari gazebo yang ada disana dibuat tinggi, untuk bird watching. Aku ingat, di tengah perjalananku, seekor burung sempat melintas. Tak terlalu besar, berawarna biru, dan cantik sekali. “Nah, itu burung yang dipakai jadi lambangnya organisasi ‘Blue...apa gitu aku lupa namanya,” kawanku menjelaskan. Hhmm asyik juga ya kalau bird watching...
Area ini sebetunya memiliki dua jalur tracking, tapi sekarang tingal satu. Yang satu sudah beberapa lama ditutup karena rusak, dan tak ada yang ‘bertanggung jawab’ untuk memperbaikinya. Biasa, saling lempar bola diantara bagian-bagian dalam departemen ini, pura-pura bego bahwa ini ‘bukan tanggung jawabku’. Perihal kerusakan ini, di depan ketika mau masuk jalur tracking ini sudah ada peringatan tentang beberapa hal yang gak boleh dilakukan sepanjang jalur ini. Salah satunya adalah bersepeda. Eh, tetep aja...ditengah jalur ini, aku berpapasan dengan beberapa orang yang dengan santainya bersepeda. “Lho...kok bersepeda disini...kan udah ada peringatan nggak boleh...??!!”. Kawanku langsung menyambung, “Pak, nggak boleh bersepeda disini karena akan memperpendek umur jalur tracking ini!” Mereka senyam-senyum tanpa rasa bersalah. Mata mereka itu kalau kamu tahu, seperti bilang, “bukankah peraturan dibuat untuk dilanggar??” Ah, Indonesia...
O ya, kalau kamu memasuki kompleks “Mangrove Information Center” dimana hutan bakau ini berada, kamu akan mendapati sebuah papan peringatan: “Kurangi kecepatan. Banyak biawak melintas”. Oh my God, ‘buaya kecil’ itu... terakhir aku melihatnya di Calang, Aceh, sekitar setahun yang lalu. Di pinggir pantai pula, pagi-pagi ketika aku lagi terkagum-kagum dengan indahnya pantai di depan Guest House itu, tiba-tiba tu makhluk merayap dari bebukitan menuju pantai. Bikin ‘jantungku berdebar, berdebar hingga lebih kencang, seperti genderang mau perang’ (tapi bukan karena ingin bercinta sih...hehe).
Anyway, harus diakui, jalan-jalan pagi (banget) ditengah hutan bakau itu sungguh sangat menyegarkan, setelah sekian lama tubuh ini kaku tak digerakkan. Kubiarkan sinar matahari pagi mengekpos tubuhku habis-habisan. Hhmmm, where did my morning sunshine go?
Dan sejak hari itu, aku memutuskan menjadi pengunjung setia hutan bakau itu, yang hanya berjarak sekitar 5 menit bermotor dari kost-ku.
Subscribe to:
Posts (Atom)