Thursday, 4 December 2008

"Laskar Pelangi", suatu siang...

Selalu ada bagian yang ‘alot’, bahkan kadang-kadang sangat alot manakala kita memfasilitasi sesi-sesi gender, karena selalu berhadapan dengan mereka yang masih berkutat dengan pandangan bahwa yang namanya traditional gender roles-nya perempuan dan laki-laki itu adalah sebuah kodrat, haram untuk diotak-atik. Tapi justru itulah tantangan (dengan demikian, semakin alot semakin menantang!). Seperti halnya siang itu, 2 Desember 2008, dengan 11 orang (3 perempuan, 8 laki-laki) yang konon katanya community organizer dari bagian Community Development sebuah perusahaan (wow!). Mereka sedang berada di Jogja selama 14 hari untuk sebuah pelatihan. Dari 14 hari itu, 7 hari akan mereka lewatkan untuk live-in di sebuah komunitas, begitu katanya.

Tak ada waktu panjang untuk persiapan, karena panggilan fasilitasi kali ini adalah ‘emergency call’, menggantikan seorang kawan yang anaknya baru masuk rumah sakit. Dia datang persis 12 jam sebelum ‘manggung’ . Empat sesi. Dan kuiyakan. Aku hanya sempat bongkar file-file lama bawaan dari Oxfam dulu dan mengkonekkanya dengan cara-cara penyampaian informasi yang kumiliki (jelas, Inspirit punya andil sangat besar disini. Terimakasih, dan hidup Inspirit!). Selebihnya adalah improvisasi. Dan...click!

Jalan sudah. Sampailah kebagian yang alot itu... sebuah bagian yang berisi penerimaan dan penolakan sekaligus. Mereka menerima adanya realita dalam komunitas (yang mereka potret sendiri melalui ’gender clock’ di sesi 1) mengenai jam kerja perempuan lebih panjang, pekerjaan perempuan yang lebih beragam dalam periode waktu yang sama, waktu rileks laki-laki yang lebih panjang, pekerjaan-pekerjaan domestik (yang notabene digeluti oleh perempuan) yang tak dianggap sebagai pekerjaan, pekerjaan laki-laki lebih dihargai dsb. Secara eksplisit mereka mengakui ada ketidakadilan disana. Akan tetapi mereka sekaligus melakukan penolakan dengan mengatakan, “Ya... memang seperti itu situasinya di banyak tempat. Sudah menjadi budaya begitu, sudah turun temurun mereka lakukan begitu. Kalau nanti kita kita ubah...wah, jangan-jangan parang bisa menancap di kepala kita...” (Ah, kawan...bukankah itu ‘hanya’ soal cara kita mengajak mereka merasakan ketidakadilan yang ada dan kemudian mengajak mereka untuk mengubah keadaan?).

Begitulah, agak panjang diskusi berlangsung seputar itu. Dan “sudah menjadi budaya” memang selalu menjadi argumentasi, sejak dulu, bahkan dulu sekali.

“Kalau sudah menjadi budaya, sementara kita lihat itu tidak adil, apakah lalu tidak boleh dan tidak bisa kita ubah?”, kuajukan sebuah pertanyaan. Pelan, tapi dalam.

Hening. Tak ada suara. Sepertinya, pertanyaan itu berhasil mengaduk-aduk rasa mereka. Aku merasakan itu...

Dan tiba-tiba aku langsung konek dengan lagu itu...ya, lagu itu: Laskar Pelangi. Aku ajak mereka mendengarkan lagu itu (mendengarkan saja!). Di menit selanjutnya, “Laskar Pelangi” pun mengalun dalam ruangan yang tak besar itu...

Larut dalam lagu itu. Kutatap mereka satu per satu, mencoba menyelami apa yang terjadi. Aku mulai merasakan aliran energi yang luar biasa dahsyat yang tercermin dari sinar mata mereka. Sangat jauh berbeda dengan sorot mata mereka tadi. Sungguh mati, beberapa detik aku merinding menyaksikan aliran perubahan itu...

Lagu berakhir. Kami seperti berada dalam sebuah atmosfir baru nan sangat teduh. Tak perlu kata-kata, 12 pasang mata yang ada dalam ruangan itu sudah bicara.

Masih dalam rangka menjawab soal perubahan itu, aku paparkan sebuah slide berisi penggalan surat Mandela kepada Obama atas kemenangannya, yang kukutip dari Harian Kompas, 6 Novmber 2008: “Sedangkan pemimpin kulit hitam pertama Afrika Selatan, Nelson Mandela, mengatakan dalam suratnya kepada Obama, kemenangan Obama memperlihatkan bahwa tiap orang harus berani bermimpi untuk mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik”.

(O ya, aku sekarang rajin ngumpulin kutipan dari manapun yang kutemukan, yang menyentuh feelingku, yang menurut feelingku juga, suatu saat bisa kupakai sebagai ‘alat bantu’).

Kembali ke pertanyaan tadi. Begitulah, aku tak perlu menjawab apakah kalau “sudah menjadi budaya”, ketidakadilan gender itu tak bisa kita ubah. “Laskar Pelangi” dan surat Mandela itu sudah menjawabnya. Dan 2 sesi yang tersisa selanjutnya menjadi sangat mudah kami jalani....

Siang itu, aku mendapat pengalaman batin yang cukup dalam...

No comments: